February 13, 2026

Laporan: Dr. La Jumu, S.Sos.,S.Kep.Ns.,M.Kes.

(Prodi Keperawatan Poltekes Kemenkes Jayapura)

***

Laporan ini merupakan materi yang dipaparkan pada Forum Dokotor Politeknik Kesehatan RI dalam upaya  pengentasan penyakit Demam Berdarah di Indonesia.

Pada bagian kedua, secara khusus pemaparan materi oleh Prof. Dr. Indra,SKM.,M.Kes, dengan judul: Kesehatan Lingkungan Mencegah Demam Berdarah.

Menurut Prof. Indra,  lingkungan manusia memiliki peran penting dalam upaya memberantas sumber DBD yang adalah jentik aedes aegypti.

“Landasan yuridis formal, menjadi acuan upaya pemerintah dan masyarakat  yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 Tentang  Kesehatan Lingkungan  sebagai   upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial dan  WHO  (World Health Organization) yang menekankan upaya  kesehatan lingkungan sebagai  suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia,” demikian Prof. Indra mengawali pemaparan materinya.

Bagi Prof. Dr. Indra,SKM.,M.Kes, “Negara dan seluruh stake holders di dalamnya berkewajiban memiliki kepedulian terhadap kesehatan setiap individu yang hidup dan tinggal dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu forum akademik yang memiliki spesialisasi dalam bidang Kesehatan sebagai layanan publik  juga pada kesempatan yang terhormat ini, memaparkan bagaimana siklus pembentukan aedes aegypti dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, selain itu, bagaimana upaya manusia mengatasinya melalui hidup sehat dalam lingkungannya sendiri.”

Siklus Aedes Aegypti

Kondisi curah hujan tinggi, kondisi lingkungan  di mana terdapat genangan  air menjadi dasar jentik aedes aegypti tumbuh dan berkembang dan menjadi menjadi faktor penyebab terjangkitnya DBD.

Siklus hidup aedes aegypti mengalami metamorphosis sempurna dari telur kemudian menetas menjadi jentik (larva) kemudian berkembang menjadi pupa, selanjutnya menjadi nyamuk dewasa (2-3 bulan bertahan hidup). Perkembangan dari telur sampai nyamuk dewasa membutuhkan waktu 10-14 hari.

“Penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia. Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas,” tegas Prof. Indra.

Bagaimana transmisi virus Dengue pada nyamuk Aedes sp?

Prof. Indra memaparkan bagaimana transmisi virus dengue pada nyamuk aedes sp pada forum yang terhormat dengan mengatakan, “Transmisi virus dengue pada umumnya terjadi secara horizontal dari manusia pembawa virus dengue ke nyamuk vector aedes sp yang menularkan ke manusia lainnya.”

“Selain itu terdapat trasmisi vertical (transovarial) dari nyamuk aedes sp betina bunting yang telah terinveksi virus aedes sebagai induk telur dalam uterus nyamuk yang bermetamorfosis menjadi nyamuk dewasa. Pemahaman menyeluruh tentang transmisi nyamuk  aedes melalui vektornya perlu  dicermati, mengingat makin tinggi kejadian demam dengue dan makin luasnya penyebarannya di seluruh pelosok Indonesia,” tegasnya.

Program Kesehatan Lingkungan

Hal pertama dan utama yang harus  dilaksanakan menurut Prof. Indra, pendidikan dan penyuluhan sebagai upaya merubah perilaku manusia melalui upaya edukasi. Pendekatan edukatif dikamaksudkan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah dengan peranserta aktif individu, kelompok atau masyarakat untuk memperhatikan masalah lingkungan dengan berangkat dari faktor sosial, ekonomi dan budayanya.

Kedua adalah pengendalian vector atau serangga penyebar penyakit, misalnya pemeriksaan dentik nyamuk di lingkungan sekolah atau perumahan masyarakat, abatisasi yaitu pemberian larvasida (bubuk abate) dengan tujuan membunuh jentik-jentik aedes dan mencegah terjadinya wabah DBD. Selain itu dilakukan fogging yaitu pengasapan dengan bahan insektisida yang bertujuan membunuh nyamuk pembawa vector penyakit demam berdarah dengue dewasa.

Ketiga, gerakkan 3M yaitu menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang berpotensi mengundang nyamuk atau menggunakan Kembali barang-barang yang berpotensi menampung air.

Hal lain yang dianjurkan untuk seluruh masyarakat menurut Prof. Indra adalah menggunakan obat atau lotion anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memasang kawat kasa pada ventilasi, memasang kawat kasa pada jendela rumah dan ventilasi, meletakkan pakaian kotor pada wadah tertutup sebelum dicuci.

Environment (lingkungan)

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host (pejamu) baik benda mati, benda hidup, nyata dan abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk host yang lain.

“Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang berkaitan dengan terjadinya infeksi dengue. Lingkungan pemukiman sangat besar peranannya dalam penyebaran penyakit menular. Kondisi perumahan yang tidak memenuhi syarat rumah sehat apabila dilihat dari kondisi kesehatan lingkungan akan berdampak pada masyarakat itu sendiri. Dampaknya dilihat dari terjadinya suatu penyakit yang berbasis lingkungan yang dapat menular,” tegas Prof. Indra.

Derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah lingkungan. Lingkungan adalah himpunan dari semua kondisi luar yang berpengaruh pada kehidupan dan perkembangan pada suatu organisme, perilaku manusia, dan kelompok masyarakat. Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam menyebabkan penyakit-penyakit menular.

Terkait demam berdarah, Prof. Indra mengingatkan, “Lingkungan sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus demam berdarah dengue. Secara umum lingkungan dibedakan menjadi tiga yaitu: lingkungan fisik, lingkungan biologi, dan lingkungan sosial.”

Lingkungan biologi terdiri dari makhluk hidup yang bergerak, baik yang dapat dilihat maupun tidak dapat dilihat (manusia, hewan, kehidupan akuatik, amuba, virus, plangton). Makhluk hidup tidak bergerak (tumbuhan, karang laut, bakteri). Faktor lingkungan biologis yang berpengaruh terhadap kejadian DBD antara lain, (Keberadaan jentik, kontainer, tanaman hias atau tumbuhan, indeks jentik (host indeks, container indeks, breatu indeks)

Lingkungan biologi dapat berpengaruh terhadap kehidupan nyamuk yaitu banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan dapat mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah dan halamannya. Adanya kelembaban yang tinggi dan kurangnya pencahayaan di dalam rumah merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk beristirahat.

Selain lingkungan fisik dan biologis, faktor lingkungan sosial berpengaruh terhadap kejadian DBD diakibatkan oleh  kepadatan penduduk dan mobilitas. Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah insiden kasus DBD tersebut.

“Pendapatan keluarga, aktivitas sosial, kepadatan hunian, bencana alam, kemiskinan dan kondisi rumah adalah faktor-faktor yang ikut berperan di dalam penularan DBD. Semakin baik tingkat pendapatan keluarga, semakin mampu keluarga itu untuk memenuhi kebutuhannya termasuk dalam hal pencegahan suatu penyakit. Semakin sering seseorang beraktivitas secara masal di dalam ruangan (arisan, sekolah) pada waktu puncak aktivitas nyamuk Aedes aegypti menggigit, semakin besar resiko orang tersebut untuk tertular dan menderita penyakit DBD,” ungkapnya.

Hunian yang padat akan memudahkan penularan DBD dari satu orang ke orang lainya. Bencana alam, akan menyebabkan hygiene dan sanitasi yang buruk dan memperbanyak tempat yang dapat menampung air yang dapat digunakan oleh nyamuk sebagai tempat bersarang. Kondisi rumah yang lembab, dengan pencahayaan yang kurang di tambah dengan saluran air yang tidak lancar mengalir, disenangi oleh nyamuk penular DBD, sehingga resiko menderita DBD pun semakin besar.

Terhadap lingkungan fisik, di akhir paparan materinya, Prof Indra menyampaikan, “Keadaan fisik sekitar manusia  berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia. Di daerah pantai kelembaban udara mempengaruhi umur nyamuk, sedangkan di dataran tinggi suhu udara mempengaruhi pertumbuhan virus di tubuh.  Air hujan akan mempengaruhi kelembaban udara di daerah pantai dan suhu udara di daerah pegunungan. Kelembaban udara mempengaruhi umur nyamuk, suhu udara mempengaruhi perkembangan virus dalam tubuh nyamuk”.