NYANYIAN WAKTU UNTUK PAULUS LARATMASE
HBD Bapa Paulus Laratmase, 18 Des 2025.
( Selamat Ulang Tahun ke 59)
Oleh: Rizal Tanjung
Budayawan Sumatera Barat.
–
Pada hari ketika waktu menyalakan lilin-lilinnya sendiri,
langit belajar mengeja namamu dengan suara yang lebih pelan,
angin menunda perjalanannya agar doa sempat mendarat,
dan kalender membuka dadanya
seperti kitab tua yang mencium tangan seorang peziarah.
Hari ini bukan sekadar ulang tahun—
ia adalah simpul sejarah kecil
tempat keberanian dan kasih bertukar napas.
Engkau lahir bukan hanya dari rahim ibu,
tetapi dari denyut rakyat
yang lama terkurung di lorong sunyi.
Paulus, adikku,
namamu berlayar seperti perahu doa
di sungai-sungai luka yang belum selesai.
Engkau belajar membaca dunia
dari wajah petani yang menatap tanah retak,
dari suara nelayan yang menggigil di bibir fajar,
dari ibu-ibu yang menanak harapan
di panci-panci yang tinggal kenangan.
Sebagai aktivis,
engkau menanam kata-kata
di tanah yang sering dicabut paksa,
dan setiap kali harapan dipukul hingga rebah,
engkau datang dengan tangan berdebu
membangunkannya kembali.
Sebagai jurnalis,
engkau adalah matahari kecil
yang memilih terbit dari sudut gelap,
mengusir bayang-bayang kebohongan
tanpa berisik,
tanpa menuntut pujian.
Tulisanmu bukan sekadar huruf—
ia adalah saksi.
Ia berdiri di persimpangan sejarah
ketika kebenaran nyaris disuap senyap,
ketika suara rakyat dibungkam
oleh gemuruh meja kekuasaan.
Engkau menulis
seperti orang yang tahu
bahwa kata bisa menjadi jembatan,
atau jurang,
dan engkau memilih menjadikannya jembatan
agar air mata bisa menyeberang
tanpa tenggelam.
Pada ulang tahunmu ini,
umur bukan angka,
melainkan bekas tapak kaki
yang tertinggal di dada banyak orang.
Setiap langkahmu adalah doa yang berjalan,
setiap kelelahanmu adalah puasa
demi kemanusiaan.
Adikku Paulus,
semoga Tuhan
menjaga jantungmu tetap jernih
di tengah deras godaan,
menjaga matamu tetap bening
di tengah kabut kepentingan,
dan menjaga tanganmu tetap ringan
ketika menuliskan kebenaran
yang sering terasa berat.
Semoga kesehatan
menjadi rumah yang teduh bagimu,
tempat tubuhmu beristirahat
setelah pikiran berkelana jauh.
Semoga langkahmu selalu ditemani terang,
dan jika gelap datang lebih dulu,
semoga iman menjadi lampu
yang tak pernah kehabisan minyak.
Hari ini lilin menyala
bukan untuk dipadamkan,
melainkan untuk mengingatkan:
bahwa hidupmu adalah nyala itu sendiri—
membakar sunyi,
menghangatkan luka,
dan menerangi jalan
bagi mereka yang berjalan tanpa peta.
Selamat ulang tahun, adikku Paulus Laratmase.
Teruslah hidup
sebagai kabar baik bagi dunia,
sebagai kata yang setia pada nurani,
dan sebagai manusia
yang memilih berpihak
pada rakyat
meski jalan itu sering sepi.
Semoga Tuhan memberkatimu,
hari ini, esok,
dan pada setiap waktu
yang masih ingin belajar
menyebut namamu dengan hormat.
—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2025.