Sekilas Info
Laporan: Tb Mhd Arief Hendrawan
–
SENTANI, Suaraanaknegerinews.com, – Provinsi Papua menjadi sorotan atas kasus meninggalnya seorang ibu dan bayi dalam kandungan karena ditolak 4 rumah sakit di Kota dan Kabupaten Jayapura pada Senin (17/11/2025).
Penolakan ibu dan bayi berujung kematian ini menjadi bukti buruknya pelayanan kesehatan di Ibukota Provinsi Papua. Bahkan yang sangat miris adalah rumah sakit lebih mengutamakan administrasi dari situasi darurat pasien.
Namun, di tengah buruknya akses layanan kesehatan bagi masyarakat kecil, sepasang suami istri di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua memilih untuk mengambil jalan pengabdian.

Adalah Ronal dan Rachel, pasangan yang pernah nyaris kehilangan nyawa saat proses persalinan anak pertama mereka, kini menjadi penyelamat bagi ribuan ibu hamil lewat klinik bersalin gratis yang mereka dirikan: Angel Hiromi Bumi Sehat Papua (AHBS).
Ronal dan Rachel yang ditemui Jurnalis SANN.com di klinik AHBS ini bercerita, cita-cita membangun klinik lahir dari pengalaman traumatis mereka, dimana pada tahun 2011, Rachel mengalami situasi kritis ketika melahirkan anak pertama.
Keterlambatan pelayanan medis membuat kondisi dirinya dan bayinya nyaris tak tertolong. Ia akhirnya harus menjalani operasi caesar dengan biaya sangat besar, beban yang sulit ditanggung oleh keluarga mereka saat itu.
“Klinik ini dibangun berdasarkan pengalaman pribadi kami, ketika tahun 2011 saat istri akan melahirkan anak pertama, kami kesulitan mendapatkan pelayanan rumah sakit.”
“Saat itu kami diminta untuk membayar administrasi terlebih dulu, padahal situasi sudah sangat darurat.”
“Beruntungnya saat itu ada sedikit uang yang kami simpan sehingga kami gunakan untuk biaya operasi,” kata Ronal saat ditemui di klinik AHBS di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.
Pengalaman tersebut membuka mata Ronal bahwa, masih banyak masyarakat Papua, khususnya ibu hamil, yang kesulitan mengakses layanan persalinan yang aman dan terjangkau.
Dari titik itulah muncul keinginan untuk menghadirkan fasilitas kesehatan yang bisa melayani siapa saja, tanpa membebani biaya.
“Sejak saat itu, kami berdua membayangkan, bagaimana dengan masyarakat lain yang tidak punya cukup uang. Apakah mereka akan dilayani atau dibiarkan saja?”
“Atas insiden itu, kami berdua kemudian bercita-cita membangun klinik bersalin gratis untuk seuruh masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Niat itu menemukan jalan ketika Ronal dan Rachel dipertemukan dengan Robin Lim atau yang dikenal sebagai Bunda Robin.
Seorang bidan dan aktivis kemanusiaan pendiri Yayasan Bumi Sehat. Yayasan ini dikenal sebagai penyedia layanan persalinan gratis dan bantuan medis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pertemuan tersebut menjadi titik balik bagi pasangan ini. Mereka mendapat inspirasi, dukungan moral dan keberanian untuk mulai membangun klinik impian mereka sendiri di Kota Sentani.
“Niat kami ini akhirnya dijawab oleh Tuhan karena kami dipertemukan dengan Robin Lim dan dari situ kami dibantu untuk membangun klinik AHBS tahun 2019.”
“Tujuan dari klinik ini adalah kerja sosial, melayani masyarakat yang membutuhkan secara gratis tanpa meminta imbalan apa pun,” tuturnya.
Pada awal beroperasi, Klinik Angel Hiromi Bumi Sehat Papua (AHBS) hanya memiliki lima bidan dan satu ruang persalinan dan fasilitas sederhana. Namun pelayanan penuh kasih yang mereka berikan membuat warga cepat datang mencari bantuan.
Seiring meningkatnya pasien, Ronal dan Rachel bahkan mengubah beberapa kamar pribadi mereka menjadi ruang tindakan persalinan dan ruang perawatan. Klinik kecil ini kemudian berkembang menjadi tempat pelayanan terpadu bagi ibu hamil.
“Awal berdiri hanya ada bidan 5 orang ditambah satu ruangan bersalin.”
“Untuk keperluan di dalam klinik, kami ambil barang-barang di rumah seperti kulkas, kursi, meja, dan keperluan lainnya kami taruh di klinik karena yang kami pikirkan saat itu adalah klinik ini harus segera beroperasi,” bebernya.
“Untuk saat ini kami sudah punya 14 bidan, satu dokter penanggung jawab dan 7 orang relawan. Sementara untuk fasilitas, sudah ada 2 ruang tindakan, 3 kamar bayi, ruang laboratorium,” sambungnya.
Tak hanya melayani mereka yang tinggal di Sentani, klinik ini juga menerima pasien dari berbagai wilayah, mulai dari Jayapura hingga daerah pesisir dan pegunungan.
“Sejak awal klinik ini berdiri, kami tak pernah mempublish di medsos atau media. Tapi pasien yang datang terus meningkat. Dari cerita pasien yang datang, rata-rata mereka mendapat informasi atau direkomendasikan oleh keluarga dan kerabat,” ucap Rachel.
“Bahkan ibu hamil yang datang ke sini untuk melahirkan tidak hanya dari Jayapura, tapi banyak dari luar Jayapura seperti Wamena, Timika, Nabire, Yahukimo, Oksibil, Yapen hingga Merauke,” terangnya.
Dalam perkembangannya, kata Rachel, klinik AHBS terus berinovasi menyediakan layanan bagi ibu hamil yang datang, dimulai dari pendampingan kehamilan sejak trimester awal, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, tindakan persalinan normal, pijat ibu hamil dan pijat bayi, pemberian vitamin bagi ibu hamil hingga konsultasi kesehatan ibu dan bayi.
“Walaupun perlahan berkembang, kami di sini tetap mempertahankan prinsip utamanya yakni semua layanan diberikan gratis.”
“Pelayanan kami berikan tidak pernah membedakan pasien, siapa saja yang datang kami tetap layani karena bagi kami kemanusiaan di atas segalanya,” ungkapnya.
Selama hampir Enam tahun berjalan, klinik AHBS menjadi tumpuan ribuan keluarga. Tercatat 954 ibu melahirkan di klinik ini, sementara 5.990 ibu hamil telah menerima layanan pemeriksaan dan pendampingan kesehatan.
“Sudah ada 954 ibu melahirkan di sini dan 5.990 ibu hamil mendapat layanan pemeriksaan di sini dan semuanya gratis, tidak ada yang dipungut biaya,” katanya.
Yang membuat kisah ini semakin istimewa adalah perjuangan Ronal dan Rachel yang menjalankan klinik ini tanpa dukungan dana dari pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan kementerian.
Seluruh operasional dibangun dari dedikasi pribadi, donasi, dan dukungan komunitas.
“Selama tujuh tahun beroperasi, kami tak pernah mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi, kabupaten maupun menggunakan dana otonomi khusus. Tapi tetap berjalan atas dukungan pribadi, donasi dan dukungan komunitas.”
“Semua ini kami lakukan karena kami ingin masyarakat kecil tak perlu lagi mengalami pengalaman pahit seperti yang pernah dialami,” imbuhnya.
Meski klinik AHBS mengalami perkembangan yang cukup signifikan, Ronal dan Rachel masih memiliki impian di masa depan, yakni klinik AHBS bisa menjadi rumah sakit khusus ibu dan anak di Papua.
“Harapan kami berdua jika ada dukungan dan berkat, kami berencana menjadikan klinik ini sebagai rumah sakit khusus ibu dan anak di Papua.”
“Kami ingin agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis terutama bagi masyarakat yang selama ini terkendala biaya dan akses,” harap Ronal dan Rachel.
Sementara itu, salah satu pasien, Agita Putri yang ditemui mengaku pelayanan yang diberikan di Klinik AHBS sangat bagus dan memuaskan. “Anak pertama dan kedua melahirkan di Puskesmas dan rumah sakit. Untuk anak ketiga baru di sini.”
“Saya tahu klinik ini dari teman karena katanya pelayanan sangat bagus jadi sejak usia kandungan 4 bulan saya sudah ke sini hingga melahirkan. Pelayanan di sini alhamdulilah sangat memuaskan,” bebernya.
Selain pelayanan yang bagus kata Agita, suasana di Klinik AHBS sangat tenang dan nyaman, yang membuat dirinya merasa di rumah sendiri.
“Suasana di sini sangat tenang dan nyaman, serasa di rumah sendiri,” ucapnya.
Sementara itu, dr. Pratono dari Direktorat Penyakit Menular Dirjen Penanggulangan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI mendorong Dinas Kehatan Kabupaten Jayapura dan Provinsi Papua bekerja sama dengan Klinik AHBS Papua.
“Hadirnya Klinik AHBS ini sangat membantu pemerintah, karena melayani masyarakat dengan sangat baik dan gratis, sehingga kami akan mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dan Provinsi Papua untuk bekerja sama, karena klinik ini sudah banyak membantu masyarakat kurang mampu secara gratis,” katanya saat meninjau Klinik AHBS pada Minggu (30/11/2025).
Menurutnya, dengan kerja sama itu akan membantu dalam penyediaan obat maupun pelaksanaan program pemerintah. “Dengan kerja sama itu maka klinik bisa mendapatkan obat maupun program dari puskesmas maupun dinas kesehatan sehingga ibu hamil dan melahirkan di sini juga bisa mendapatkan pelayanan pemerintah secara gratis,” pintanya.
Dari pengalaman nyaris kehilangan nyawa, Ronal dan Rachel menjadikan luka itu sebagai kekuatan untuk membantu orang lain. Klinik AHBS kini menjadi bukti bahwa ketulusan dan keinginan untuk berbagi mampu menyelamatkan banyak nyawa.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pengalaman pribadi dan tekad sederhana untuk tidak membiarkan orang lain mengalami penderitaan yang sama.
(Tb Mhd Arief Hendrawan)