February 12, 2026

RESENSI LUKISAN KARYA JEFENIL ST PANDEKA
Oleh: Rizal Tanjung

Dalam dunia seni lukis kontemporer yang tengah dilanda gelombang ekspresi bebas dan digitalisasi visual, karya Jefenil St Pandeka hadir sebagai oase yang menenangkan—suatu pernyataan estetik yang kembali menambatkan akar pada alam, sejarah, dan kemanusiaan. Lukisan lanskap bertajuk: “Ranah dalam Cahaya Pagi” ini memperlihatkan kecenderungan aliran realisme liris, suatu pendekatan visual yang menggabungkan ketelitian teknis dari realisme dengan sentuhan puitik dari impresionisme klasik.

Latar Belakang Seniman: Dari Pengacara ke Pencatat Cahaya

Jefenil St Pandeka bukanlah nama asing dalam ruang kesenian Indonesia. Ia menapaki jalan sunyi sebagai pelukis setelah meniti karier panjang sebagai seorang pengacara. Latar belakang hukumnya justru memberikan kedalaman reflektif pada karya-karyanya—ketika mata hukum mengurai fakta, mata seninya mengurai esensi. Dalam lukisan ini, ia menjelma sebagai narator bisu tentang tanah kelahiran, menukil alam sebagai dokumen visual yang tidak terbantahkan.

Telaah Visual dan Gaya: Kembalinya Realisme dalam Nafas Baru

Lukisan ini menghadirkan lanskap agraris yang sangat khas Indonesia: petak-petak sawah yang tersusun harmonis, aliran air kecil yang meliuk di antara pematang, dan gunung yang menjulang sebagai latar sakral. Kehadiran gunung dan kabut yang menyelimutinya bukan hanya membangun kedalaman perspektif, tetapi juga menyiratkan semacam spiritualitas geografis.

Dari segi teknik, kita melihat bahwa Jefenil menggunakan pendekatan realisme akademik, namun dengan sensitivitas warna dan komposisi yang sangat halus. Tidak seperti realisme keras dari pelukis Rusia seperti Ilya Repin atau Gustave Courbet yang penuh gejolak sosial, lukisan ini cenderung menyerupai gaya realisme liris yang berkembang dalam era pasca-impresionisme: sebuah pendekatan yang tidak hanya ingin “menyalin” kenyataan, melainkan menafsirkannya dalam suasana emosional tertentu. Kita teringat pada karya pelukis lanskap Jean-Baptiste-Camille Corot dari Prancis, atau bahkan seniman kontemporer seperti Andrew Wyeth dari Amerika yang juga mengusung kesunyian sebagai pusat ekspresi visual.

Seni Lukis Dunia: Di Antara Postmodernisme dan Neo-Realism

Di tengah dunia seni lukis global yang saat ini terfragmentasi oleh berbagai aliran—dari neo-ekspresionisme digital, AI-generated art, hingga metamodernisme—Jefenil memilih jalan sunyi. Ia tidak tergoda oleh gaya kontemporer yang menyukai distorsi, kekacauan, atau simbolisme yang gelap. Sebaliknya, ia meneguhkan bahwa seni masih bisa menjadi penenang, bukan pengguncang. Ia menghidupkan kembali prinsip mimesis Aristotelian (peniruan alam) dengan kesadaran postmodern: bahwa “kenyataan” tidak pernah cukup hanya direkam, tetapi harus direnungkan.

Dalam sejarah seni lukis dunia, kita melihat bagaimana lanskap telah menjadi cermin identitas: dari lukisan pastoral Belanda abad ke-17, hingga guratan liar Vincent van Gogh terhadap ladang-ladang gandumnya. Apa yang dilakukan Jefenil adalah aktualisasi lokal dari narasi universal: manusia yang diam dalam hadapan tanahnya sendiri.

Simbolisme dan Narasi Laten: Sawah sebagai Manuskrip Budaya

Melalui pemilihan objek-objek tradisional seperti pematang, lumbung kecil, gubuk sawah, dan petani yang bekerja, lukisan ini juga bisa dibaca sebagai narasi ekologis dan sosial-politik. Di era industrialisasi pertanian dan ancaman alih fungsi lahan, lukisan ini menjadi catatan visual tentang ruang-ruang yang nyaris punah. Sebuah “manuskrip visual” yang mengingatkan kita akan nilai kesederhanaan, keberlanjutan, dan hubungan harmonis manusia dengan alam.

Posisi Jefenil dalam Konstelasi Seniman Modern Indonesia

Jika kita sejajarkan dengan pelukis Indonesia terdahulu seperti Wakidi, Basuki Abdullah, atau Barli Sasmitawinata yang juga dikenal dengan realisme mereka, maka Jefenil St Pandeka berdiri di antara mereka sebagai penyambung semangat klasik dalam tubuh kontemporer. Ia tidak membawa simbolisme berat layaknya S. Sudjojono atau keresahan sosial seperti Affandi, tetapi memilih mengangkat keindahan sunyi sebagai perlawanan terhadap kecepatan zaman.

Lukisan ini bukan hanya representasi visual dari keindahan agraria Minangkabau, tetapi juga pernyataan diam tentang identitas, waktu, dan kehilangan. Di tengah gegap gempita seni konseptual dan seni digital global, karya Jefenil St Pandeka berdiri sebagai pengingat bahwa seni masih memiliki tempat untuk menenangkan, merenung, dan mengakar.

“Ranah dalam Cahaya Pagi” bukan hanya lukisan, ia adalah puisi bisu tentang tanah, waktu, dan manusia.”

Sumatera Barat,2025