April 21, 2026
romo beny

Swary Utami Dewi dan Romo Beny

Oleh: Swary Utami Dewi

Orang-orang baik dan kritis itu telah berpulang. Awal September 2024 lalu aku kehilangan seorang kawan lama dan senior di Universitas Indonesia: Faisal Basri. Hari ini, 5 Oktober 2024, aku kembali tersentak. Ada lagi seorang kawan wafat. Romo Benny Susetyo. Romo mengembuskan napas terakhirnya lewat tengah malam, saat jarum jam sudah bergeser ke 5 Oktober 2024.

Benny Susetyo adalah salah satu tokoh kritis di Indonesia. Gaya bicaranya khas Jawa timuran. Ceplas-ceplos apa adanya. Pernyataannya jujur dan lugas, termasuk saat dia memaparkan isu-isu sosial politik dan keagamaan.

Romo Benny tercatat pernah memberi inspirasi bagi pemimpin negeri. Apa itu? Gagasan “Revolusi Mental”. Meski sang pemimpin “mengakui” itu idenya, mayoritas orang meyakini bahwa ide itu asli dari Romo Benny. Alasannya, karena pria Malang ini memang dikenal berpikiran dalam dan sangat mumpuni dalam menulis gagasan — selain berbicara tentunya. Tulisan Romo tersebut muncul di harian Sindo (edisi 10 Mei 2014). Baginya, Revolusi Mental merujuk pada revolusi kesadaran. Revolusi ini menyentuh perubahan mendasar tentang kesadaran, cara berpikir, dan cara bertindak suatu bangsa. Tentunya berubah dari yang tidak baik menjadi baik. Bukan sebaliknya.

Seperti banyak orang yang semula memiliki harapan di awal-awal pemerintahan, di mana pemimpinnya begitu getol berteriak “Revolusi Mental”, asa itu memudar, bahkan hilang. Itu juga tampak jelas pada diri Romo Benny. Maka berbagai kritik keras mengalir pada rezim ini — rezim yang semula dipercayainya bisa membawa Indonesia ke arah kebaikan dan perbaikan. Soal korupsi misalnya, Romo Benny mengatakan bahwa pemberantasan korupsi hanya retorika. Perilaku koruptif malah makin merajalela. Ya, Romo Benny benar. Di mana Revolusi Mental yang dulu nyaring diteriakkan? Mental ke manakah?

Romo Benny juga mengkritik para mafia yang bebas bergentayangan nyata di negeri ini. Nyata mengatur sektor pangan, energi dan sumber daya alam. Saya yakin Romo, yang bersahabat dengan banyak orang ini, memahami bahwa penguasaan kekayaan alam dan sumber-sumber hajat hidup orang banyak telah membuat yang kaya makin kaya. Jurang kesenjangan melebar tanpa kendali. Korupsi timah, yang berpusat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, misalnya, membuat negara rugi paling tidak Rp271 triliun. Sementara mayoritas wilayah-wilayah tambang menjadi kantong-kantong kemiskinan di Indonesia. Maka pekik kritisnya terus membahana baik lisan maupun tulisan. Dan kritik-kritik itu mewakili suara kaum miskin, mahasiswa, akademisi, lintas agama dan para pihak lainnya.

Ketika Petisi “Keprihatinan Hati Nurani Rakyat”, yang digagas puluhan anggota Satupena, bergulir akhir Agustus lalu, Romo Benny dengan senang hati ikut mencantumkan namanya di petisi. Nomor 477. Dia senang saat melihat begitu banyak yang ikut di petisi itu. Top, Mbak. Katanya mengacungkan jempol.

Di bulan September 2024, Romo Benny masih mengirimkan cuplikan pendek YouTube kepadaku; YouTube saat dia menjadi narasumber di salah satu televisi ternama. Dia memberikan link berikut: https://youtube.com/shorts/zSS7omk4AW4?si=9CFFx0vYm4F4bqgA

Di situ, dia dengan lugas mengkritik pemimpin di Indonesia yang berorientasi mendapatkan, lalu mempertahankan kekuasaan. Bahkan yang berkuasa itu berpikir untuk mewariskan kekuasaan ke turunannya. Jelas, tanpa takut Romo terus bersuara. Nyalinya tak pernah surut.

Itulah Romo Benny. Romo, yang meski kabarnya pada akhir 2023 lalu menyatakan “mundur” sebagai pastor, tetap menjadi Romo bagi banyak orang. Dia juga kawan baik yang menyenangkan bagi banyak orang, termasuk diriku. Maka, saat mendengar kabar kepulangannya, aku kaget dan bersedih. Dia pergi terlalu muda. Pada 10 Oktober mendatang usianya masih relatif muda, 56 tahun. Tapi, meski mati muda, tulisan-tulisan, wawancara, video dan berbagai bentuk media yang memuat berbagai gagasan Romo Benny, akan menjadikan diri dan nyalinya akan terus hidup dan abadi.

5 Oktober 2024