“Nyanyian dari Tubir Tanimbar”
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di pulau yang dilahirkan dari nyeri karang
dan disusui ombak pertama oleh bulan,
angin menggantungkan doa-doa
di pundak pohon kenari yang letih,
sementara laut menulis surat-surat cinta
dengan tinta asin pada tubuh batu yang sabar.
Aku mendengar namamu,
dari sela napas penyu yang berabad menanti telur pecah,
dari lidah sunyi burung maleo
yang menyanyi hanya kepada langit yang retak.
Yuliana…
bukan nama,
tapi nyanyian yang dirajut di perahu leluhur,
saat mereka menyeberangi takdir dengan dayung patah
dan iman yang digantung di bintang.
Kau tumbuh dari pasir yang tak pernah letih mencintai ombak,
dari akar mangrove yang setia memeluk lumpur,
dari mata hujan yang jatuh dengan cinta
pada wajah bumi yang retak.
Kau bukan hanya perempuan.
Kau adalah senja yang dimandikan perahu pulang,
bau ikan, bau garam, bau rindu.
Kau adalah tafsir dari luka yang tak lagi butuh obat,
karena telah menjadi lagu.
Di tebing Tanimbar,
angin menyulam rambutmu dengan kelopak kamboja yang gugur.
Dan langit, yang tahu segalanya,
menunduk penuh rahasia setiap kali kau melangkah
tanpa alas,
tanpa dendam,
tanpa tanya.
Kau tidak mencintai seperti manusia,
Yuliana.
Kau mencintai seperti bumi mencintai laut:
dengan pasrah,
dengan ombak,
dengan karam.
Setiap anak yang lahir di pulau ini,
menyusu pada dongeng tentangmu—
Ratu tanpa mahkota,
gadis tanpa takut,
cinta tanpa syarat.
Dan malam,
jika kau perhatikan baik-baik,
di antara derik jangkrik dan tarikan napas langit,
masih memanggilmu:
“Yuliana…”
seperti ibu memanggil anaknya
yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena cinta,
di tanah ini,
adalah suara yang terus pulang
meski tubuhnya telah larut
di arus timur yang tak berkesudahan.
Sumatera Barat,2025