May 10, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Dalam bait-bait puisinya yang berjudul “Karya di Antara Cuaca Cinta,” Antonarasoma menghembuskan sejenis sihir liris yang halus namun menancap dalam ke rongga batin pembaca. Ia menulis seperti pelukis yang tidak menggenggam kuas, melainkan desir rindu itu sendiri. Latar Palembang yang sering menjadi musim bagi perenungan diam-diam tampak menyatu dalam kontemplasi cinta dan estetika, hingga larik-lariknya menjelma ruang visual yang menyala dari dalam.

Sejak baris pertama—”di atas lukisan itu / kau ucapkan kata rindu”—pembaca langsung digiring masuk ke altar estetis di mana “rindu” bukan hanya kata, melainkan semacam ritus visual yang menitis dalam “sapuan kuas”. Sapuan itu bukan sekadar teknik seni rupa, melainkan “alur rasa” yang menyulap bentuk menjadi “pikiran yang seindah keheningan.” Di titik inilah Antonarasoma mengukuhkan dirinya bukan sekadar penyair visual, tetapi juga arsitek makna: ia membangun bangunan cinta dari cat yang membeku jadi waktu, dan dari waktu yang meleleh menjadi tubuh.

Metafora yang paling menyentuh muncul dalam bait:
“kulit wajah dan seulas senyum yang mendebarkan detak waktu / pada jam di dinding kamar.”
Di sini, senyum bukan hanya ekspresi; ia adalah pemicu kegoncangan waktu, penanda bahwa estetika dalam puisi ini bukanlah benda diam, tapi denyut yang mampu menggoyahkan mekanisme waktu. Jam di dinding kamar menjadi saksi bagaimana keindahan bukan hanya bisa dilihat, tetapi bisa mengubah irama hari dan napas.

Antonarasoma seperti menulis dari jantung lukisan, bukan dari luar kanvas. Ia berkata:
“semua ruang lukisan / itu pun kau sapu / dengan kuas cinta…”
—baris-baris ini adalah perayaan transendental tentang bagaimana cinta tidak sekadar menjadi tema, melainkan medium penciptaan itu sendiri. Jari-jemari yang menyentuh kanvas seakan mencium senyum perempuan dalam lukisan itu, dan cinta yang semula abstrak kini menemukan tubuhnya dalam warna-warna.

Kecantikan dalam puisi ini tidak dibicarakan sebagai objek, melainkan sebagai peristiwa. Lihat pada baris:
“setelah tampil sebagai wanita di dadamu”
—ungkapan ini mengandung kedalaman psiko-emosional. Perempuan dalam lukisan tak lagi hanya tinggal di ruang gambar, melainkan hadir sebagai gema emosional di dalam dada sang pelukis. Lukisan tak berhenti sebagai karya; ia menjelma kekasih yang lahir dari dada seniman, dari ruang paling sunyi dan personal.

Dan ketika Antonarasoma menutup puisinya dengan kalimat:
“coba perhatikan sekali lagi. ketika rambut kecokelat-cokelatan itu / diterpa embusan napasmu, ia tersenyum sebagai karya di antara cuaca”,
maka inilah klimaks kontemplatif yang sangat puitis. “Cuaca” di sini adalah metafora dari suasana batin, musim hati, dan waktu yang berubah-ubah. Senyum dari rambut itu bukan hanya gambaran visual, tetapi tanda bahwa setiap hembusan napas cinta bisa mengubah warna kehidupan.

Antonarasoma, sebagaimana kita kenal dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer, bukan hanya penyair; ia adalah seorang orator hati, penembang jiwa, dan kadang-kadang, seorang filsuf yang menjahit estetika dan eksistensi ke dalam selembar puisi. “Karya di Antara Cuaca Cinta” bukan hanya puisi cinta. Ia adalah refleksi tentang bagaimana cinta bekerja diam-diam di dalam ruang kesenian, bagaimana perempuan dan warna bisa menjadi simbol penciptaan, dan bagaimana waktu bisa goyah hanya karena seulas senyum di sebuah lukisan.

Ini bukan sekadar puisi. Ini adalah lukisan yang ditulis dengan darah rindu dan ditandatangani dengan napas.

Sumatera Barat,2025