Tausiah Religi
Rasulullah ﷺ Bersabda :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim) .
==============
KULIAH SHUBUH
Selasa , 25 Nopember 2025( 04 Jumadil Akhir 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu marilah kita untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.
Sesungguhnya, amalan shalih adalah merupakan bekal terbesar yang akan kita bawa menuju kehidupan akhirat. Sesungguhnya, amalan shalih adalah merupakan cahaya di hati kita, bahkan kekuatan hati kita untuk meniti jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun, saudaraku seiman semua, ada 2 perkara yang harus kita perhatikan setelah beramal shalih, yaitu :
1.Jangan Tertipu Banyaknya Amal.
Yang pertama, jangan sampai kita tertipu dengan banyaknya amal, karena kita tidak tahu mana amal yang telah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jangan pernah kita merasa telah shalih dengan banyaknya amal shalih kita, karena sesungguhnya kita tidak tahu akan mati di atas apa.
Kewajiban kita adalah berharap kepada Allah SWT agar Allah menerima amal kita, dan khawatir kalau amal kita belum diterima oleh Allah SWT akibat dari kekurangan – kekurangan yang kita lakukan.
Orang yang tertipu dengan banyaknya amal shalih, seringkali menimbulkan penyakit-penyakit yang bisa membatalkan amal itu sendiri.
Di antara penyakit itu adalah ‘ujub, merasa kita lebih di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Demikian pula, kita pun menganggap remeh amalan manusia yang jumlahnya sedikit, sehingga kita terkena penyakit kesombongan, karena merasa amalnya banyak dibandingkan orang lain.
Ujub itu saja sudah cukup untuk membatalkan amalnya.
Bayangkan, kalau kita merasa sombong dengan amalnya, lalu kita mati di atas kesombongannya.
Itu berarti kita wafat di atas su’ul khatimah.
Nabi ﷺ kita yang mulia bersabda:
“Sesungguhnya di antara kalian, ada yang selama hidupnya senantiasa beramal dengan amalan penduduk surga sehingga jaraknya dengan surga tinggal sejengkal lagi.
Namun, kemudian ketentuan berkata lain.
Kita pun, di akhir hayatnya, beramal dengan amalan penduduk neraka.
Dan kita pun mati di atas kesombongan, serta kita masuk ke dalam api neraka.
Kita harus yakin Allah SWT tidak mungkin menjhalimi seorang pun.
Akan tetapi, kita sebagai hamba lah yang berbuat jhalim.
Al-Hafidz Ibnu Rajab, ketika menafsirkan hadits ini, membawakan riwayat yang lain, dalam Shahih Muslim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Seseorang di antara kalian ada yang mengamalkan amalan penduduk surga sebatas yang tampak kepada manusia.” (HR. Muslim) .
Kita tampak di hadapan manusia beramal shalih, akan tetapi Allah mengetahui apa yang ada dalam hatinya.
Mungkin hatinya tidak mengharapkan wajah Allah 100%, mungkin hatinya ditimpa ‘ujub dan sombong setelahnya.
Mungkin kita tertipu dengan amal shalih tersebut, sehingga akhirnya di akhir hayatnya kita pun beramal amal keburukan, dan kita pun mati di atasnya.
Akibat kita tertipu dengan banyaknya amal, akhirnya kita mati dalam keadaan su’ul khatimah.
Ini sebuah kesalahan besar, siapapun kita, se-shalih apapun kita, jangan pernah kita tertipu dengan amal kita.
Al-Imam Syafi’i Rahimahullah saja tidak merasa dirinya shalih.
Beliau berkata:
“Aku mencintai orang-orang shalih, tapi aku tidak termasuk orang-orang shalih.
Semoga aku mendapatkan syafa’at dari mereka.”
Subhanallah..!!, siapa yang tidak kenal Imam Syafi’i ?
Akan keshalihan beliau, ketaqwaan beliau, kefaqihan beliau, seluruh ulama sepakat akan bagaimana beliau sebagai seorang alim yang ikhlas ilmunya.
Semua ummat Islam sangat membutuhkannya.
Tapi Subhanallah, ternyata Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan:
“Aku cinta orang shalih, tapi aku tidak termasuk orang shalih.”
Mendengar itu, Imam Ahmad berkata:
“Engkau mencintai orang shalih dan engkau termasuk mereka.”
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Itulah para ulama. Mereka tidak tertipu dengan banyaknya amal mereka.
Mereka tidak menjadi orang yang merasa dirinya sebagai wali Allah di sisi-Nya, karena banyaknya amal.
Akan tetapi, mereka senantiasa khawatir kalau mereka mati dalam keadaan su’ul khatimah. Itulah yang mereka khawatirkan pada diri mereka sendiri.
Itulah yang harus kita pelihara.
2.Ingin Diakui Sebagai Orang Yang Ikhlas .
Saudaraku, di antara kesalahan kita setelah selesai beramal, kita ingin diakui keikhlasan kita, dan kita marah ketika ada orang yang mengatakan kita tidak ikhlas, padahal cukuplah hanya Allah yang Maha Tahu bahwa, kita ikhlas mengharapkan wajah-Nya saja.
Kita beramal tidak mengharapkan pujian siapapun.
Kita beramal tidak mengharapkan pengakuan siapapun.
Kita beramal tidak mengharapkan penghormatan dan penghargaan dari siapapun juga, karena penghargaan manusia dan penghormatan mereka tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah SWT.
Maka kewajiban kita adalah mengharapkan wajah Allah semata, bukan mengharapkan pengakuan manusia akan keikhlasan kita. Makanya, para ulama menyebutnya sebagai
riya’ orang yang ikhlas.
Ia ingin diakui akan keikhlasannya, dia ingin dihormati orang akan amal shalihnya, sehingga ia dianggap sebagai orang yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah.
Amal shalih seharusnya menimbulkan ketawadhu’an dan ketaqwaan kepada Allah Rabbal ‘Alamin.
Allah berfirman :
“Wahai manusia, beribadah lah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
Itulah tujuan ibadah kita kepada Allah, kita beramal shalih, kita bertaqarrub kepada Allah, agar kita menjadi hamba – hamba yang bertaqwa kepada Allah.
Namun, ketika shalat kita tidak menimbulkan ketaqwaan, ketika amal shalih kita tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu menunjukkan amal shalih kita dipertanyakan. Barangkali amal shalih kita belum diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, tanda seorang hamba yang amalnya diterima, dia akan berusaha memperhatikan keabsahan amalnya.
Dia akan berusaha agar amalnya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dia bersungguh – sungguh, dia mempelajari apakah amalnya sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ atau tidak.
Adakah tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak?
Sehingga, pada waktu itu, keinginan terbesarnya adalah meluruskan amalnya, bukan sebatas amal itu sendiri.
Kemudian, dia takut dan khawatir kalau amal itu dibatalkan oleh Allah, karena itu yang terbesar setelah kita beramal shalih.
Bismillahirrahmanirrahim
Ya Allah Ya Rabb.
Ampunilah dosa kami,dosa kedua orang tua kami dan guru kami serta para sahabat2 kami pada Hari hisap 🤲
Ya Allah, Karuniakanlah kami umur yang bermanfaat, keselamatan dan kesehatan yg afiat🤲
Ya Allah, Tunjukkan kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai 🤲
Ya Allah, yang membolak balikkan hati, baliklah hati kami taat kapadaMU, aamiin🤲
Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau limpahkan, aamiin🤲
Ya Allah Ya Rahman, berilah kemerdekaan untuk Palestina, aamiin
Ya Allah, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkan kami dari azab dan siksa api neraka, aamiin 🤲
Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah dunia dan akhirat, fitnah kubur dan fitnah dajjal, aamiin
Ya Allah, beri kami istiqomah sampai husnul khotimah sempat taubat sebelum wafat, aamiin
Cukupkanlah bekal kami, saat tiba waktu ENGKAU panggil dan atas Ridha-Mu ijinkan kami pantas berjumpa dengan Mu dan RassulMu nabi Muhammad SAW, aamiin ya Rabbal ‘alamin 🤲
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته