May 26, 2026

Pangkalan Pramuka MAN Kota Sawahlunto Tahun 2025:  Upacara Pembukaan Penerimaan Tamu Ambalan

SAWAHLUNTO, 9 Agustus 2025 Di tengah aroma pagi yang masih sarat embun, halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto menjadi saksi bisu atas upacara sakral yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Pramuka Penegak: Penerimaan Tamu Ambalan. Sebuah prosesi adat organisasi yang bukan sekadar seremoni, namun juga gerbang peralihan jiwa-jiwa muda menuju dunia penempaan karakter dan pengabdian.

Langit Sawahlunto pagi itu memayungi semesta dengan kelembutan biru. Di bawah tiang bendera yang tegak menjulang, sesuai Laporan pelaksana Sulyadi, S.Pd, 133 siswa  wajah muda berdiri dalam barisan yang rapi, para peserta didik baru kelas X Fase E yang akan resmi menjadi bagian dari Ambalan Pramuka Penegak di bawah panji MAN Kota Sawahlunto. Mata mereka menyimpan sejuta harapan, dada mereka bergetar oleh semangat, dan langkah mereka menyusuri jalan kehormatan yang telah dibuka oleh para pendahulu.

Dafril Tuanku Bandaro Kepala Madrasah, Membuka Gerbang Peradaban Baru

Upacara yang digelar dengan khidmat ini dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah MAN Kota Sawahlunto, Dafril, Tuanku Bandaro, yang hadir sebagai pembina upacara. Dalam balutan seragam dinas Pramuka, beliau berdiri tegak penuh wibawa, memancarkan aura seorang pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Dalam amanatnya yang menggugah, Dafril mengibaratkan proses menjadi Penegak laksana menempuh perjalanan dari mata air ke muara penuh rintangan, namun menjanjikan kematangan. Ia berkata:

“Menjadi bagian dari Ambalan bukan hanya tentang mengenakan setangan leher atau menapak jejak ke bumi dalam bentuk barisan. Ini adalah panggilan jiwa. Kalian bukan lagi anak-anak yang mencari-cari arti, tapi remaja yang siap menempa diri dengan semangat, kedisiplinan, dan ketulusan,  Dengan berlatih Pramuka akan lahir generasi  emas Tahun 2025.”

Pidato beliau tidak sekadar nasihat, tapi juga narasi perjuangan. Ia mengajak para peserta didik baru untuk menjadikan Pramuka sebagai kawah candradimuka: tempat menempa watak, mengasah kepemimpinan, dan menumbuhkan cinta tanah air.

Prosesi puncak berlangsung saat para tamu ambalan melewati gapura kehormatan, mengenakan atribut penegak untuk pertama kalinya yang di kalungkan lansung Kamabigus MAN Kota Sawahlunto. Simbolisasi ini disambut tepuk tangan gemuruh dari para kakak ambalan. Mereka lalu membacakan Janji Trisatya dan Dasa Dharma, diikuti oleh penyematan tanda ambalan dan penyerahan simbolik tongkat estafet semangat.

Hening sejenak menyelimuti halaman ketika lantunan lagu Indonesia Raya dan Himne Pramuka menggema perlahan. Tak sedikit mata yang berkaca-kaca—bukan karena kewajiban, tapi karena kebanggaan. Sebuah momen spiritual yang menyatukan mereka dalam satu ikatan: Pramuka Penegak Ambalan Adinegoro untuk pria dan Rahmah El Yunisiah perempuan

Penerimaan tamu ambalan bukanlah agenda seremonial semata. Ia adalah bagian dari pembinaan karakter, regenerasi nilai, dan warisan budaya pendidikan yang telah lama dijaga di MAN Kota Sawahlunto. Kegiatan ini melibatkan seluruh unsur madrasah seluruh Tenaga Pendidik dan Kependidikan  hingga pengurus OSIS serta siswa Kelas XI dan kelas XII, yang bersatu dalam satu nafas: mendidik dengan hati.

“Hiduplah seperti api yang membara dalam diam, tetapi memberi cahaya bagi sekeliling. Jadilah Penegak yang tidak hanya kuat raga, tapi juga arif dalam bertindak.” ujar Dafril Tuanku Bandaro

Upacara pun ditutup dengan doa bersama. Matahari telah naik perlahan, menyinari halaman madrasah yang kini penuh semangat baru. Langkah para tamu ambalan terasa lebih tegap dari sebelumnya. Mereka bukan lagi hanya peserta didik baru, tapi telah menjadi bagian dari sejarah yang terus menulis dirinya sendiri.

Dari Kota Sawahlunto yang menyimpan ribuan kisah perjuangan masa silam, kini lahir lagi generasi-generasi tangguh yang siap meneruskan estafet nilai. Dan di bawah bimbingan tokoh pendidik seperti Dafril, mereka tidak hanya diajarkan untuk tahu, tapi juga untuk bertindak, berfikir, dan merasa naluri yang jernih.

 

Kontributor : Nofri Hendra

Editor : DTB