April 16, 2026

PUISI ESAI: PUISI LATAH DALAM KEMUNDURAN IMAJINASI SASTRA

rizal new

Rizal Tanjung: Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat.

Oleh: Rizal Tanjung

KETIKA SASTRA KEHILANGAN SUNYI KREATIFNYA

Sastra lahir dari kegelisahan batin yang panjang.
Ia bertunas dari pergulatan senyap antara pengalaman, imajinasi, bahasa, dan kesunyian yang tekun.

Sastra tidak tumbuh dari ketergesaan, tidak pula dari kebiasaan menyalin suara orang lain.
Ia menuntut jarak, luka, dan keberanian untuk tinggal lama di ruang hampa sebelum kata menemukan bentuknya.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dunia sastra Indonesia—khususnya puisi—dihadapkan pada sebuah gejala yang kerap dielu-elukan sebagai inovasi, padahal sejatinya menandai kemunduran: puisi esai.

Puisi esai, dalam praktiknya, bukanlah kelahiran organik dari rahim tradisi sastra.
Ia lebih menyerupai produk latah intelektual—sebuah bentuk penulisan yang berangkat dari berita yang telah beredar di media massa, lalu diadopsi, disalin, dan “dipuitiskan” dengan sedikit polesan metafora, disertai penjelasan sumber, dan diakhiri dengan catatan kaki.
Ia lebih dekat pada laporan jurnalistik berlapis gaya bahasa,
daripada karya sastra yang lahir dari pengalaman batin pengarang.
Dalam konteks inilah, puisi esai layak disebut sebagai puisi latah:
puisi yang meniru, ikut-ikutan, dan bergantung pada suara eksternal—
bukan pada kedalaman imajinasi dan kejujuran estetik.

PUISI ESAI DAN MENTALITAS COPY–PASTE

Ciri paling mencolok dari puisi esai adalah ketergantungannya pada berita yang telah beredar.
Tragedi sosial, konflik politik, kasus hukum, atau peristiwa kemanusiaan yang ramai di media massa diambil mentah-mentah, lalu diolah ulang ke dalam bentuk puisi dengan struktur naratif yang panjang, kronologi yang rinci, dan penegasan moral yang gamblang.

Di sinilah persoalan mendasarnya menganga:
di mana letak kerja sastra?
Alih-alih melakukan transformasi imajinatif, puisi esai justru melakukan transkripsi.
Alih-alih menciptakan dunia bahasa yang baru, ia hanya memindahkan dunia yang sudah jadi ke dalam baris-baris puitik.
Ini bukan sublimasi artistik.
Ini hanyalah pemolesan teks berita.

Puisi esai tidak berangkat dari aku yang bergulat dengan realitas,
melainkan dari data yang telah tersedia.
Ia tidak menempuh jalan sunyi penciptaan,
melainkan jalan pintas dokumentasi.

Dalam pengertian ini, puisi esai adalah bentuk paling malas dalam perkembangan sastra Indonesia—
dan bahkan dalam konteks sastra dunia.

METAFORA TANPA JIWA ANTARA GAYA DAN SASTRA

Para pendukung puisi esai sering berlindung pada satu dalih klasik:
bahwa bentuk ini tetap sastra karena menggunakan metafora.
Namun dalih ini rapuh sejak lahir.
Kemampuan bermetafora tidak identik dengan kemampuan bersastra.

Metafora adalah alat, bukan jiwa.
Bahasa puitik adalah sarana, bukan tujuan.

Dalam puisi esai, metafora kerap hadir hanya sebagai ornamen—
seperti bunga plastik yang ditempelkan pada bangkai berita.
Ia tidak lahir dari keharusan batin,
melainkan dari kebutuhan kosmetik agar teks jurnalistik tampak “sastra”.

Sastra sejati bekerja di wilayah ambiguitas,
retakan makna,
dan ketegangan batin yang tak tuntas.

Puisi esai justru bekerja di wilayah penjelasan, klarifikasi, dan moralitas tunggal.
Ia tidak membuka tafsir—
melainkan menutupnya rapat dengan catatan kaki.

CATATAN KAKI SEBAGAI TANDA KEMATIAN IMAJINASI

Keberadaan catatan kaki dalam puisi esai sering dipromosikan sebagai kekuatan intelektual.

Padahal justru di situlah tanda paling jelas dari kegagalan sastra.

Puisi tidak membutuhkan legitimasi eksternal.

Puisi tidak hidup dari rujukan.

Puisi tidak bernaung pada otoritas berita.

Ketika sebuah puisi harus menjelaskan dirinya melalui catatan kaki,
itu berarti puisinya gagal berbicara dengan kekuatan bahasa.

Catatan kaki adalah alat akademik.
Ia milik esai ilmiah,
bukan milik puisi.

Puisi yang baik membuat pembaca terjatuh ke dalam makna tanpa diberi petunjuk arah.

Puisi esai, sebaliknya, takut disalahpahami—
dan ketakutan adalah musuh paling purba dari sastra.

PUISI ESAI DAN BUDAYA IKUT-IKUTAN

Fenomena puisi esai juga mencerminkan budaya ikut-ikutan dalam ekosistem sastra.
Ia berkembang bukan karena kekuatan estetiknya,
melainkan karena legitimasi institusional, festival sastra, dan dukungan dana kebudayaan.

Banyak penulis muda tergoda menulis puisi esai bukan karena panggilan batin,
melainkan karena:
dianggap “relevan” secara sosial,
mudah diproduksi,
cepat diterima media,
dan aman secara moral.
Inilah mentalitas latah:
meniru apa yang sedang tren,
bukan menggali suara sendiri.

Puisi esai tidak melatih keberanian estetik,
melainkan kepatuhan tematik.

KELAS RENDAH DALAM PETA SASTRA DUNIA

Jika puisi esai ditempatkan dalam peta sastra dunia, posisinya terang-benderang:
kelas rendah.
Ia tidak menawarkan kebaruan bentuk yang radikal,
tidak membuka kemungkinan bahasa baru,
dan tidak memperkaya tradisi puisi secara estetik.
Bandingkan dengan:
puisi surealis,
puisi simbolis,
puisi liris eksistensial,
puisi epik modern,
atau puisi prosa hasil eksperimen bahasa mendalam.

Puisi esai tidak berdiri sejajar dengan tradisi tersebut.
Ia adalah bentuk antara—
bukan puisi sepenuhnya,
bukan esai sepenuhnya.
Ia nyaman.
Dan karena itu miskin risiko.

PUISI ESAI SEBAGAI PUISI LATAH

Puisi esai adalah puisi latah.
Ia meniru suara berita, bukan menciptakan suara sendiri.
Ia bergantung pada sumber, bukan pada pengalaman batin.
Ia mengandalkan metafora, tetapi miskin imajinasi.
Ia menjelaskan, bukan menggetarkan.

Dalam sejarah sastra, yang bertahan bukanlah karya yang paling aktual,
melainkan yang paling jujur secara estetik.
Dan di hadapan ujian waktu,
puisi esai—sebagai produk latah—akan mudah usang,
karena ia tidak lahir dari kedalaman,
melainkan dari kegaduhan.

Sastra tidak membutuhkan puisi yang rajin mencatat.

Sastra membutuhkan puisi yang berani diam,
merenung,
dan melahirkan dunia baru dari luka bahasa.

—–
Sumatera Barat, 2025