Rafles Ngilamele, S.STP.,M.Si: Pengajaran yang Menyentuh Hati, Integrasi Teknologi dan Kasih Sayang Guru
Rafles Ngilamele, S.STP.,M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Supiori Provinsi Papua
Dilaporkan oleh: Paulus Laratmase
–
Rencana penerapan mata pelajaran (Mapel) Coding dan Kecerdasan Buatan (AI) di tingkat sekolah dasar (SD) menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia. Langkah ini adalah bagian dari pelaksanaan salah satu misi dari Asta Cita yang dicetuskan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Misi keempat dari Asta Cita ini bertujuan untuk “Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.”
Pembelajaran coding sejak usia dini akan membuka peluang bagi siswa untuk memahami logika berpikir berbasis teknologi dan mengasah kreativitas mereka dalam menciptakan solusi menggunakan perangkat digital.
Namun, penerapan mata pelajaran ini bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana cara-cara yang efektif dapat diterapkan agar pembelajaran ini bermanfaat sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan setiap daerah, termasuk di Papua.
Implementasi Coding dan AI di Papua: Tantangan dan Peluang
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Supiori, Rafles Ngilamele, S.STP., M.Si., mengomentari pentingnya pelaksanaan mata pelajaran Coding dan AI dalam konteks Papua.
Menurutnya, Papua memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, baik dari segi kondisi sosial, ekonomi, maupun geografis. Oleh karena itu, implementasi kurikulum pendidikan berbasis teknologi harus disesuaikan dengan kondisi setempat.
“Di Papua, kurikulum Merdeka Belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim telah diterima dengan baik. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada guru untuk menyampaikan materi dengan cara yang lebih menarik, tidak monoton, dan sesuai dengan kondisi siswa,” kata Rafles Ngilamele.
Papua, dengan keberagaman etnis dan budaya, membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih fleksibel. Oleh karena itu, pengajaran teknologi seperti Coding dan AI harus mampu menyatu dengan konteks lokal yang ada, memperhatikan kondisi psikologis siswa, dan juga memberikan ruang bagi pengembangan potensi individu di tengah tantangan geografis dan aksesibilitas yang terbatas.
Kurikulum Merdeka Belajar: Solusi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Kurikulum Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk Papua.
Kurikulum ini memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru tidak lagi terikat pada pola pengajaran yang kaku, tetapi bisa lebih kreatif dalam menyampaikan materi sesuai dengan karakteristik siswa di setiap daerah.
Menurut Rafles, kurikulum ini memiliki filosofi besar yang memungkinkan para pendidik untuk memotivasi siswa dengan pendekatan yang lebih personal dan kontekstual. Dengan demikian, pengajaran tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk mengembangkan potensi diri siswa secara menyeluruh, termasuk dalam pemahaman teknologi.
Pengajaran yang Menyentuh Hati: Integrasi Teknologi dan Kasih Sayang Guru
Rafles juga menekankan bahwa pengajaran yang efektif tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga bagaimana guru mampu menyentuh hati dan nurani siswa.
“AI dan Coding memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana guru mengajar dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang itu akan mendorong siswa untuk lebih menerima teknologi sebagai bagian dari proses belajar,” ujar Rafles.
Konsep “loving” dalam pengajaran, menurut Rafles, adalah aspek yang tidak boleh diabaikan. Saat guru mengajar dengan penuh perhatian dan kasih sayang, siswa akan merasa lebih diterima dan didorong untuk menguasai materi dengan lebih baik. Dengan pendekatan yang mengedepankan kasih sayang ini, teknologi seperti AI dan Coding tidak hanya menjadi alat bantu belajar, tetapi juga menjadi bagian yang menyatu dalam pengalaman pendidikan yang lebih mendalam.
Konklusi
Bagi Rafles Ngilamele, S.STP.,M.Si, penerapan mata pelajaran Coding dan AI di sekolah dasar adalah langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing di kancah internasional. Melalui kurikulum Merdeka Belajar yang memberikan kebebasan bagi para guru, Indonesia diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Di Papua, meski terdapat tantangan, potensi untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis teknologi tetap besar asalkan disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan kondisi sosial siswa. Integrasi teknologi dalam pendidikan harus dilakukan dengan sentuhan kasih sayang dari para pendidik, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berbasis pengetahuan, tetapi juga berbasis empati dan perhatian terhadap siswa.