“PERSAHABATAN DAN KEMANUSIAAN UNTUK CINTA PERDAMAIAN (Bagian 2)”: Kumpulan Puisi Internasional oleh Leni Marlina & Harlym Yeo (Poetry-Pen IC, Satu Pena & ACC SHILA) ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
/1/
PERSAHABATAN DAN KEMANUSIAAN UNTUK CINTA PERDAMAIAN (Bagian 2): Kapuas – Mengalirnya Persahabatan dan Bernafasnya Kemanusiaan

Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kapuas,
engkau bukan hanya sungai di tanah Kalimantan—
engkau adalah urat nadi persahabatan
yang mengalir dari hulu ke hati manusia,
melintasi rimba dan kota,
menyatukan perahu-perahu harapan
dari berbagai bahasa
dalam satu getar kasih yang hanya bisa dirasakan.
Di sepanjang alirmu,
anak-anak dari suku-suku berbeda
menyanyi dalam satu irama air,
perempuan menumbuk kasih dalam lesung hidup,
laki-laki mendayung damai
tanpa mengukur siapa paling kuat,
siapa paling berhak.
Kapuas,
engkau mengajarkan bahwa kemanusiaan
bukanlah soal asal atau rupa,
melainkan tentang keberanian
untuk memberi tempat bagi yang lain,
tentang kesediaan untuk memahami
bahkan saat kita tak mengerti sepenuhnya.
Di tubuhmu,
kami belajar memaafkan seperti air,
mengalir tanpa dendam,
Lmenghapus racun waktu
dengan kelembutan yang abadi.
Engkau mengajarkan bahwa cinta—
bukanlah sekadar rasa,
tetapi pilihan untuk tetap hadir
meski dunia gemetar oleh kebencian.
Kapuas,
dari garis tengah bumi engkau mengalir,
mengirim pesan ke segala penjuru:
bahwa persahabatan sejati
tak perlu satu bahasa,
cukup satu rasa yang setia—
dan bahwa perdamaian
bukan utopia,
tapi sungai yang harus terus dijaga
dengan tangan yang terbuka
dan hati yang tak pernah menyerah.
Padang, Sumatera Barat,
Januari 2025
/2/
Mazmur Pontianak
Puisi Oleh Harlym Yeo
(MALAYSIA)
[Poetry-Pen International Comunity]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Perjalanan lama,
bukan sekadar lintasan biasa—
ia pelayaran batin
yang menemukan makna
pada bening Kapuas
dan bisik lembut rimba.
Pontianak,
Kapuas terpanjang bukan hanya panorama:
ia kitab air terbuka,
mengalirkan hikayat dari hulu hingga ke muara—
tentang perahu yang hilang tanpa berita,
tentang tangis dayang dan dendam sateria,
tentang malam bertamasya
dengan bulan berselendang cahaya.
Pontianak,
kota roh dan jasad berbaur di udara,
yang berdansa dalam rentak tak kasat mata;
setiap lorong menyimpan suara,
setiap hidangan mengikat rasa—
ikan asam pedas beraromakan nostalgia,
kopi kelam menyimpan rahsia keluarga.
Di sini aku menadah harapan,
kupulang sarat keberkatan;
rezeki mengalir-limpah, berpanjangan,
seperti Kapuas yang tak kenal kesudahan.
Pontianak, Borneo,
11–14 Jun 2024
————————
HARLYM YEO
Penyair | Deklamator | Suara Budaya

Harlym Yeo—nama pena dari Yeo Hock Lim—adalah seorang penyair terkemuka Malaysia, kelahiran Kelantan berdarah Cina Peranakan, kini menetap di Selangor. Sosok yang energik dalam dunia sastra dan pertunjukan ini dikenal luas lewat deklamasi puisinya yang menggugah dan penuh semangat, sehingga dijuluki “Panglima Puisi” karena mampu menghidupkan kata dengan jiwa di setiap panggung, baik nasional maupun internasional.
Mantan Eksekutif Komunikasi Strategik Persatuan Pemuisi Nasional Malaysia (PEMUISI) ini juga merupakan anggota seumur hidup PENA dan PENYAIR. Karya-karyanya hadir dalam berbagai antologi penting seperti Menganyam Tikar Peradaban, Rumpun Luhur, dan Permata Jiwa (2025). Ia menerima Anugerah Citra Jasa Budi dari UUM (2022) serta diangkat sebagai Anggota Kehormatan Writers Capital International Foundation (India).
Selain menulis, Harlym pernah menjadi editor berbagai majalah, kolumnis sastra di media nasional, pembimbing mahasiswa internasional, serta pembawa acara televisi seperti Selamat Pagi Malaysia. Ia terus menjembatani bahasa, budaya, dan seni pertunjukan—membawa puisi hidup dalam setiap napas dan kata yang ia lantunkan.
/3/
Di Urat Bumi Lahir Sungai Kapuas
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sungau Kapuas tak lahir dari hujan,
melainkan menjelma dari ingatan
yang menetap di sunyi terdalam bumi—
urat air yang menyusup ke tulang sejarah,
mengantar bisikan akar purba
kepada dunia yang gemetar di tepi luka.
Ia tak sekadar mengalir,
ia menghafal nama-nama yang terlupa,
mengangkat persahabatan
seperti daun-daun yang tetap bertahan
meski musim terus berganti demi damai.
Padang, Sumatera Barat,
Januari 2025
/4/
Kapuas: Pesan Kemanusiaan Dari Tanah Kalimantan
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kapuas – Kalimantan,
bukan sekadar sungai,
kau adalah nadi purba yang tak pernah putus,
mengalirkan bukan hanya air—
tetapi ingatan yang belum selesai dituturkan
oleh leluhur,
yang menyimpan perjuangan hidup,
dari akar yang tak gentar badai.
Kapuas,
Di sepanjang tubuhmu,
hutan menggigil dan berdoa dalam senyap,
rimba merapal doa lewat kabut pagi,
dan manusia—yang disebut penghuni—
belajar mendengarkan bukan dengan telinga,
tetapi dengan jiwa
yang bersujud pada
Tuhan Sang Pencipta,
yang telah menciptakan alam ini begitu indah.
Kapuas,
Di sisimu,
anak-anak menganyam tawa di dermaga kayu,
perahu menyisip nyanyian sunyi
dari Dayak ke Melayu,
dari berbagai suku bangsa,
dari berbagai perjalanan hidup mereka,
dari peladang ke penjala,
dari bahasa air ke bahasa yang lebih tua
dari segala alfabet:
bahasa keberadaan manusia.
Kapuas,
Kau tak pernah bertanya siapa yang melintas,
kau hanya memberi seizin-Nya—
memberi jalan, napas, rezeki,
dan kesadaran bahwa damai
bukanlah ujung,
melainkan cara mengalir
tanpa menyingkirkan yang lemah.
Pusaran airmu adalah pertanyaan
yang tak perlu jawaban,
hanya keberanian
untuk menyelam ke kedalaman
yang tak diukur oleh logika,
tetapi oleh keberanian
untuk tak menguasai semua yang ada di dunia.
Kau, Kapuas,
tak menolak racun zaman,
tapi kau menahannya dalam heningmu
yang tebal seperti hikmah.
Kau luka yang tak menjerit,
tapi menyembuhkan.
Dan kami—
yang sempat lupa menjadi manusia seutuhnya—
belajar kembali lewat aliran sungaimu,
bahwa kekuatan bukan dalam membendung,
tapi dalam membiarkan yang lain ikut hidup,
ikut mengalir,
ikut menjadi.
Kapuas,
Kau bukan sekadar sungai kebanggaan Nusantara.
Kau adalah syair dunia dari garis khatulistiwa,
dilagukan oleh angin,
dan dihafal oleh mereka
yang hatinya pernah hancur
namun memilih mengalir
tanpa membalas dendam,
untuk berdamai dengan hidupnya,
untuk perdamaian dunia.
Padang, Sumatera Barat,
Januari 2025
/5/
Dan Sungai Mengajari Kita Menjadi Manusia
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kelak,
jika lidah manusia kehilangan kata untuk menyebut kasih,
biarlah Kapuas – Kalimantan yang bersuara—
dengan arusnya yang tak pernah membalas
meski tercemar, disakiti, dilupakan.
Di tubuhnya, persahabatan tumbuh
tanpa syarat, tanpa panji, tanpa dinding.
Sungai ini tak menilai siapa yang layak disebut saudara;
ia hanya mengalir,
memberi hidup,
dan memaafkan.
Sebab damai yang sejati
hanya dimiliki oleh mereka
yang sanggup melewati luka
tanpa menjadikannya racun.
Padang, Sumatera Barat, Januari 2025
——————————————
LENI MARLINA
Penyair | Penulis| Akademisi

Sumber gambar: Dok. LM Starmoonsun.
Kumpulan puisi Leni Marlina di atas ditulis bulan Januari 2025 dan belum pernah dipublikasikan di platform manapun sebelumnya. Karya ini diterbitkan pertama kali secara digital melalui portal literasi nasional suaraanaknegerinews.com pada tahun yang sama.
Leni Marlina adalah penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat. Sejak tahun 2022, ia aktif sebagai anggota Perkumpulan Penulis Indonesia SATU PENA cabang Sumatera Barat. Di kancah internasional, ia terlibat dalam ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, dan dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk komunitas tersebut. Pengalamannya dalam dunia penulisan juga mencakup keterlibatannya bersama Victoria’s Writer Association di Australia.
Sejak tahun 2006, Leni mengabdi sebagai dosen tetap di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Di luar kegiatan akademik, ia merupakan anggota tim redaksi media daring suaraanaknegerinews.com dan aktif menulis di berbagai platform sastra digital dan media nasional.
Beberapa puisinya dapat dibaca publik melalui tautan berikut:
https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/page/3/
Selain menulis, Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas berbasis digital yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan gerakan sosial, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia)
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (PPIC)
8. English Language Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
Melalui karya-karya dan komunitas yang dipimpinnya, Leni Marlina terus menyebarkan semangat literasi dan puisi sebagai medium reflektif, inspiratif, dan transformatif. Ia menjadi jembatan bagi dialog kreatif lintas budaya dan generasi di era digital yang terus berkembang.
Versi bahasa Inggris dari puisi Leni Marlina (Indonesia) dan Harlym Yeo (Malaysia) di atas dapat diakses dan dibaca pada link berikut: