February 9, 2026

“RINDU PERSAUDARAAN DAN PERDAMAIAN BANGSA”: Antologi Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia)

/1/

TANAH YANG HAUS PERSAUDARAAN

Puisi: Leni Marlina

Lidah kita dikuliti,
dirangkai menjadi kawat duri
yang menjerat kata.
Mereka menelannya rakus,
seperti karnivora lapar sejarah.
Namun dari ludah besi itu
lahir hujan asin
yang menggerogoti dinding kota.

Hujan derita jatuh di dada kita,
membakar luka,
menyalakan bara tersembunyi.
Dari bara itu—
pohon tumbuh dengan mulut yang berdoa,
rumput berjalan dengan kaki kecil,
dan debuny
mengingat cara menjadi burung
yang menembus penjuru angin.

Suara yang mereka bungkam
justru merobek tirai langit,
meneteskan cahaya dan hujan
ke tanah yang haus persaudaraan.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/2/

TELINGA TANAH YANG MENDENGAR

Puisi: Leni Marlina

Sepotong telinga raksasa
lahir dari rahim beton—
berkilat bagai bulan palsu,
menyedot ratap kita,
lalu memuntahkannya kembali
sebagai iklan kesucian murah.

Jeritan dipoles jadi pesta,
doa dijual sebagai slogan,
air mata dicampur kapur
menjadi cat kampanye
di dinding berlumur janji.

Namun bumi menolak menipu diri.
Ia menumbuhkan telinga dari akar,
dari sumur gelap yang menganga,
dari gang sempit tempat anak-anak
menangis dengan gigi susu berdarah.

Di sanalah gema tak bisa dipalsukan.
Detak nadi bangsa bergetar di tanah,
dan bisik-bisik rakyat
tak lagi bisa ditelan poster megah.

Telinga tanah mendengar segalanya—
jerit, doa, dendam, dan harapan.
Ia menyimpan suara kita
dalam gema panjang bumi,
yang menunggu saat
untuk mengguncang langit.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/3/

SEOLAH KITA DIDENGAR

Kita duduk di kursi panjang sejarah,
telinga disumpal kabel-kabel dusta.
Mereka menundukkan kepala kita
ke buku-buku yang ditulis tangan serigala—
huruf-huruf patah mengiris mata,
kalimat-kalimat berkarat
menjadi jaring tak kasatmata.

Seolah kita didengar,
padahal suara kita hanyalah bulir padi
jatuh ke karung yang salah.
Seolah kita diperhatikan,
padahal tatapan mereka kosong:
patung batu yang hanya mengenal dingin.

Di ruang-ruang itu,
akal dijahit dengan benang kabut,
logika diseret ke jurang teater.
Kita tersenyum, menari,
tak sadar tali di punggung kita
adalah jeruji yang rapi disulam.

Namun di celah sunyi,
suara kita merayap seperti akar,
mencari tanah,
mencari cahaya.
Dan pada waktunya—
akar itu akan pecah menjadi hutan,
membebaskan kursi, membalikkan meja,
mengembalikan martabat bangsa.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/4/

MENDENGARKAN SATU SAMA LAIN

Bumi tak bisa disumpal selamanya.
Tanah mengingat pijakan,
sungai mengingat arah,
dan dada menyimpan dentum rahasia.

Burung menolak sangkar,
anak-anak bertanya
mengapa langit dijual murah,
petani menemukan benih yang tak tumbuh
di tanah beracun janji.

Lalu kita mulai mendengar satu sama lain.
Bisikan menjelma gumam,
gumam menjelma seruan,
seruan menjelma gelombang
yang menabrak tirai kebohongan.

Di wajah satu sama lain
kita menemukan cermin yang utuh,
di luka satu sama lain
kita menemukan peta jalan pulang.

Dan pada akhirnya,
bukan mereka yang mengaku mendengar,
tetapi kita sendirilah
yang benar-benar mendengarkan
dengan telinga tanah,
dengan dada langit,
dengan hati yang tak bisa lagi dipalsukan.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/5/

OMBAK DALAM BOTOL

Puisi: Leni Marlina

Kita bagaikan ombak yang dipenjara dalam botol,
diletakkan di meja kekuasaan,
dibiarkan bergolak
namun tak pernah sampai ke pantai.

Tapi kaca itu rapuh—
setiap tetes suara kita menggoresnya,
setiap gelombang kecil
meretakkan dinding sunyi.

Mereka ingin kita hanya gema,
sekadar bisikan di telinga palsu.
Namun kita adalah samudra:
tak ada wadah yang cukup luas
untuk menampungnya,
tak ada lidah yang cukup tajam
untuk membelokkan arusnya.

Kita adalah lautan yang bersatu:
ombak kecil menjadi badai,
arus deras menjadi pusaran,
dan pusaran itu menghantam tembok
yang berlumur janji.

Kita akan pecah dalam kebebasan,
menggenangi daratan dengan kebenaran,
dan mengajarkan dunia
bahwa lautan rakyat
tak pernah bisa dibendung.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/6/

DENGAN AKAR KITA SENDIRI

Puisi: Leni Marlina

Mereka menutup mata kita dengan kain mewah,
mengikat lidah kita dengan pita seremonial.
Seolah kita didengarkan,
padahal hanya dijadikan hiasan upacara.

Namun akar kita tidak buta—
ia merambat ke tanah yang dalam,
menemukan bara tersembunyi
di perut bumi yang setia menyimpan rahasia.

Kita menyalakan api dengan akar kita sendiri.
Api itu menjelma obor di tengah malam,
membelah gelap,
mengajar tangan kita kembali mengenal cahaya.

Mereka ingin kita diam,
tapi tanah air menolak membungkam mulut anak negeri.
Dari akar yang bergetar,
tumbuh hutan menyala.
Dan pada nyalanya,
wajah kita terpantul—
bukan lagi wajah yang dibelokkan,
melainkan wajah yang bicara
dengan kebenaran tanpa topeng.

Api itu bukan anugerah dari singgasana,
tetapi lahir dari bumi kita sendiri.
Dan ia berjalan bersama kita,
hingga malam menyerah pada fajar.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

 

/7/

KEBENARAN YANG MENYALAKAN CAKRAWALA

Puisi: Leni Marlina

Langit ini penuh kawanan burung terluka,
sayapnya dipangkas,
dipaksa terbang melingkar
seperti ritual tanpa arah.

Mereka meyakinkan kita:
“Beginilah indahnya terbang—
berputar, berputar,
hingga lupa jalan pulang.”

Namun kita mendengar panggilan langit.
Kita tahu cakrawala
lebih luas dari lingkaran besi.
Maka kita satukan sayap-sayap patah itu,
menjahit luka dengan cahaya,
menjadi bentangan baru
yang menolak tunduk pada penjara udara.

Kita terbang bersama
sebagai satu tubuh raksasa:
ombak udara yang memecah horizon,
gerombolan nyawa
yang menolak dijinakkan.

Mereka ingin kita tetap bayangan di tanah,
namun kita menjelma langit itu sendiri.
Dan di ketinggian,
suara kita bukan gema yang dipelintir,
melainkan cahaya yang menggetarkan cakrawala,
membuka mata bumi,
membakar malam panjang dengan fajar.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/8/

MENYALAKAN KESADARAN

Puisi: Leni Marlina

Kita adalah sungai yang dibelokkan,
namun arus tahu jalannya pulang.
Kita adalah pohon yang dibengkokkan,
namun cahaya meluruskan batangnya kembali.
Kita adalah cermin yang pecah,
namun pecahannya tetap
memantulkan matahari.

Mereka ingin kita lupa,
tapi ingatan adalah bara yang tak padam.
Mereka ingin kita bisu,
tapi lidah adalah ombak
yang terus mencari pantai.
Mereka ingin kita buta,
tapi mata hati adalah api
yang menolak dipadamkan.

Maka kita mengangkat kata
seperti mengangkat kapak.
Kita menyalakan kesadaran
seperti api unggun di hutan gelap.
Di sekelilingnya,
kita saling menemukan wajah,
saling menguatkan nyali,
saling mengembalikan jiwa
yang lama dirampas diam-diam.

Kesadaran ini bukan sekadar nyala,
ia adalah fajar yang tak bisa ditunda—
menguatkan nyali,
menjadi manusia utuh kembali.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/9/

MENUJU HANGATNYA PERDAMAIAN

Puisi: Leni Marlina

Perdamaian bukanlah bunga plastik
yang dipajang di ruang rapat—
ia adalah akar
yang tumbuh dari tanah berlumur darah,
ia adalah sungai
yang terus mencari muara meski jalannya dipenuhi batu.

Kita menuju perdamaian
dengan api yang pernah membakar luka,
mengubah arang duka
menjadi bara penghangat jiwa.
Kita menyalakan pelita
di tengah reruntuhan,
agar anak-anak dapat tertawa
tanpa dihantui bunyi peluru.

Perdamaian bukan sekadar kata,
ia adalah tangan yang menolong
bahkan ketika gemetar.
Ia adalah jembatan
yang dibangun dari tubuh yang patah
namun memilih berdiri kembali.

Maka kita menuju hangatnya perdamaian—
bukan sebagai hadiah dari penguasa,
melainkan hak yang tumbuh
dari keberanian kita menolak
segala yang merampas kemanusiaan.

Perdamaian sejati
bukanlah sunyi,
tetapi kumpulan nyali dari banyak suara
yang akhirnya berani hidup bersama menyuarakan kemanusian.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/10/

MENYALAKAN KESADARAN

Puisi: Leni Marlina

Kita adalah sungai yang dibelokkan,
namun arus tahu jalannya pulang.
Kita adalah pohon yang dibengkokkan,
namun cahaya meluruskan batangnya kembali.
Kita adalah cermin yang pecah,
namun pecahannya tetap
memantulkan matahari.

Mereka ingin kita lupa,
tapi ingatan adalah bara yang tak padam.
Mereka ingin kita bisu,
tapi lidah adalah ombak
yang terus mencari pantai.
Mereka ingin kita buta,
tapi mata adalah api
yang menolak dipadamkan.

Maka kita mengangkat kata
seperti mengangkat kapak.
Kita menyalakan kesadaran
seperti api unggun di hutan gelap.
Di sekelilingnya,
kita saling menemukan wajah,
saling menguatkan nyali,
saling mengembalikan jiwa
yang lama dirampas diam-diam.

Kesadaran ini bukan sekadar nyala,
ia adalah fajar yang tak bisa ditunda—
mengajari kita
menjadi manusia utuh kembali.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/11/

MENYEBARKAN CINTA KASIH

Puisi: Leni Marlina

Cinta kasih bukanlah sekuntum mawar
yang hanya mekar di musim tertentu.
Ia adalah benih
yang kita tanam di tanah gersang,
tetap tumbuh meski hujan tertahan,
meski angin mencabik ranting.

Kita menyebarkannya
seperti burung yang menabur sayap di langit,
seperti laut yang mengirimkan ombak
hingga tiap pantai merasakan sentuhannya.
Kasih tak mengenal pagar,
ia menyeberang gunung,
ia menembus dinding baja,
ia merangkul bahkan yang pernah melukai.

Senyum yang kita kirim
menjelma jendela yang terbuka.
Tangan yang kita ulurkan
menjadi jembatan yang tak dapat dibakar api kebencian.

Menyebarkan cinta kasih
bukan berarti kita lemah,
tetapi kita berani
menggenggam dunia dengan cahaya.

Dan jika dunia runtuh oleh kebencian dan perang,
kitalah yang menyalakan kembali
denyutnya dengan pelukan—
agar kita semakin sadar
bahwa hidup bangsa hanya berarti
bila ada kasih yang diwariskan.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/12/

MERAJUT HARAPAN KEMANUSIAAN

Puisi: Leni Marlina

Kita mengambil benang yang tercerai,
merajutnya kembali di telapak tangan bumi,
merajutnya menjadi harapan kemanusiaan.
Simpulnya adalah doa,
Rajutannya adalah janji
untuk tidak menyerah pada malam pertikaian dan perang yang panjang.

Harapan ini bukan lukisan kosong—
ia adalah sungai yang mengalir melalui reruntuhan,
menembus batu,
menembus debu,
menemukan jalan meski dunia menutupnya.

Kita merajutnya bersama,
dari hati yang terluka,
dari tangan yang lelah,
dari suara yang dulu dibungkam,
hingga jaring itu menjadi kain raksasa
yang menutupi luka ibu pertiwi.

Dan saat cahaya pertama menyentuh rajutan itu,
kita tahu:
masa depan bukan lagi angan yang diselimuti ketakutan,
melainkan nyala yang bisa kita sentuh,
suara yang bisa kita dengar,
jalan yang bisa kita lewati bersama
dengan kaki yang tegap,
dengan hati yang terbuka.

Harapan kemanusian ini bukan hadiah dari singasana—
ia adalah karya kita sendiri,
lahir dari akar, darah, perjuanhan, dan doa anak bangsa .
Dan kini, ia menyebar,
seperti matahari yang menembus kabut,
membawa dunia ke fajar kemanusiaan yang layak kita raih.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

/13/

RINDU PERSAUDARAAN DAN PERDAMAIAN BANGSA

Puisi: Leni Marlina

Tanah ini mendekap kita
dengan tangan basah oleh hujan dan darah sejarah
dari Sabang hingga Merauke
dari pegunungan yang membakar mata hingga laut yang mencumbu pantai
semua bergetar di bawah kaki kita,
menjalar ke jiwa kita.

Kita dicumbu oleh akar yang merayap di rahim bumi
mendengar bara cinta tersembunyi
di tanah, di sungai, di hati setiap anak bangsa
dan kita menyalakan api dengan tangan sendiri
api yang membakar tirai kebohongan,
api yang membangunkan tidur panjang.

Gunung-gunung mengulang mantra kesabaran
ombak-ombak berdesir di telinga kita
angin mengusap wajah, membawa bisikan dari utara ke selatan
rumput, daun, dan batu bersatu menuntun langkah kita
menanam persaudaraan, menabur perdamaian.

Langit meneteskan cahaya, Hujan meneteskan rahmat,
Mata kita yang buta kini melihat,
Mulut kita yang bisu kini berseru,
Lidah kita yang dipenjara kini membakar
menjadi kata-kata,
pelita di jalan sunyi.

Obor kemanusiaan kita beraksi di udara yang beku,
api menolak dipadamkan oleh janji palsu,
lidah berlapis emas hanyalah debu,
rindu ini adalah darah bangsa,
denyut nadi yang merasuk ke akar, batang, daun
menghidupkan persaudaraan dan perdamaian,
menghidupkan bangsa yang cerdas, amanah, bersatu, bermartabat.

Dan ketika malam menaburkan bayangan serigala,
obor itu tetap menyala
menyentuh wajah-wajah yang pernah terluka,
mengubah langkah sunyi menuju kemenangan dan kemerdekaan,
mengubah rindu menjadi kenyataan—
bangsa berdiri utuh di bawah bentangan alam khatulistiwa,
di tanah air yang lahir dari cahaya, hujan, dan bara cinta persatuan bangsa.

***
✍ Padang,
Sumatera Barat, NKRI, 2025

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena-Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]

—————–

Tentang Penulis: Leni Marlina

Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi kelahiran Baso, Agam, Sumatera Barat, yang kini menetap di Padang, Indonesia. Ia aktif sebagai anggota SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat sejak 2022. Selain itu, ia juga tercatat sebagai anggota World Poetry Movement (WPM-Indonesia). Kecintaannya pada dunia sastra membawanya menulis buku antologi puisi bilingual “The Beloved Teachers”, “L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity)”, serta 3 seri buku “English Stories for Literacy”. Atas kiprah literernya, ia dianugerahi penghargaan sebagai Penulis Terbaik Tahun 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat. Penghargaan tersebut diberikan dalam Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (IMLF-3).

Sejak tahun 2006, Leni mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Hampir dua dekade ia konsisten mendidik dan menginspirasi generasi muda melalui dunia akademik. Di luar kampus, Leni aktif menulis sebagai jurnalis lepas, editor, redaktur, dan kontributor di media lokal, nasional, maupun internasional. Beberapa puisinya juga dipublikasikan secara digital dan umumnya dapat diakses publik melalui laman https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa. Ia percaya bahwa menulis adalah medium untuk berbagi, menginspirasi, dan memperluas cakrawala kemanusiaan. Karena itu, ia mendirikan serta membina berbagai komunitas sosial, sastra dan literasi berbasis digital. Beberapa di antaranya adalah PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C). Melalui komunitas-komunitas tersebut, Leni berupaya menjembatani semangat sastra dan literasi lintas generasi.