“Nema Tafai”: Pulang ke Akar, Melangkah ke Dunia
United Nations, Geneva-Switzerland 2025. (Gambar Bertha Samponu).
Oleh Paulus Laratmase
–
“Nema Tafai” bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pernyataan sikap, sebuah kesadaran identitas yang lahir dari tanah Yamdena di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Dalam bahasa Yamdena, nema dan tafai. Nema artinya “agar”, “Tafai” artinya “mengetahui” menyiratkan perjalanan pulang ke akar, ke nilai, ke asal, sekaligus kesiapan untuk melangkah keluar, menyeberangi batas geografis dan kultural menuju dunia yang lebih luas. Spirit inilah yang hidup dalam perjalanan Bertha Aboyenan Ndityair Samponu, seorang perempuan muda dari timur Indonesia yang menapaki jalan advokasi, pendidikan, dan perdamaian global tanpa meninggalkan akar budaya lokalnya.

Perjalanan Bertha secara formal dimulai di Universitas Pattimura Ambon pada periode 2017–2021. Di kampus inilah ia menempuh pendidikan Sastra Inggris, bukan saja disiplin akademik, melainkan sebagai alat untuk membuka jendela dunia. Sejak 2018, bahkan sebelum menyelesaikan studinya, Bertha telah memulai inisiatif mandiri dengan membuka kelas kursus Bahasa Inggris bernama Beta Course. Kursus ini bukan hanya ruang belajar bahasa, tetapi juga ruang pemberdayaan, tempat anak-anak muda Ambon membangun kepercayaan diri, keberanian berbicara, dan mimpi melampaui batas lokal.
Kesadaran sosial Bertha tumbuh seiring keterlibatannya dalam berbagai organisasi aksi dan advokasi isu sosial di Ambon sejak 2019. Ia tidak berdiri di menara gading intelektual, tetapi memilih turun ke ruang-ruang konkret: mendengar cerita ketidakadilan, menyaksikan langsung ketimpangan, dan belajar bahwa perubahan tidak lahir dari retorika semata, melainkan dari keberpihakan. Ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020, situasi krisis justru menjadi ruang pembelajaran baru baginya. Bekerja dan belajar secara daring, Bertha memanfaatkan teknologi dan jejaring global, yang kemudian mempertemukannya dengan IMCS Pax Romana, sebuah gerakan internasional mahasiswa Katolik yang berfokus pada keadilan, perdamaian, dan martabat manusia.
Momentum penting terjadi pada 10 Oktober 2022. Bertha terpilih sebagai Koordinator Regional Asia Pasifik untuk Pax Romana – International Movement of Catholic Students (IMCS) dan berangkat ke Manila, Filipina, tempat kantor regional organisasi tersebut berada, dengan kantor pusat di Paris, Prancis. Penunjukan ini menjdi pengakuan personal dan kepercayaan besar terhadap suara anak muda dari Indonesia timur untuk memimpin percakapan global. Dalam perannya, Bertha mengemban tanggung jawab memberdayakan kaum muda dalam isu perdamaian dan lingkungan, masyarakat adat, pemberdayaan perempuan, serta hidup dalam keberagaman.
Sebagai koordinator regional, Bertha melakukan pelatihan, kunjungan kerja, dan pendampingan ke berbagai negara anggota di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur. Ia bertemu dengan para pemimpin gereja, uskup dan cardinal, serta petinggi negara, bukan dalam posisi seremonial, melainkan sebagai bagian dari advokasi dan dialog internasional. Di ruang-ruang ini, ia membawa cerita anak muda, masyarakat adat, dan kelompok rentan dari berbagai penjuru Asia ke meja perundingan global.

Peran Bertha juga membawanya ke forum-forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia hadir dan menyuarakan isu pemberdayaan anak muda di UNESCAP Bangkok hingga forum internasional di Geneva, Swiss. Di luar PBB, Bertha turut ambil bagian dalam Forum Liberasi Teologi Sedunia di Nepal (2024) sebagai perwakilan pemimpin muda Katolik, serta menjadi pembicara dalam Seminar Internasional untuk Sinode di Keuskupan Suwon, Korea Selatan (2024). Dalam setiap forum, ia konsisten mengangkat isu hak asasi manusia, lingkungan hidup, masyarakat adat, dan perdamaian sebagai agenda moral yang tak bisa ditawar.
Hingga kini, Bertha telah mengunjungi sekitar 21 negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Namun perjalanan itu tidak membuatnya tercerabut dari akar. Ia terus menulis, merefleksikan, dan membagikan pengalamannya. Tulisan-tulisan inspiratif tentang perjalanan hidupnya dalam bahasa Indonesia dapat dibaca di nematafai.blogspot.com, sementara studi opini dan analisis isu sosial dalam bahasa Inggris tersedia di abatberth.com. Menulis, bagi Bertha, adalah cara lain untuk pulang, pulang ke nurani, sekaligus mengajak orang lain melangkah bersama.
“Nema Tafai” adalah potret generasi muda yang berani bermimpi global tanpa kehilangan pijakan lokal. Dalam diri Bertha Aboyenan Ndityair Samponu, kita melihat bahwa pulang ke akar bukanlah gerak mundur, melainkan fondasi kokoh untuk melangkah ke dunia. Sebuah perjalanan yang masih panjang, namun telah memberi inspirasi bahwa dari timur, suara perdamaian dapat bergema ke panggung internasional.