April 20, 2026
Illustration of a critical poem with the theme of dissecting words, reflecting on the power of literature, and the beauty of art despite criticism, set in Surabaya, Indonesia

Yusuf Achmad

Puisi kritis itu mengiris-iris kata. Ada belahan: “Mengapa kau biarkan puisiku diotak-atik,” dan irisan lainnya: “Bukankah sastra punya kuasa tidak harus disemena-mena.”

Aku terdiam—membiarkan tajamnya kritik dan belahan kata itu menjadi camilan. Renyah rasanya dan membuat lidahku tak lagi hambar, perutku tak lagi lapar.

Aku kupas media dan kuliti ia hingga terlihat isinya. Kutemukan: “Starry Night, The Persistence of Memory, Desa di Pagi Hari, atau ekspresionis Affandi.” Mereka adalah seni yang tak luput dari cacian, makian, hinaan buas dari belantara seni.

Bahkan si Glassart, yang asalnya dari serpihan-belahan seniman, adalah keindahan meski klaimnya harus dihindarkan.

Biarkan puisimu dipecah, dicerca, diris, dikoyak menjadi seolah kamu yang lain. Percayalah, ruh itu tak sama dengan raga yang pasti hancur lebur. Begitu pun dengan kamu, puisiku.

Aku menunduk menyimak, hendak berkata, namun tercekat dan terkesimak. Puisiku membelah diri menjadi untaian bak kitab suci. Ia pun rela dilucuti, asal hati tetap suci.

Surabaya, 18-1-2025