MENANGISLAH PAPUA: TUHAN AKAN MENGGANTI AIR MATAMU DENGAN BAHAGIA
Oleh Rizal Tanjung
–
Menangislah, Papua,
dengan air mata yang hitam legam,
sehitam arang yang mereka gali dari tanahmu,
sekelam malam yang menelan nyala obormu.
Dulu engkau ladang surga,
penuh hijau yang tak terjamah,
tapi kini hutanmu roboh satu per satu,
bukan oleh badai, bukan oleh waktu,
melainkan oleh tangan-tangan serakah
yang menggenggam surat bertanda tangan,
yang membawa bulldozer seperti nabi palsu,
berkhotbah tentang pembangunan,
tapi meninggalkanmu tanpa rumah dan ladang.
Menangislah, Papua,
karena air sungai yang dulu jernih
kini berwarna merah,
bukan merah kemerdekaan,
tapi merah darah saudaramu
yang ditembak tanpa nama,
dikubur tanpa berita,
ditangisi tanpa suara.
Bukankah mereka bilang kau saudara?
Tapi mengapa peluru lebih cepat sampai
daripada sekolah dan rumah sakit?
Mengapa kebebasan hanya mitos
yang ditulis dalam laporan media
dan bukan di tanah tempat kau berdiri?
Menangislah, Papua,
karena emas yang berkilau di tanahmu
hanya memperkaya mereka yang tak mengenal negerimu,
yang tak tahu bagaimana nyanyian suci
dari para leluhurmu,
yang tak paham bahwa setiap gunung,
setiap pohon, setiap batu
adalah nadi yang mengalir dalam jiwamu.
Mereka berkata kau harus bersabar,
harus diam, harus tunduk,
tapi sabar macam apa
yang masih harus kau telan
setelah ratusan tahun luka ini dibiarkan bernanah?
Kata mereka, kau harus bersyukur,
karena pembangunan datang membawa terang,
tapi terang macam apa
yang membuatmu terus-menerus menangis dalam gelap?
Jalan-jalan yang mereka bangun
lebih sering dilalui barisan tentara
daripada anak-anak yang pergi sekolah.
Tiang listrik yang mereka tanam
lebih sering menyinari gedung-gedung perusahaan
daripada pondok-pondok sederhana di kampungmu.
Menangislah, Papua,
karena mereka hanya mengingatmu
ketika musim pemilu tiba,
ketika kursi kekuasaan perlu diisi,
ketika nama-nama besar
harus dicetak di atas baliho
yang tak bisa membaca kesedihanmu.
Tapi, menangislah, Papua,
sebab Tuhan melihat air matamu.
Suatu hari nanti,
tanahmu tak lagi basah oleh darah,
melainkan oleh hujan yang membawa berkat.
Hutammu akan tumbuh kembali,
dan anak-anakmu akan berlari di atas tanah
yang tak lagi diklaim sebagai milik mereka.
Menangislah, Papua,
bukan karena kau lemah,
tetapi karena Tuhan akan mengganti air matamu
dengan bahagia yang tak bisa dicuri,
dengan keadilan yang tak bisa dibeli,
dengan kebebasan yang tak bisa dirampas.
Menangislah, Papua,
sebab setelah duka ini,
akan datang terang yang sejati.
Papua, 18 Februari 2025