“RAMADHAN DATANG DAN PERGI”: Antologi Puisi – Editor: Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, Penyala Literasi, FSM, ACC SHILA)
/1/
RAMADHAN DATANG DAN PERGI
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah debu di jalan panjang yang ditaburi cahaya-Nya,
tertiup ke timur dan barat, namun selalu menuju ke satu arah.
Ramadan, engkau bagaikan sungai yang mengalirkan keheningan,
membawa dahaga kami menuju mata air langit.
Kami berbuka dengan doa, bersahur dengan keikhlasan,
dan di antara keduanya, kami menemukan diri kami sendiri
dalam ketiadaan yang paling sempurna.
Lapar ini bukan kehampaan, tetapi pintu menuju kenyang yang sejati,
sebab tiada makanan lebih nikmat selain perjamuan rahmat-Nya.
Ramadhan, engkau datang sebagai waktu,
lalu meninggalkan kami dalam kelahiran baru.
Kami menatap bayangan kami yang semakin tipis di bawah cahaya,
lalu bertanya:
“Apakah kami masih memiliki diri kami, atau telah tenggelam dalam-Nya?”
Padang, Sumatera Barat 2018
/2/
Menyepi Dalam Keramaian
Puisi Oleh Sastri Bakry
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, FSM]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Berbungkus warna hitam dan putih
Bergerak bak gelombang yang menari di lautan
Rindu pada rindu yang tak tertahankan
Ketika kayu adalah pena di tengah gurun pasir
Yang tak lagi tampak
Tintanya lautan biru yang tak akan habis
untuk diceritakan
Gurun pasir telah lama hilang
berganti beton beton tinggi yang mencakar jauh ke langit
Ingatkah dikau ketika kekasih Allah
Berjuang bersama para syuhada di bukit Uhud
Keyakinan yang mengantarkannya ke puncak bukit pemanah untuk meraih kemenangan
Sabar dan tawakal kepada-Mu
Bak pohon besi yang tak tergoyahkan
Apakah kita tak tergerak?
Saatnya menyepi sejenak dalam keramaian
Merenung diri berharap ridho
Menghapus dosa hidup yang terabaikan
Dalam ampunan-Mu tertunduk malu
Jabal Uhud, Makkah,
Februari 2025
—————————————–
Sastri Yunizarti Bakry lahir tahun 1958, merupakan seorang pensiunan birokrat, aktivis, penulis, penyair, sastrawati, seniman multitalenta dan budayawan asal Padang (kelahiran Pariaman), Sumatera Barat. Sastri Bakry dkk mendirikan Satu Pena Sumbar tahun 2022, dan terpilih dan dipercayakan sebagai Ketua Perkumpulan Penulis Satu Pena Sumatera Barat sampai sekarang. Informasi lebih lanjut mengenai Sastri Bakry bisa dilihat di link: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sastri_Yunizarti_Bakry
/3/
Senja Terakhir di Bulan Suci
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita, para peziarah waktu,
Menapaki jejak sujud yang tak lagi muda,
Ramadhan mencatat langkah-langkah kita,
Pada hamparan fajar yang hampir redup.
Kita duduk di antara batas terang dan gelap,
Menyusuri rindu yang tak ingin padam,
Matahari mengemas sinarnya dalam selendang jingga,
Dan kita, masih meraba cahaya yang tersisa.
Wahai bulan yang mengajari kami menangis,
Apakah doa kami sudah sampai di langit?
Ataukah hanya getar ragu yang tersisa,
Dalam tasbih yang terus melingkar di jari?
Wahai Ramadhan,
janganlah hanya menjadi bayang,
Jadilah lorong yang tetap terbuka,
Agar kami tak tersesat saat engkau pergi,
Agar cahaya tetap menuntun langkah kami.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/4/
MARI BERPUASA
Puisi oleh Saunir Saun
[PPIPM – Indonesia, Satu Pena Sumbar, Poetry-Pen IC, Kreator Era AI Sumbar]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ayo, kawan semua
Kita berpusa
Kini Ramadan telah tiba
Puasa untuk mencapai takwa
Kenapa kita harus bertakwa
Karena itu tingkat yang paling istimewa
Kata Tuhan itu derajat yang paling mulia
Tak ada tempat bagi yang bertakwa kecuali surga
Kita ini dipanggil Tuhan
Untuk berpuasa hanya satu bulan
Menahan minum serta makan
Dan syahwat yang dianjurkan setan
Puasa itu hanya sebulan
Sampai habis bulan Ramadan
Dilakukan dengan penuh perhitungan
Dan mengharap pahala dari Tuhan
Kalau tak mau puasa, tentu, bisa saja
Segalanya yang kita punya
Dimakan dan diminum saja
Kalau tidak takut pada dosa!
Kalau bisa berpikir jernih
Puasa itu lebih enak daripada yang gurih-gurih
Karena merasakan ketaatan kepada Tuhan
Di hati tanpa dosa, beban dan kesalahan
Hanya sombong pada diri
Yang membuat puasa tak diperhati
Bangga mempelihatkan diri
Merasa berani melawan Ilahi
Kalau mau membuka diri
Sering-seringlah mendengarkan kaji
Akan masuklah sinar atau nur Ilahi
Tenanglah kalbu atau hati
Puasa itu ibadah istimewa
Karena ia untuk Alloh ‘azza wa jalla
Dia, Tuhan, yang akan tentukan balasannya
Yang kita sendiri tidak tahu batasannya
Sesungguhnya puasa itu sangat nikmat
Dengan Tuhan diri terasa dekat
Karena sedang mensyukuri nikmat
Kalau tak bersyukur akan ditimpa azab
Kalau kita mau terus belajar
Ada yang dijanjikan yang sangat besar
Bahwa dosa akan diampuni
Yang ada dari dahulu sampai kini
Puasa melatih kesabaran dan keikhlasan
Serta juga kejujuran
Semuanya sifat yang dituntut Tuhan
Dalam kehidupan
Puasa melarang kita berkata kotor
Tidak boleh mulut lepas tutup seperti ember bocor
Itu akan merusak ibadah puasa
Begitu Tuhan melatih kita supaya bahagia
Ada yang sangat kita harapkan
Bahwa di akhirat ada syafaat diberikan
Syafaat yang menghapus kesalahan
Syafaat dari puasa yang kita lakukan
Karena Tuhan!
Kampungku, Sumatera Barat
3 April 2023, 12 Ramadan 1444 H.
/5/
Ramadhan Menetap di Hati
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar,
FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ramadhan,
kami adalah bayangan yang mencari cahaya,
datang kepadamu seperti embun yang tersesat di tengah sahara,
menawarkan dahaga kepada kehausan itu sendiri.
Kau adalah sungai yang tidak pernah menanyakan dari mana hujan datang,
namun tetap mengalir menuju laut yang abadi.
Kami adalah riak yang tenggelam dalam aliranmu,
meninggalkan segala ilusi tubuh,
hingga hanya ruh yang tersisa, bergetar menyebut nama-Nya.
Di dalam malam-malammu, kami belajar membaca keheningan,
menyusun doa dari hela napas,
membiarkan hati kami menjadi padang luas,
agar kasih-Nya turun seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Ramadhan,
kami tidak ingin sekadar singgah di gerbangmu.
Bawalah kami menembus batas,
biarkan lapar ini menjadi api yang membakar segala hijab,
hingga yang tersisa hanyalah nyala yang mengenal Sang Cahaya.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/6/
SEBELUM AKU MATI, LAUT MATI
Puisi Oleh Anto Narasoma
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Begitu kentara biru
yang memekat pada
air mukamu
Karena dalam hamparan garam ; memunculkan maut-maut mematikan dalam kecipak air yang sunyi kehidupan
Saat Kau bentangkan perasaan Cinta
sebagai Laut Mati;
berkali-kali ganggang dan ikan pari mati terpanggang dalam cuaca kemarau abadi
Berkali-kali kau lampiaskan perkataan cinta antara air dan taburan garam di tubuhmu ; kau hanya Laut Mati bagi ribuan kematian
“Laut Mati….Laut Mati ! Kau terbaring dalam gerak terendah bagi cuaca panas. Maka tidurlah sebagai danau hipersalin yang sunyi dari deru kapal”
Tatkala airmu melaju dalam kata-kata pilihan seluas Laut Mati ;
sejumlah sajakku menjadi danau terendah yang membaca puisi sebelum aku mati
Palembang, Sumatera Selatan
18 Januari 2021
/7/
RAMADHAN DI DADA
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami membaca Ramadhan di dada kami,
seperti membaca puisi yang tidak memiliki awal atau akhir,
hanya aliran makna yang menuntun menuju-Nya.
Kami menyelami zikir seperti samudra tanpa pantai,
dimana waktu kehilangan bentuknya,
dan doa adalah gelombang yang pecah dalam keheningan.
Kami melihat bulan terakhir ini seperti cermin yang retak,
memantulkan wajah kami yang terbuat dari cahaya dan bayang-bayang,
bertanya pada diri sendiri,
“Apakah kami masih terlalu penuh untuk diisi oleh-Nya?”
Ramadan, jika kami adalah bara,
tiupkanlah angin agar kami menyala.
Jika kami adalah angin,
iringilah kami menuju api yang menghanguskan diri,
hingga yang tersisa hanya debu yang mengeja nama-Nya di udara.
Kami tidak ingin Ramadhan berlalu seperti angin melewati dedaunan,
kami ingin ia menjadi nadi yang mengalir dalam jiwa kami,
menjadi luka yang mengajarkan kami rindu,
menjadi perpisahan yang tidak pernah benar-benar berpisah.
Padang, Sumatera Barat,
2018
/8/
HIDUP MULAI DARI NOL
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Manusia makhluk tak berdaya
Hamba Tuhan yang dha’if
Tiada yang sempurna
Lahir mulai dari nol
Dalam menjalani hidup tekor,
karena ada saja noktah kotor
Setelah berpulang
Semua dihitung ulang
Dosa bisa jadi penghalang
Amalan yang akan menopang.
Beranda, Banda Aceh,
29 Maret 2025
/9/
Jejak di Sepertiga Malam Bulan Suci
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di sepertiga malam kita berlutut,
Merajut permohonan dengan benang air mata,
Kita goreskan harapan di jendela waktu,
Agar Ramadhan tak sekadar singgah.
Tetapi, wahai jiwa yang resah,
Sudahkah kita benar-benar mencintainya?
Ataukah kita hanya sekadar pengunjung,
Yang datang dan pergi tanpa jejak?
Kita titipkan nama di hembusan takbir,
Namun adakah kita benar terlahir kembali?
Ataukah dosa-dosa masih menyelinap,
Di lipatan doa yang setengah terbuka?
Ramadhan, jangan biarkan kami hanya mengingatmu,
Ajari kami menjaga nyalanya,
Agar tak padam saat fajar lain tiba,
Agar malam-malam lain tetap bertabur cahaya.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/10/
MALAM SERIBU BULAN
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kutanya malam, diam
Kupandang bulan, senyum
Kusapa semilir angin, membisu
Dan kutanya fajar yang menyingsing
Katanya, dia telah tiba sejenak, lalu pergi
Dialah lailatulqadar
Dialah malam kemuliaan
Malam yang selalu dinantikan
Malam yang berselimut rahasia Ilahi
Malam yang mulia bertahta seribu bulan.
Beranda, Banda Aceh,
21 Ramadhan 1446 H
/11/
Diantara Gema Azan
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malam ini, jalanan dipenuhi bisikan tasbih yang tak terdengar,
jam-jam berguguran seperti kelopak bunga yang ditulis dalam kitab yang tak berjudul.
Kami berjalan di antara bayangan lampu kota,
sementara cahaya bulan menetes di atas aspal yang hitam.
Di antara gema azan yang samar dan nyala neon yang dingin,
kami mencari sepotong cahaya yang belum ternoda.
Langit menulis rahasia dalam isyarat,
sementara tangan kami masih menggenggam dunia yang retak.
Kami melipat waktu di antara halaman Al-Qur’an,
mencari ayat yang hilang dalam diri kami sendiri.
Namun jawabannya selalu tiba di sepertiga malam—
di mana setiap keheningan adalah doa yang sedang dikabulkan.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/12/
Pelayaran Jiwa
Puisi Oleh
Nita Yeni Asmara
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat, PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dalam kapal waktu,
kita semua berlayar,
Menuju pelabuhan akhir, tak terelakkan.
Arus kehidupan mengalir deras, tak pernah padam,
Hingga tibalah saatnya, jangakar diturunkan.
Namun ditengah pelayaran ini, semangat berkobar,
Menikmati setiap detak, setiap warna.
Menjalin kasih,
berbagi cerita,
Menebar kebaikan, menyinari dunia.
Kematian bukanlah akhir, melainkan babak baru,
Perjalanan jiwa menuju keabadian.
Maka hiduplah seutuhnya, dengan cinta dan tawa,
Agar kelak tak ada penyesalan yang terbawa.
Setiap langkah adalah jejak yang terukir,
Setiap pilihan membentuk siapa diri,
Mari hadapi masa depan dengan keyakinan,
Karena hidup ini anugerah yang tak ternilai.
Bukittinggi, Sumatera Barat
2025
————————————–
Nita Yeni Asmara merupakan alumni Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS UNP, mantan aktivis HIMA dan BEM FBS UNP yang menyukai dunia penulisan dan sastra. Sekarang Nita mengabdikan diri menjadi seorang guru di Bukitinggi.
/13/
KOTA YANG BERPUASA
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami menunggu fajar di kota yang kehabisan bintang,
di mana suara azan terkurung dalam tembok-tembok ketakutan.
Ramadan berjalan di antara reruntuhan,
mengetuk pintu-pintu yang hanya menyisakan bekas jendela.
Kami berbuka dengan sepotong roti dan segenggam harapan,
meneguk kesabaran dari gelas yang retak.
Di dalam sujud, kami mendengar bisikan bumi yang lelah,
memanggil hujan dari langit yang tertahan.
Malam seribu bulan turun tanpa lentera,
hanya peluru yang menggantikan cahaya.
Namun kami tahu, Ramadan tak hanya hidup dalam damai,
ia juga bernafas dalam luka—
sebab dalam setiap kesakitan, ada pintu surga yang terbuka.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/14/
BILA RAMADHAN PERGI
Puisi Oleh Muslimin
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
ramadhan usai
ramadhan pergi
semesta beku
dingin waktu
arah buntu
meski fitri
teriris hati
belati sunyi
hampa jiwa
jiwa nelangsa
raga letih
nalar pedih
langit hitam
mentari kelam
rembulan pendam
tumbuhan enggan
satwa bosan
air cemar
udara gahar
hanya ampun-Mu
hanya rela-Mu
hanya maafmu
hanya tulusmu
memudar sembilu
meretas dungu
asa berpacu
tekad laju
hidup seluruh
hanya hamba-Mu
Lamongan, Jawa Timur,
25 Maret 2025
———————————–
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 diq⅕Aźzàh MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/15/
LUKA YANG BERPUASA
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah luka yang berpuasa,
memotong malam dengan keheningan yang tajam.
Di langit yang berlapis debu, bulan tergantung
seperti mata yang menangis dalam sujud terakhir.
Kami menyisir jalan-jalan yang kehilangan namanya,
mencari jejak Ramadan dalam retakan tembok,
di sela-sela angin yang mengalir tanpa wajah.
Puasa ini bukan hanya menahan lapar,
tetapi menahan dunia agar tak runtuh lebih jauh.
Di ujung waktu, kami membelah roti dan doa,
menyaksikan lengkung senja berubah menjadi luka merah.
Di dalam dada, kami menanam harapan
seperti benih yang terus mencari matahari,
meski tanah telah lupa cara mencintai hujan.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/16/
RUMAH DI BIBIR TEBING
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kini kita berada pada era mencemaskan
Ibarat rumah yang berada di bibir tebing
Bebatuan terlihat mulai jatuh satu-satu
Rumah besar kita bersama telah gelap
Tak terlihat lagi secercah cahaya
Untuk sekadar menerangi asa
Tak terlihat lagi ada payung
Untuk tempat berlindung
Segalanya telah hilang
Di tangan pendusta
Dan para penjilat
Memang tak semua kita akan tenggelam
Yang terjadi kita akan terbenam bersama
Kecuali segelintir orang dari yang sedikit
Agar terhindar kita mesti segera bangkit.
Banda Aceh
17 Maret 2025
/17/
Ketika Ramadhan Pergi
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita menatap kepergianmu, Ramadhan,
Seperti anak kecil yang kehilangan rumahnya,
Langit menutup lembaran-lembaran cahaya,
Dan kita, masih menggenggam sisa harapan.
Duhai malam-malam yang bercahaya,
Di mana kita harus mencari bayang-Mu?
Di sela doa yang menggigil sendu,
Atau di sisa embun yang jatuh pilu?
Kita hitung detik dengan kecemasan,
Seakan Ramadhan akan lenyap selamanya,
Namun, bukankah ia bisa tetap tinggal?
Jika kita berkenan menyimpannya di hati?
Ramadhan, jadilah nafas dalam dada,
Jadilah butiran tasbih di langkah-langkah kita,
Agar saat waktu mempertemukan kita lagi,
Kita masih mengenal cahaya-Mu.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/18/
SUARA MALAM
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Suara itu..,
Laksana nyanyian malam
kaum sufi
Yang singgah dari ziarah
menjelang fajar
Suara itu..,
Bagaikan rentak telapak
para musafir
Yang tergesa-gesa
menjelang subuh
Suara itu..,
Perlahan merambat lewat
resonansi angin
Yang mengusap hening
lailatulqadar.
Madinah Al-Munawwarah, 2018
/19/
DIANTARA SEPERTIGA MALAM
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami berjalan di jalan yang tak memiliki ujung,
sebab ujungnya bukan tujuan,
tetapi awal dari kehilangan diri.
Di antara sepertiga malam,
kami mendengar suara yang tak memiliki pemilik,
membisikkan nama-nama yang tak dapat ditulis.
Ramadhan,
kau bukan bulan,
bukan waktu—
kau adalah ketiadaan yang menjadikan kami ada.
Kami menguliti diri kami dengan ayat-ayat-Nya,
menggali doa seperti orang-orang yang mencari sumur di padang pasir.
Dan saat kami minum,
kami mengerti:
bahwa air itu adalah cahaya,
dan cahaya itu bukan milik mata,
tetapi milik hati yang telah kehilangan segalanya,
kecuali Allah,
Sang Maha Pencipta,
Sang Maha Pengampun dosa-dosa hamba-Nya.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/20/
Kerangkeng Pikiran
Puisi Oleh Saunir Saun
[PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kuat sekali kerangkeng ini
Seperti kuatnya kerangkeng besi
Tapi tidak tampak yang mengililingi
Seperti besi-besi berdiri
Apakah ini kerangkeng tak terlihat
Karena hebatnya si tukang buat
Tanpa tampak besinya tapi tidak bisa dilompat
Tapi di dalamnya pikiran penghuni yang ditambat
Siapa saja yang sudah di dalam
Jalan keluar sudah tampak kelam
Sepertinya menyiratkan ketakutan
Tentang apa yang seharusnya dilakukan
Dan mata pun sulit terpejam memikirkan!
Berbeda dengan pemuda-pemuda Al-Kahfi
Yang ditidurkan di gua dengan disenangkan hati
Mereka pemuda-pemuda taat kepada Ilahi
Lama di sana sampai di luar telah bertukar beberapa generasi
Sampai uang mereka di pasar tidak dikenal lagi
Gua dan kerangkeng memang tidak sama
Walau penghuninya manusia
Gua al-Kahfi itu isinya manusia mulia
Walau sampai ratusan tahun di dalamnya
Mereka selalu di rahmati Tuhan Yang Maha Kuasa
Atas kebaikan-kebaikan mereka
Antara lain kepada orangtua mereka
Sehingga pintu gua terbuka
Tentu tidak sama dengan manusia di dalam kerangkeng
Yang tidak dapat keluar walaupun dinding tak tampak seperti benteng
Mungkin hidup dianggap terlalu enteng
Tanpa tedeng aling-aling
Hidup harus mengikuti jalan Tuhan
Agar selalu mendapatkan bimbingan
Walaupun sekali-kali datang juga ujian
Untuk meningkatkan iman
Semoga keduanya jadi pelajaran
Dalam kehidupan
Aamiin.
Rumahku, Sumatera Barat
11 Maret 2025
——————————————
Saunir Saun merupakan seorang penulis dan juga pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua” dan novel “Lelaki yang Berhijrah”. Selain itu ia sudah menulis
7 buku kumpulan puisi berjudul 55 Puisi-Puisi Berhikmah (jilid 1-7) dan masih ada ratusan judul puisi yang belum dibukukan.
/21/
Lapar dan Haus Bukan Untuk Dunia
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah huruf-huruf yang tenggelam dalam fajar,
menjadi doa yang pecah di bibir cahaya.
Malam-malam ini, kami menyulam langit dengan tasbih,
menyusuri malam seribu bulan dengan tangan yang gemetar.
Kami memandang dunia dari jendela yang tak lagi ada,
sebab Ramadhan telah mengajarkan kami
cara melihat dengan mata yang lebih dalam.
Kami menyentuh alif, ba, ta
dan menjadikannya kapal
yang membawa kami ke tengah lautan kasih sayang-Nya.
Di akhir perjalanan,
kami akan kembali lapar,
kembali haus,
namun bukan untuk dunia—
hanya untuk cahaya yang tak dapat digenggam,
hanya untuk kasih yang tak dapat diungkap,
hanya untuk-Nya.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/22/
KURINDUKAN SELALU
(Ramadhan ya Ramadhan )
Ramli Djafar (Xie Zhongli)
[PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC, ACC SHILA; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Wahai Ramadhan
Sebentar saja
Sesaat lagi
Engkau akan berlalu
Seiring bergantinya musim disegala musim
Di hati
Di hidup kami para musafir
Wahai Ramadhan
Betapa kurindukan engkau selalu
Kemenangan besar selalu engkau janjikan
Penuhi ibadah puasa kami
Sempurnakan amal pesona di jiwa
Wahai Ramadhan
Ditiap tahun
Direntang waktu yang engkau janjikan
Datang diantara pergantian bulan dan bulan
Membawa segala rahmat
Wahai Ramadhan
Engkau datang membawa rahmat pengampunan
Pelipur segala rasa di jiwa
Pengobat rindu di hati
Penguat jiwa yang merana
Penerang jalan kehidupan
Wahai Ramadhan
Sebentar lagi engkau akan berlalu
Di masa mendatang engkau pasti datang
Namun
Adakah kesempatan itu lagi ?
Adakah kami bisa menjemput segala asa daripadamu ?
Adakah kami ada di waktu itu ?
Wahai Ramadhan
Kusapa engkau dengan lirih
Dengan getar di dalam segala doa
Semoga bertemu di masa yang engkau janjikan
Padang, Sumatera Barat,
29 Maret 2025
———————————–
Ramli Djafar merupakan anggota aktif PPIPM-Indonesia dan penulis aktif Satu Pena Sumbar, anggota Kreator Era AI Sumbar, juga merupakan anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community. Sejumlah puisinya sudah diterbitkan dalam bahasa Cina di jurnal puisi ACC Shanghai International Literary Association (ACC SHILA).
/23/
RAMADAN MEREMBES DALAM DIRI
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ramadan merembes dalam diri, seperti air yang menusuk celah batu,
meluruhkan kerak dunia dari tulang-tulang kita,
memudarkan dosa dalam lumut yang berbisik:
“Sebelum kau pergi, biarkan aku hilang.”
Ia berjalan di dalam kita seperti bayangan tanpa tubuh,
memanjang di sepanjang sujud,
melipat jarak antara langit dan hati,
hingga doa-doa pecah menjadi angin yang menunggu Tuhan.
Malam-malam terakhir adalah dedaunan yang gugur ke tanah,
tapi akar tetap menggenggam—
seperti tubuh kita yang menyerah,
tapi ruh tetap menolak pergi dari cahaya.
Saat Ramadan berlalu, ia tidak pergi—ia membelah dada kita menjadi sungai,
agar kelak kita mengalir kembali padanya,
bukan sebagai tubuh, bukan sebagai nama,
tetapi sebagai kesunyian yang memahami makna.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/24/
Kami Berdiri di Ujung Fajar
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ramadhan datang seperti pusaran matahari,
berputar di langit usia, membakar sisa-sisa kelam,
dan kita, hanya bayang-bayang yang berlari,
mengejar terang, takut tertinggal dalam gelap.
Tetapi waktu adalah pemakan cahaya,
ia mengunyah lentera yang kita jaga,
dan bertanya: apakah nyalanya tetap hidup,
atau hanya abu yang diterbangkan angin Syawal?
Wahai yang Maha Menggenggam waktu,
bisakah Kau lipat langit dan menahan sang surya,
agar Ramadhan tak menjadi kilasan,
melainkan napas yang tak berakhir?
Kami berdiri di ujung fajar,
melihat bulan itu tenggelam di ufuk,
tapi biarkan cahayanya tetap berdenyut,
di dada kami, di waktu yang tak pernah mati.
Padang, Sumatera Barat, 2018
/25/
RAMADHAN DI TAPAL BATAS
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Lama aku mematut rona senja yang
terasa kian melambat
Dan orang-orang yang tengah
berpuasa di hari menjelang akhir
ramadhan
Sementara kafilah-kafilah mulai
beranjak meninggalkan batas kota
Menuju kampung halaman di mana
sanak saudara telah menanti
Aku tak tahu siapa sesungguhnya
yang meninggalkan siapa
Dalam perspektif kekinian, kemarin
dan esok, bisa jadi kitalah yang
meninggalkan ramadhan
Karena kita bergerak mengikuti
dimensi waktu, sementara
ramadhan siklus yang berulang
setiap dua belas bulan
Kini kita sedang bergerak mengikuti
dimensi waktu itu, dimana Idulfitri
telah menanti
Sementara ramadhan akan tertinggal
di kesunyian kemarin yang teramat
syahdu
Tapi mungkin itu tidak terlalu penting, karena sesungguhnya ini adalah
momen perpisahan
Di mana aku dan kita semua akan
saling meregang dekapan dengan
ramadhan
Setelah melewati malam-malam
sepuluh akhir dengan ganjaran
yang tak terkira
Ramadhan..,
Dekapanmu begitu erat penuh
kehangatan
Sungguh aku tak ingin lepas dari
pelukanmu
Sepuluh malam terakhir di mana
kita mengawali dan mengakhiri
malam bersama hingga terbit fajar
Bercengkrama di keheningan
malam bisu dalam munajat doa
dan airmata
Engkau tentu akan tiba lagi dua
belas bulan mendatang
Yang aku tak tahu pasti apakah
aku masih ada di sini tatkala
kehadiranmu kelak
Kini kita telah sampai di tapal batas
waktu, dimana perpisahan menjadi
suatu keniscayaan
Dan tak lama lagi hari yang fitri pun menjelang, hari di mana kenangan
sebulan bersamamu akan kami
rayakan
Yaa Allah.., yaa Rabb..,
Beri aku kesempatan lagi bertemu
dengan ramadhan tahun depan
Agar kugenapkan segala sesuatu
yang masih kurang
Perpisahan ini membersitkan rasa
haru yang teramat dalam
Namun begitu indah untuk dikenang.
Tapal Batas, Banda Aceh,
28 Ramadhan 1446 H
————————————
Taqabbalallahu minna wa minkum
“SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI
1446 H, kami sekeluarga mohon
maaf lahir dan bathin”.
/26/
Ramadhan di Antara Hujan dan Kemarau
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ramadhan adalah hujan yang turun dari langit,
membasahi hati yang retak,
tetapi apakah kita menyerapnya,
atau kita hanya tanah yang keras,
menolak menjadi subur setelah basah?
Di ujung Syawal,
kemarau kembali datang,
udara panas membawa bisikan dunia,
dan kita, seperti pohon yang kehilangan embun,
mulai merindukan hujan yang telah pergi.
Bukankah kita pernah sujud dalam derasnya rahmat?
Bukankah kita pernah bergetar di bawah cahaya-Nya?
Mengapa kini kita mendamba dunia kembali,
seperti musafir yang memilih fatamorgana,
dan lupa pada telaga yang pernah ia minum?
Ya Allah, jadikan hati kami tanah yang lembut,
yang menyimpan hujan-Mu selamanya,
agar ketika kemarau datang,
kami tetap hidup dalam basahnya nur-Mu.
Padang, Sumatera Barat, 2018
——————————————-
Kumpulan puisi no. 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2018. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
—————————————-