April 25, 2026

“NYALA DARI TIMUR: MATHILDA BATLAYERI”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA)

/1/

NYALA DARI TIMUR: MATHILDA BATLAYERI

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Dari Timur yang bersahaja,
dari peta kecil penuh rahasia terpendam,
bangkit satu nyala,
bukan dari kobaran perang,
melainkan dari pangkuan yang menolak menyerah.

Ia tak membawa lencana sejarah,
tak menggenggam nasib bangsa dalam rapat,
tetapi tubuhnya menyerap waktu
seperti tanah menyerap hujan pertama
setelah musim panjang yang tak menumbuhkan apapun.

Mathilda Batlayeri—
bukan sekedar nama wanita,
tetapi gema yang tak dicatat koran pagi,
melainkan ditulis oleh langit
ke dada orang-orang yang mengerti
bahwa menjaga kehidupan
kadang berarti berdiri sendiri,
tanpa sorak, tanpa spanduk.

Tanah itu kini menyimpan tubuhnya,
namun bukan jejaknya.
Jejak itu berpindah ke dalam kita:
ke pelupuk yang belum kering,
ke dada yang belajar arti keberanian
tanpa hingar,
tanpa gelar.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/2/

Bumi Menghafal Namanya

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ia tak berseru,
namun bumi menghafal namanya.
Tak ada berita yang cukup jernih
untuk memuat nyali,
yang ia ubah menjadi cahaya.
Tak ada puisi yang cukup dalam,
untuk menyatakan aksinya, menjangkau nyawa
yang ia peluk
di tengah desing peluru.

Ia nama,
ia suara,
ia nyala,
untuk
membela keluarga,
membela tanah air,
membela kemanusiaan,
dari tirani dunia.

/3/

DIANTARA KELOPAK FAJAR DI TANIMBAR

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di antara kelopak fajar
yang belum mekar
di Kepulauan Tanimbar,
terbit satu nama yang tak disemat,
seperti doa yang tak terucap,
namun hidup dalam hembusan setiap musim,
membangkitkan keberanian
memukau seindah
Anggrek Larat.

Ia bukan suara,
melainkan gema yang lahir
di antara diam dan keberanian—
sebuah langkah tanpa pamrih
yang menyalakan arah
bagi mereka yang kehilangan cahaya.

Bukan karena darahnya,
bukan karena pangkatnya,
melainkan karena keteguhan
yang bersetia bahkan dalam runtuh.

Dari Timur,
ia tak datang sebagai arak-arakan,
melainkan sebagai embun
yang menyentuh tanah pertiwi
dengan cinta dan ketulusan.

Maka jika tanah ini ingin menyebut satu cahaya
yang tak tergantung pada siang atau malam,
yang tak lahir dari teriak,
tetapi dari kasih yang bertahan
meski seluruh nusantara gemetar—
itulah nyala tak tersebut.
Itulah awal yang tak akan usai,
Mathilda Batlayeri,
Putri Permata Tanimbar,
yang berani mati mempertahankan harga diri bumi pertiwi,
rela berkorban untuk mereka yang dicintai
mempertaruhkan jiwa dan raga
demi hidup anak-anak bangsa
demi kemanusiaan
yang tak terbantahkan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/4/

Tak Menggenggam Dendam

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ia tak menggenggam dendam.
Hanya darah dan kasih
di kedua tangan.
Bumi menerima tubuhnya—
tapi dunia puisi menolak
menyebutnya gugur.
Karena bukan ia yang mati,
tapi mungkin dunia
yang lupa
makna
bertahan dan berjuang
untuk kemanusiaan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/5/

Nafas Cinta Kasih di Dada Dunia

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Jika keheningan mampu membaca,
ia akan mengeja nama
yang pernah berdiri di garis
di mana cinta diuji oleh kehilangan.

Bukan kisah pahlawan dengan pedang di medan perang,
bukan pahlawan diplomasi di singasana podium dan meja perundingan,
melainkan satu wujud yang memeluk gugur,
tanpa sempat mengucap salam perpisahan,
tanpa sempat menulis wasiat untuk mereka yang ditinggalkan,
demi mempertahankan kemanusiaan.

Mathilda Batlayeri,
Matelda Batlayare,
atau siapa pun nama kesayangan di tanah kelahiranmu,
adalah rahim yang menolak kehilangan makna,
adalah jiwa dan tubuh yang memilih melawan dan bertahan,
ketika dunia dan ketakutan menyeru mundur dari kemanusiaan.

Engkau tak meninggalkan pesan khusus,
tapi setiap jengkal tanah di bumi Kurau – Kalimantan
mengerti:
kadang sejarah
tidak ditulis oleh mereka yang hidup,
tetapi oleh mereka yang gugur
demi hidup yang lebih luas dari dirinya.

Maka,
bila suatu hari langit kehilangan warna,
ingatlah bahwa pernah ada seseorang
yang menjahit langit kembali
dengan benang sunyi,
dan menjadikan keberanian
tak hanya kata benda,
melainkan napas cinta kasih
di dada dunia.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/6/

TAK GENTAR DAN TAK RAGU

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Anak-anakmu tewas di depan matamu,
satu masih berdenyut dalam rahimmu.
Tapi engkau berdiri.
Tanpa gender,
tanpa pamrih.

Hanya cinta di hatimu,
yang menolak ketakutan,
menolak dibungkam
oleh waktu.

Engkau bangkit,
maju,
melawan.
Tak gentar,
tak ragu,
dengan desing peluru,
karena kebenaran yang engkau tuju.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/7/

LELEMUKU DAN MATHILDA BATLAYERI

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Aku Anggrek Larat.
Aku Lelemuku.
Bukan untuk dipetik aku dilahirkan,
tapi untuk bertahan di batu—
menolak menjadi bunga taman
yang dibuai matahari tanpa luka.

Aku tumbuh dari yang menolak:
dari cadas yang kering,
dari tanah yang enggan memberi lebih,
dari sunyi yang menjahit luka
menjadi makna abadi.

Aku hidup,
bukan untuk dipuji,
melainkan menjadi isyarat
bagi mereka yang mengerti:
bahwa keindahan paling jujur
adalah yang tumbuh
di ruang yang tak pernah menyambut.

Aku Lelemuku.
Dan aku mengagumimu,
Mathilda Batlayeri,
Permata Maluku, Putri Tanimbar
yang tak bersayap,
namun terbang
dalam keberanian yang
tak mudah dituliskan.

Engkau Bhayangkari,
ibu dari tiga anak
yang tertidur di pelukmu
saat maut datang
tanpa memberi aba-aba.

Rahimmu adalah medan juang,
dadamu pelindung sunyi.
Dan dari mulutmu yang tak berseru,
meluncur teriakan
yang menembus dentum peluru.

Hari itu,
kau angkat senjata
bukan untuk membalas,
melainkan untuk menjaga
sisa detak yang belum sempat
menyebutmu “ibu”.

Satu anak menanti dilahirkan
di antara detik yang gamang—
mungkin tak pernah tiba.
Namun kau tak menawar takdir.
Kau berdiri:
seperti aku, Lelemuku—
anggun dalam kekukuhan,
tegar dalam keberanian
yang tak mengenal tunduk.

Tanah Kurau tidak menangis.
Ia menyimpanmu dalam diam,
seperti bumi menyimpan benih
yang tak mekar demi musim,
tetapi demi makna
yang melampaui waktu.

Engkau bukan hanya istri seorang abdi negara.
Engkau adalah lambang
perlawanan yang tak berteriak,
keberanian yang tak menginginkan nama,
kemanusiaan yang tak meminta
apa pun dari sejarah—
kecuali kebenaran.

Dan aku, Lelemuku,
tidak meminta disaksikan.
Aku adalah doa dari batu:
tak bersuara,
namun didengar waktu,
dihirup sunyi,
dipercaya jiwa-jiwa
yang menolak menyerah.

Jika dunia lupa
cara menyebut keberanian,
kami akan menyebut namamu:
Mathilda Batlayeri—
seperti kami menyebut
nama kami sendiri,
Lelemuku:
yang mekar bukan untuk dilihat,
melainkan untuk menguatkan
segala luka
yang masih berjuang
untuk disembuhkan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/8/

Ia Tak Berbalik

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Langkahnya tak menoleh—
cinta di dadanya
lebih nyaring dari peluru.
Ia tak berbalik melawan tirani itu.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/9/

GUGUR DAN MELEBUR MENJADI SAJAK KEBERANIAN

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di Kurau – Kalimantan
di mana senyap menggurat sejarah dengan bayang-bayang,
namamu bangkit dari debu dan darah—
Mathilda Batlayeri
Engkau perempuan,
tak sekadar tubuh dan air mata.
Engkau adalah tekad
yang menolak dikubur dalam diam.

Pulau Larat menyaksikan kelahiranmu,
Kepulauan Tanimbar mengasuh jiwamu,
Maluku menitipkan nasib anak bangsa di tanganmu,
dan tanah Kurau – Kalimantan mengantarkanmu mempertahankan ibu pertiwi.

Engkau tak menggenggam tameng,
hanya cinta dan nyali dalam pelukan.
Tiga anakmu gugur di depan matamu,
satu lagi masih berdenyut
dalam rahimmu yang tetap berdiri meski dunia runtuh.

Apa itu keberanian,
jika bukan ketika seorang ibu memilih bertahan,
bukan hanya demi hidupnya—
melainkan demi makna hidup yang lebih luas dari dirinya sendiri?

Mathilda Batlayeri,
Engkau tak meninggalkan wasiat,
namun tanah mencatat tapakmu,
dan langit menyulam namamu
di antara gugus bintang kemanusiaan.

Bukan hanya Bhayangkari,
bukan hanya ibu,
bukan hanya korban,
engkau adalah palung terdalam dari keberanian perempuan
yang berdiri di garis tembak
bukan dengan kebencian,
tetapi dengan cinta yang tak menyerah.

Di dunia yang sering memekakkan,
Mathilda menjadi gema—
bukan hanya untuk dikenang,
tapi untuk dibangkitkan
dalam dada kita yang masih memilih diam.

Bumi Kurau – Kalimantan mungkin telah sunyi,
tetapi tidak hatinya.
Ia kini rumah bagi nyala
untuk menumbuhkan cinta bangsa.

Mathilda Batlayeri
Putri Permata Tanimbar –
Tak hanya kebanggaan Maluku
Nusantara berseru untukmu
Engkau perempuan pemberani,
pemberi tauladan,
meski engkau gugur,
jiwamu melebur,
menjadi sajak
yang ditulis oleh
keberanian itu sendiri.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/10/

Untuk Kemanusian

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ia berdiri—
bukan sebagai perempuan,
tapi nyala
yang tak bisa dipadamkan
untuk kemanusiaan

/11/

NAFAS TERAKHIRMU YANG MENGGETARKAN

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di Tugu Tanah Kurau – Kalimantan
udara sepi dan senyap—
tapi sejarah tak tidur
menjadi saksi atas aksi
heroikmu
yang mengguncang nyali menjadi nyala.

Di Samlauki, Pulau Yamdena, namamu diabadikan
sebagai bandara kebanggaan anak bangsa
di Kepulauan Tanimbar

Mathilda Batlayeri,
begitu engkau dikenal,
Matelda Batlayare,
begitu nama aslimu,
Bukan sekadar nama yang gugur dalam berita,
melainkan mantra dari timur Nusantara,
yang tubuhnya terhempas peluru,
namun jiwanya menulis babak baru
dalam kitab keberanian manusia.

Putri Asli Tanimbar – Tanah Maluku
tak hanya melahirkan darah—
tapi perlawanan.
Di dadamu: denyut Maluku,
di lenganmu: bayang anak-anak
yang gugur sebelum sempat tumbuh.
Namun tak satu pun luka
menggugurkan keyakinanmu bahwa
cinta tak selalu berdiam dalam manja senyuman,
kadang berdiri dengan senjata di tangan.

Engkau tak berseru,
tetapi dunia mengingatnya.
Engkau tak minta dikenang,
tetapi waktu sendiri yang mencatat napas terakhirmu yang menggetarkan dinding-dinding sunyi Bumi Kurau.

Engkau bukan hanya Bhayangkari.
Engkau
adalah rahim yang menolak menyerah,
adalah tanah yang menolak dikubur,
adalah langit yang menolak diam
saat bumi hendak dilucuti dari nurani.

Ibu Mathilda Batlayeri,
namamu kini membakar abjad dunia:
jadi seruan bagi kita yang tak sudi ditindas oleh ketakutan dan kekejaman,
jadi nyanyian bagi anak-anak yang kehilangan ibu,
jadi puisi bagi bangsa yang hampir lupa
bahwa keberanian bisa berselendang bunga,
berwajah lembut,
namun menolak tunduk pada penindasan bahkan saat maut mengancam.

Kurau telah menyambut jasadmu
namun bukan kematianmu.
Karena semesta tahu:
tak ada perempuan yang benar-benar gugur
jika ia gugur demi kehidupan.

Dan engkau, Ibu Mathilda Batlayeri—
bukan hanya gugur,
tetapi bangkit sebagai cahaya
di cakrawala setiap hati anak negeri yang peduli bangsa ini.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/12/

TAK GENTAR

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Dalam sunyi ia berdetak:
hidup adalah luka
yang diperjuangkan
oleh kasih
yang tak gentar
melawan ketakutan
melawan penindasan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/13/

Cara Pulang yang Tulus dan Berani

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Namamu
tak tertulis di prasasti,
tetapi menjadi nadi dalam tanah
yang enggan melupakan.

Engkau telah pergi
tanpa pamit pada sejarah,
namun sejarah kini
menggenggam detik perjalananmu,
seperti anak menggenggam nama ibunya,
dalam doa sebelum tidur.

Tak ada peluru
yang bisa menamatkan
jiwa yang telah menyatu dengan nurani nusantara.

Engkau tewas tapi tak lenyap,
engkau menyebar—
jadi bisik pada angin,
jadi nyala di hati yang takut,
jadi puisi bagi dunia
yang nyaris tak percaya lagi
pada ketulusan untuk berani.

Jika suatu hari anak-anak negeri bertanya,
“Siapa yang menjaga ketika semua diam?”
Biarkan jawaban itu mengalir
dari dedaunan,
dari sungai,
dari udara,
dari debu yang tak pernah lupa—
Namamu,
Mathilda Batlayeri
akan terus menjelma
pada tiap keberanian yang lembut,
pada tiap kasih yang tak mundur,
pada tiap jiwa yang tahu,
bahwa gugur bukan akhir,
melainkan cara pulang
yang tulus dan berani.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/14/

Namanya Tinggal di Bumi

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ia tak memilih sorotan,
tapi bila dunia membisu,
ia menjelma
kata pertama.

Maut tak mengakhiri:
namanya jadi jejak
yang diserap akar
dan tak hilang
dalam musim.

Padang, Sumatera Barat, 2025
———————————–
Kumpulan puisi “NYALA DARI TIMUR: MATHILDA MATLAYERI” ditulis oleh Leni Marlina tahun 2025, belum pernah dipublikasikan dimanapun sebelumnya, sampai diterbitkan pertama kali di platform digital suaraanaknegerinews.com tahun 2025.

Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, akademisi asal Sumatera Barat. Ia merupakan anggota aktif Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan Leni di luar kampus adalah sebagai Tim Redaktur Media suaraanaknegerinews.com dan aktif menulis di beberapa media online lainnya.

Sejumlah kumpulan puisi Leni Marlina dapat diakses oleh publik di link: https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/page/3/.

Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)