May 26, 2026
lina pahlawan sastra1

Dokumentation by Sastri Bakry

Oleh Leni Marlina

SUARA ANAK NEGERI NEWS.COM|Suasana di Teater Film Usmar Ismail, Jakarta, begitu penuh semangat pada malam 11 Januari 2025. Ketika lampu panggung meredup, para penonton—terdiri dari pecinta budaya, tamu internasional, dan tokoh masyarakat—terbawa ke masa penting dalam sejarah. Karya agung Randai III Siti Manggopoh yang dipersembahkan oleh Yayasan Sumbar Talenta dan Gerakan Mudo Minang (GEMUMI) bukan sekadar sebuah pertunjukan teater. Ia adalah bukti nyata bagaimana seni mampu melestarikan sejarah sekaligus memicu percakapan global tentang keadilan dan ketangguhan.

Dokumentasi: Sastri Bakry

Selama dua setengah jam, penonton terpukau oleh kisah hidup Siti Manggopoh, seorang perempuan Minangkabau yang berani memimpin pemberontakan melawan kebijakan pajak kolonial Belanda (belasting) pada tahun 1908. Kisahnya, yang sarat dengan semangat perlawanan dan perjuangan untuk keadilan, melampaui batas geografis dan berbicara kepada dunia.

Pertunjukan ini, yang melibatkan 100 penampil, dihadiri oleh tokoh penting seperti Sugeng Haryono (Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri), Raden Muhammad Arif (Duta Besar Indonesia untuk Kuwait), Dr. Andri Warman (Bupati Agam), dan Dr. dr. Hj. Aragar Putri Deli, MRDM, SpKKLP (Penasehat Ikatan Keluarga Srikandi Manggopoh/IKSM Jakarta). Kehadiran mereka menegaskan pentingnya karya budaya ini tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga di panggung internasional.

Siti Manggopoh: Pahlawan untuk Semua Generasi

Kisah hidup Siti Manggopoh adalah cerminan perjuangan universal untuk keadilan dan kesetaraan. Lahir di Nagari Manggopoh, Sumatera Barat, ia menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan belasting yang memberatkan masyarakat kecil dan mencabut hak-hak mereka.

Di masa ketika peran perempuan sering kali terbatas, kepemimpinan Siti melampaui norma dan ekspektasi. Ia memobilisasi masyarakat, merancang strategi serangan, dan menghadapi kekuatan kolonial dengan keberanian luar biasa. Meskipun akhirnya ia ditangkap dan suaminya diasingkan ke Manado, keberanian Siti tetap meninggalkan jejak yang mendalam dalam ingatan kolektif masyarakatnya.

Berbicara tentang sosok seperti Siti, filsuf dan peraih Nobel Rabindranath Tagore pernah berkata, “Sejarah umat manusia bukanlah tentang yang berkuasa, tetapi tentang yang gigih. Dalam semangat perlawanan, manusia menemukan jati dirinya yang paling sejati.” Kisah Siti menggambarkan pernyataan ini dengan sempurna, menjadikannya narasi universal tentang ketangguhan.

Siti Manggopoh: Pahlawan Abadi yang Diabadikan dalam Puisi

Nama Siti Manggopoh bergema kuat dalam sejarah Indonesia sebagai simbol ketangguhan, keberanian, dan perlawanan terhadap penjajahan. Warisannya yang luar biasa terus menginspirasi tidak hanya para sejarawan dan aktivis tetapi juga para penyair yang menerjemahkan semangat heroiknya ke dalam karya sastra yang abadi. Baru-baru ini, dua penyair kontemporer kembali mengangkat kisahnya, memperkaya literatur global dengan perspektif yang mendalam tentang pengaruhnya yang tak lekang oleh waktu.

Dalam puisinya yang menggugah, “Siti Manggopoh: Perempuan Pejuang Tangguh,” Leni Marlina menggambarkan Siti sebagai mercusuar keteguhan dan keberanian yang tak tergoyahkan. Diterbitkan pada tahun 2024 di Forum Sumbar.Com, karya Marlina dengan penuh keindahan menangkap esensi perjuangan Siti melawan kebijakan pajak kolonial Belanda. Dengan kepiawaiannya dalam berbahasa, Marlina menyoroti peran penting Siti dalam memimpin komunitasnya selama perlawanan tahun 1908, memastikan bahwa warisannya terus menginspirasi generasi mendatang untuk menjunjung tinggi keadilan dan martabat.

Sementara itu, “Rinduku Pada Mande Siti Manggopoh,” sebuah karya yang menyentuh hati dari Wisye Paula Deja, menawarkan penghormatan mendalam kepada sosok keibuan Siti Manggopoh dan pengorbanannya demi kebaikan bersama. Diterbitkan pada tahun 2025 di Suara Anak Negeri News.Com, puisi ini mencerminkan hubungan emosional yang mendalam terhadap kisah Siti, menggambarkannya sebagai sosok ibu yang warisannya sangat dihormati. Komposisi liris Deja menyampaikan kekaguman dan kerinduan, mengingatkan pembaca pada sisi manusiawi dari figur historis ini.

Baik Marlina maupun Deja adalah anggota aktif komunitas penulis Satu Pena Sumatera Barat, Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat (PPIPM-Indonesia), dan Forum Siti Manggopoh – organisasi yang berdedikasi untuk melestarikan dan merayakan warisan Siti Manggopoh melalui berbagai bidang termasuk saatra dan budaya. Kontribusi kedua penulis puisi ini menyoroti bagaimana puisi berfungsi sebagai media universal untuk menghormati tokoh-tokoh sejarah, menjembatani masa lalu dan masa kini, sekaligus membawa pesan yang melampaui batas budaya.

Melalui kedua puisi tersebut, kisah Siti Manggopoh memperoleh makna internasional, menawarkan lensa untuk melihat kekuatan kepemimpinan perempuan dan perjuangan sejati untuk keadilan serta kesetaraan. Heroisme Siti terus menginspirasi pembaca di seluruh dunia, membuktikan bahwa nilai-nilai yang ia perjuangkan tetap relevan dalam dunia yang saling terhubung saat ini.

Pesan Universal tentang Keadilan dan Pemberdayaan

Tema-tema dalam kisah hidup Siti Manggopoh bergema dengan perjuangan budaya di seluruh dunia. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, pendidik Brasil Paulo Freire menulis, “Pembebasan adalah praxis: tindakan dan refleksi pria dan wanita terhadap dunia mereka untuk mengubahnya.” Pemberontakan Siti melawan ketidakadilan kolonial adalah perwujudan nyata dari praxis ini. Perlawanan tersebut bukan sekadar keberanian, tetapi refleksi mendalam atas nilai keadilan dan kebebasan untuk masyarakatnya.

Di era ketika kesetaraan gender dan keadilan sosial menjadi kebutuhan global, warisan Sitia menawarkan pelajaran abadi: bahwa perempuan bukan hanya peserta dalam sejarah, tetapi juga pembentuknya. Kisahnya selaras dengan visi Eleanor Roosevelt yang memperjuangkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia: “Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan impian mereka.” Impian Siti akan keadilan dan kemandirian tetap menjadi inspirasi bagi komunitas tertindas di seluruh dunia.

Seni sebagai Jembatan Antarbudaya dan Generasi

Randai III Siti Manggopoh adalah perpaduan luar biasa antara warisan budaya Minangkabau dan narasi universal. Dengan elemen seperti Tari Pasambahan (tarian penyambutan), Randai Kreasi (narasi dramatis dengan humor khas Minangkabau), Silat Tradisional, dan Tari Piriang (tari piring), produksi ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pengalaman edukatif.

“Seni memiliki kekuatan untuk melampaui batas dan membangunkan jiwa,” kata Martha Graham, penari dan koreografer terkemuka Amerika. Kebenaran ini terasa dalam kedalaman emosional pertunjukan yang menghidupkan perjuangan Siti dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh kata-kata saja.

Disutradarai oleh Joserizal Manua dan Joharsen, dengan kepemimpinan kreatif Agus Siswanto dan Sastri Bakry, produksi ini berhasil membuat sejarah terasa dekat bagi generasi modern. Agus Siswanto berkata, “Dedikasi tim kami mengubah persiapan selama tiga bulan menjadi pertunjukan yang tak terlupakan.”

Signifikansi Global dari Pelestarian Budaya

Relevansi internasional Randai III Siti Manggopoh terletak pada kemampuannya menjembatani masa lalu dan masa kini, lokal dan global. Dengan menampilkan ketangguhan seorang pahlawan Minangkabau, pertunjukan ini menyoroti nilai-nilai bersama yang menyatukan umat manusia: pencarian keadilan, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian identitas budaya.

Kehadiran pemikir global dan pejabat di acara ini semakin menegaskan pentingnya pertunjukan ini sebagai dialog budaya. Sugeng Haryono memuji produksi ini atas dampak edukasinya, dengan mengatakan, “Ini bukan sekadar pertunjukan; ini adalah pelajaran bagi dunia. Ia mengingatkan kita pada nilai-nilai yang harus kita junjung dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.”

Ridwan Datuak Tumbijo menambahkan, “Kisah Siti Manggopoh adalah warisan yang harus kita lestarikan dan bagikan. Ini adalah inspirasi bagi orang-orang di seluruh dunia untuk memperjuangkan hak mereka dan melawan penindasan.”

Sebuah Seruan: Merayakan Warisan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Saat adegan terakhir memudar dan penonton berdiri memberikan tepuk tangan, satu hal menjadi jelas: Randai III Siti Manggopoh lebih dari sekadar hiburan. Ini adalah seruan—pengingat akan kekuatan budaya untuk menyembuhkan, mendidik, dan menginspirasi.

Dalam kata-kata antropolog budaya Margaret Mead, “Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang penuh perhatian dan berkomitmen dapat mengubah dunia. Sesungguhnya, hanya itulah yang pernah terjadi.” Kisah Siti Manggopoh dan produksi yang menghidupkan warisannya membuktikan keyakinan ini, menunjukkan bahwa bahkan tindakan keberanian terkecil dapat menginspirasi lintas generasi dan batas negara.

Mari kita terus membawa semangat Siti Manggopoh, memastikan bahwa warisannya tetap menjadi inspirasi dunia yang menghargai keadilan, kesetaraan, dan ketangguhan manusia.

——————————–
[LM – Suara Anak Negeri News.com; PPIPM-Indonesia; Satu Pena Sumbar; FSM, didukung oleh AI]

Dokumentasi: Sastri Bakry