April 19, 2026

Pastor Pius Heljanan MSC: “Dendam dan Kebencian Dapat Membunuh Sesama”

Oleh: joko

Renungan Pastor Pius:

Menghayati Kisah Yohanes Pembaptis, Pastor Pius Ajak Umat Hidup dalam Kebenaran sebab Kebenaran Tak Bisa Dibungkam oleh Kebencian, Jangan Biarkan Dendam Menguasai Hidup

Kisah Yohanes Pembaptis Jadi Cermin Kehidupan, Setia Berjalan dalam Kebenaran Meski Dibenci, Dendam dan Kebencian hanya Membawa Petaka

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Jumat (29 Agustus 2025) — Suasana hening pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, diselimuti renungan mendalam yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, gembala umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran. Dalam pesannya, Pastor Pius mengangkat tema “Dendam dan Kebencian Dapat Membunuh Sesama.”

Kisah Yohanes Pembaptis Sebagai Cermin

Mengutip Injil Markus 6:17–29, Pastor Pius mengajak umat merenungkan kisah Yohanes Pembaptis, seorang pribadi yang teguh membela kebenaran meski harus kehilangan nyawanya.

“Herodes dan Herodias merasa terusik oleh teguran Yohanes. Kebencian Herodias menjelma menjadi dendam, hingga berujung pada kematian Yohanes. Inilah akibat ketika hati manusia dikuasai kebencian,” tutur Pastor Pius.

Dendam Tak Mampu Membungkam Kebenaran

Menurutnya, kebenaran sering kali menyakitkan bagi mereka yang hidup dalam kesalahan. Namun, kebenaran tetaplah kebenaran, tak dapat dibungkam oleh dendam maupun kebencian.

“Saudaraku, masih ada anak Tuhan yang hidup dalam kuasa dendam. Ingatlah, dendammu tidak akan mampu membunuh kebenaran. Jangan kompromi dengan kejahatan, setialah berjalan dalam kebenaran bersama Yohanes Pembaptis, walaupun dibenci,” tegas Pastor Pius dengan nada penuh penghayatan.

Pesan Humanis bagi Umat

Pesan ini, menurut Pastor Pius, bukan sekadar renungan Alkitab, melainkan ajakan nyata bagi umat agar tidak membiarkan dendam menguasai hidup sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa hidup berdampingan dalam kasih dan kebenaran akan melahirkan kedamaian, sementara dendam hanya membawa petaka.

“Pelanggaran terhadap hukum Tuhan adalah dosa. Mari kita pilih untuk setia pada kebenaran, karena hanya kebenaran yang mampu memberi kita hidup yang sejati,” pungkasnya.