March 14, 2026

Bulan September tahun 2023 tinggal beberapa hari lagi ia berulang tahun. Ia sahabat sebangku waktu sekolah.

Adalah Made Ali. Berita kematian itu mengagetkan semua orang yang mengenalmu. Kematian membawa duka. Duka bagi isteri, anak rekan sekerjamu, bahkan sahabat karibmu yang ditinggalkan.

Mungkin saja kata “kematian” bermakan kata benda yang didefinisikan sebagai ketiadaan jiwa, roh dari badan berdampak tubuh tak bernyawa itu diangap benda dikenakan pada orang yang telah mati seperti kau  alami sahabatku.

Aktifitas sekolah dulu menjadi gambaran betapa hidup tidak untuk diri sendiri. Hidup bermakna dikala bersama dengan orang lain. Ruang kelas itu terasa sepi, tak bermakna tanpa kehadiranmu.

Sang Maha Guru yang super disiplin mengajar, mewajibkan tak boleh terlambat masuk kelas. Ia menempelkan tata tertib itu dan eksekutornya kau sahabatku.

Mendisiplinkan rekan rekan sekelas yang sering membuat anda pusing, namun kesetiaan pada relasi sosialmu membuat rekan-rekan sekelas tidak “HER” alias mengulang mengotrak kembali mata kuliah itu, karena kealpaan di kelas.

Teman teman seangkatan ada yang berhasil meraih jabatan birokrasi minimal jabatan kepala bidang, camat atau  sekretaris  dinas setara eselon III A. Dan dua orang angkatan kita dulu, menggapai eselon  II B, walaupun Made Ali dalam proses tinggal selangkah lagi.

Ketiaadaanmu pada momentum menuju puncak Sail Teluk Cendrawasih 2023 bulan November mendatang. Euforia kemeriahaan puncak Sail Teluk Cendrawasih sudah pasti tidak dialami dan dirasakan sebagai bagian dari partisipasimu sebagai aparatur negara yang mengabdi di bidang tugasmu.

Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap, di hadapan seluruh pimpinan SKPD bahkan mengucapkan Selamat jalan buatmu, turut berdukacita  mengucapkan “Rasa Kehilangan  Kepergianmu, putera terbaik bangsa” atas pengabdianmu.

Ketiadaanmu mengajarkan kami bahwa makna kematian menghapus segala milik, termasuk milik dalam menikmati indahnya puncak Sail Tuluk Cendrawasih, mimpimu.

Karena ketiadaanmu mengajarkan semua orang, memaknai “sail”  sebagai mengarungi makna hidup sebuah makna eskatologis  keluar  dari kefanaan pengarungan hidup “sail” itu,  menuju persaudaraan universal Indahnya Sail Teluk Cendrawasih dalam kekekalan keabadian Penciptamu.

 

Paulus Laratmase