April 19, 2026

Penyala Literasi Sumbar Siap Getarkan Panggung World Poetry Day 2026 di Kuala Terengganu

eka

Laporan Paulus Laratmase

Dari Padang – suaraanaknegerinews.com|  Pada awal Februari yang basah oleh angin laut dan harapan, kabar itu berlayar pelan namun pasti: Penyala Literasi Sumatera Barat akan menyeberang batas, membawa kata, budaya, dan jiwa Minangkabau ke panggung dunia. Tiga perempuan, tiga pendidik, tiga penjaga nyala literasi, bersiap menapaki Kuala Terengganu, kota budaya di pesisir timur Semenanjung—dalam perhelatan Cipta Citra V – Hari Puisi Sedunia 2026.

Tanggal 12 hingga 15 Februari 2026 akan menjadi penanda. Di sanalah para penyair serumpun berkumpul, selain untuk membaca puisi, tetapi terlebih  saling menyapa melalui bahasa batin yang sama. Undangan dari Saudara Umar selaku penyelenggara menjadi sebuah  isyarat persaudaraan kultural, sebuah diplomasi sunyi yang bekerja lewat puitika.

Penyala Literasi Sumbar mengutus tiga sosok yang telah lama menautkan hidupnya dengan pendidikan dan kerja-kerja literasi.

Eka Teresia, S.Pd., M.M., Ketua Penyala Literasi Sumbar, pendidik di SMK Negeri 6 Padang, sekaligus Pimpinan Umum Redaksi negerinews.com, berdiri di barisan depan. Bersamanya, Lily Yovita, S.Pd., Pengawas pada Dinas Pendidikan Kota Padang, dan Rahmi, S.Pd, pendidik dari SMK Negeri 5 Kota Padang, tiga srikandi yang menjadikan kata sebagai jalan pengabdian.

“Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi komunitas kami,” ujar Eka Teresia, suaranya memuat bangga sekaligus tanggung jawab. “Menjadi bagian dari festival spektakuler di negara tetangga adalah momentum untuk membuktikan bahwa literasi Sumbar mampu berbicara di level global.”

Puitika sebagai Jembatan Jiwa

Selama dua hari, puisi akan dilafalkan di hadapan para penyair dunia, mereka akan merajut rima, membawa lanskap Minangkabau, nilai egaliter, dan kearifan yang tumbuh dari nagari ke ruang dengar internasional. Kata-kata akan berjalan lebih dulu, membuka jalan bagi budaya.

Bagi ketiga delegasi ini, puisi akan menjadi panggung ornamen estetika dan  jembatan hati dan  ruang perjumpaan nurani. Di antara keindahan Kuala Terengganu, puisi menjadi medium untuk saling mengenal, saling mengingat bahwa Indonesia dan Malaysia bertaut dalam satu akar: Serumpun Sejiwa.

“Kami berharap penampilan nanti bisa menyentuh kalbu audiens internasional,” tutur Lily Yovita, “sekaligus mempromosikan karakter budaya Minangkabau yang egaliter dan sarat akan nilai-nilai luhur.”

Keberangkatan ini menandai babak baru geliat literasi Sumatera Barat. Ia membuktikan bahwa dedikasi para pendidik dan penggiat literasi tak berhenti di ruang kelas atau komunitas, melainkan sanggup melampaui batas negara, membawa misi kemanusiaan dan kebudayaan yang lebih luas, melalui kekuatan kata.

Di Kuala Terengganu nanti, puisi akan berbicara. Dan dari Ranah Minang, nyala itu terus dijaga agar tak pernah padam.