May 26, 2026

Pastor Pius Heljanan MSC dan Makna Pengorbanan yang Tulus

IMG-20260526-WA0016

 
http://suaraanaknegerinews.com | Pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Selasa, 26 Mei 2026, berjalan tenang seperti biasanya. Udara lembut dari pesisir masih terasa menyelimuti kawasan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran ketika umat mulai memulai aktivitas harian mereka.

Di tengah suasana pagi itu, Pastor Pius Heljanan menyampaikan sebuah refleksi sederhana namun menyentuh tentang makna pengorbanan, ketulusan, dan kesetiaan dalam hidup beriman.

Bagi Pastor Pius Heljanan MSC, hidup rohani tidak semestinya dijalani dengan semangat transaksi untung dan rugi. Ia mengingatkan bahwa banyak orang terkadang masih menempatkan iman sebagai jalan untuk mengejar balasan duniawi semata. “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau,” kutip Pastor Pius mengawali refleksinya dari Injil Markus 10:28-31.

Dari kutipan itu, ia mengajak umat memahami bahwa pengorbanan demi Tuhan tidak pernah sia-sia.

Menurutnya, setiap orang yang menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup akan memperoleh balasan, bukan hanya dalam bentuk materi, melainkan terutama kasih dan pemeliharaan Tuhan. “Terkadang dalam hidup beriman kita masih memiliki sifat transaksional atau berkalkulasi untung rugi dalam melayani dan berbuat baik,” ujarnya.

Ia menilai, tidak sedikit orang berbuat baik atau menjalankan perintah Tuhan dengan harapan memperoleh imbalan tertentu seperti kesehatan, jabatan, pasangan hidup, status sosial, maupun harta benda.

Padahal, menurut Pastor Pius, inti dari iman bukan terletak pada apa yang diterima manusia, melainkan pada ketulusan hati dalam melayani. “Yesus menjanjikan balasan seratus kali lipat, utamanya anugerah kasih, pemeliharaan dan kelak hidup kekal,” katanya.

Refleksi itu terdengar sederhana, namun memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat yang tengah menghadapi berbagai dinamika sosial dan tantangan hidup sehari-hari.

Di tengah dunia yang semakin sering menilai sesuatu berdasarkan keuntungan dan kepentingan pribadi, Pastor Pius Heljanan MSC mengingatkan bahwa ketulusan tetap menjadi nilai yang paling berharga di hadapan Tuhan. “Yang berharga di mata Tuhan adalah orang yang tulus dalam melayani dan berbuat baik,” tuturnya.

Dari sebuah gereja kecil di Lauran, pesan itu mengalir pelan namun kuat, bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan hati tulus mungkin tidak selalu mendapat penghargaan manusia, tetapi tidak pernah luput dari perhatian Tuhan.(jk)