April 23, 2026

Era Nurza

Di bawah langit malam yang menunduk
rindu melingkar dalam selimut sunyi
bintang-bintang menyulam keheningan
dan hatiku terukir bayangmu lagi

Sepi merintih di balik jendela hati
kenangan menari dalam diam yang dalam
kisah kita menggantung di langit kelam
dan malam jadi saksi bisu kerinduan

Malam bicara dalam bahasa ragu
lirih rindu melayang tanpa arah
jejak kita samar bagai bayang senja
namun kutatap jauh, dalam sunyimu

Purnama menyalakan langit gelap
membordir kenangan di bola mata
rindu tumbuh tanpa suara
mewarnai sunyi dengan aroma masa

Kucoba menjangkau dari kejauhan
bayanganmu yang tak mau kembali
hatiku menanti—meski tak bersuara
hanya rindu yang masih setia berkata

Lampu-lampu jalan membisik temaram
di antara jalanan lengang dan hampa
rindu terbentang dalam jarak dan diam
seperti sejarah yang menulis luka

Setiap desir angin menyentuh jiwa
membawa serpih cerita yang tertinggal
jejak kita menari di jalan sepi
sementara hati terus bertanya

Malam menyapa dengan tangan dingin
mengetuk pintu jiwa yang rapuh
di jeda kesunyian, kutemukan
detik cinta yang tak sempat selesai

Malam bertasbih dalam gema rahasia
rindu bersenandung di antara bintang
walau waktu memisah dan menjauhkan
sepi malam tetap memeluk kita diam-diam

Rindu serupa mantra yang abadi
mengiringi langkah-langkah tanpa suara
dan dalam malam yang tak pernah usai
rindu pun tetap menyala, tak padam oleh waktu

Padang, Agustus 2025