May 23, 2026
Copilot_20260516_064603

Yusufachmad Bilintention

Bagian 1: Prahara Identitas

(Cerpen ini sebelumnya telah dibukukan oleh MenulisID & Projectarek.id dalam antologi “Di Atas Kampung Itu Tak Ada dan Cerita Lainnya” bersama 20 penulis cerpen terbaik kampung Surabaya.)

“Nyamplungan abadi di mata, benak, dan hatiku. Takkan pernah hilang.”

Di kampung Nyamplungan dekat Ampel, Anas hidup di antara dua dunia. Keluarga ayah menyebutnya Jamaah, bukan Jawa. “Kau Jamaah,” kata mereka. Namun tetangganya, seorang Jawa pemilik warung peracangan, menuntut hal sebaliknya: “Kalau kamu orang Jawa, harus bisa bahasa Krama. Kalau tidak, jangan belanja di sini.”

Anas terhimpit di tengah, dipaksa memilih identitas yang bertentangan. Ia tahu, di mata manusia ia bisa ditolak, tetapi di mata Tuhan, kemuliaan bukan ditentukan oleh darah atau bahasa.

Ekonomi yang sulit memaksa Anas bekerja di toko pakaian, khususnya daster, di lorong sempit dekat rumahnya. Pemiliknya berhidung mancung, tampak megah, mirip Anas meski hanya sepertiganya. “Ente Jamaah, bukan Jawa. Hanya Jamaah yang masuk surga,” ujarnya santai. Anas terdiam, hatinya diliputi kebingungan. Di satu sisi ia Jamaah, di sisi lain ia Jawa. Namun ia sadar, dunia di sekelilingnya terus menuntut label, sementara hatinya mencari makna yang lebih dalam.

Di warung Sarkam, yang dikenal sebagai pasar kambing meskipun tak ada kambing dijual, Anas sering terlibat perbincangan panas tentang perilaku habaib. “Tidak semua habaib itu benar,” kata Anas tegas. “Banyak yang memanfaatkan status mereka untuk keuntungan pribadi.”

Seorang pria bernama Haji Salim, bersuku Madura, menanggapi, “Anas, kamu harus menghormati keturunan Nabi. Mereka adalah panutan kita.”

“Tetapi, Haji,” balas Anas, “Tidak semua keturunan Nabi berperilaku sesuai ajaran beliau. Ada yang justru menyesatkan umat. Kita harus melihat tindakan mereka, bukan hanya statusnya. Jika mereka mengikuti ajaran Nabi, mereka akan menunjukkan akhlak mulia.”

Perbincangan semakin memanas, sebagian mendukung Anas, sebagian berpihak pada Haji Salim. Namun di balik kata-kata itu, ada kegelisahan yang lebih dalam. Anisa, gadis habaib yang cantik sekaligus tegas, harus berhadapan dengan keluarganya yang melarang hubungannya dengan Anas. Bagi mereka, garis keluarga lebih penting daripada cinta.

Anas melonggarkan dadanya, menebarkan pandang ke arah penjual gulai kacang hijau khas Sarkam yang sibuk melayani pembeli. Asap gulai berpadu dengan daging empuk dan kuah rempah Timur Tengah. Aromanya, dinikmati bersama roti Maryam atau lontong, memenuhi warung Sarkam dan mengikat ingatan warga Ampel.

Aroma gulai yang pekat berpadu dengan pahit kopi, menebal di udara sempit. Asap rokok para penikmat kopi pahit Sarkam berbaur dengan lantunan doa dari masjid. Di tengah riuh itu, seorang pria paruh baya tiba-tiba berteriak, “Ente kambing gelap!” Tatapan orang-orang serentak menoleh, membuat Anisa menunduk, wajahnya memerah di balik cadar coklat, seakan ingin lenyap dari kerumunan.

Saat suasana menegang, Anas muncul dari arah berlawanan. Ia menyodorkan sebungkus rokok bercap Kambing, lalu mencium tangan pria itu dengan tenang. “Ente beruntung!” serunya. Orang-orang di warung Sarkam serentak berkata, “Mabruk.”

Sejak peristiwa itu, Anas beberapa kali bertemu Anisa di warung yang sama. Awalnya, Anisa tak menghiraukannya. Saat pandangan Anas terlalu tajam, Anisa marah dan tersinggung. “Hai ahwal-Jawa, jaga kesopananmu. Matamu jelalatan tak tahu diri. Dasar ahwal tak punya adab!” Anas tergagap, harga dirinya tercabik. Namun ia tak berkutik, hanya menundukkan kepala.

Pengalaman dihina Anisa tidak membuatnya patah hati. Sebaliknya, ia memutuskan belajar lebih giat, menggali ilmu dari kitab kuning, filsafat, dan sejarah keluarga. Ia menulis puisi di kertas bekas dagangan daster, meredam amarah dengan kata-kata:

Aku Jamaah

Aku Jawa.

Haruskah surga berbeda-beda?

Di mata-Nya manusia

tak terpisah—

kecuali mereka yang bertakwa

berakhlak mulia.

Puisi itu bukan sekadar kata, melainkan perlawanan diam terhadap dunia yang memaksanya memilih satu sisi.

✦✦✦

Hari-hari berlalu, keraguan Anisa tumbuh menjadi keberanian kecil. Setiap kali ia melihat Anas berjalan di pasar dengan dasternya, tetap sabar meski ditertawakan orang. Kesungguhan itu perlahan melunturkan kesombongan yang dulu ia genggam.

Rasa penasaran mulai menguasai dirinya. Diam-diam, ia memperhatikan catatan Anas di kitab kuning, menampung pertanyaan yang tak berani ia ucapkan. Nabila, adiknya, yang juga diam-diam mendukung mereka, suatu hari menyerahkan selembar kertas dagangan Anas bertuliskan nomor telepon. “Kalau kau ingin tahu lebih banyak, simpan saja,” bisik Nabila.

Nomor itu akhirnya tersimpan di ponsel Anisa, tanpa ia sadari menjadi jembatan rahasia. Dari sana, sebuah pesan singkat datang, berisi baris yang membuat hatinya bergetar:

Cinta bukan sekadar ucapan,

tapi perbuatan yang nyata.

Suaramu mengiang,

namun membeku seperti HP lamaku.

Anisa membaca berulang kali pesan singkat itu, merasakan getar kata-kata yang jujur. Dari sana ia tahu: ada kasih yang sedang tumbuh, meski ia takut mengakuinya. Dalam senyap, ia mencari cara untuk lebih dekat dengan Anas. Dengan bantuan Nabila, mereka sempat bertemu di sudut warung Sarkam, menyembunyikan percakapan singkat penuh harap.

Namun rahasia itu tak bertahan lama. Suatu sore, seorang tetangga melihat Anisa berbicara dengan Anas. Kabar cepat menyebar, hingga sampai ke telinga Abi Anisa.

✦✦✦

Malam itu ketegangan memuncak. Keluarga Anisa datang ke rumah Anas, menuntut agar hubungan mereka dihentikan. Pertengkaran sengit hampir berujung pada kekerasan. Abi Anisa berteriak lantang:

“Kalian bukan golongan kami. Anisa akan ana nikahkan dengan kerabat bermarga Al-Arabi. Keluarga ente tidak faham makna kekerabatan. Tradisi keluarga besar ana tidak bisa kalian lawan. Ini demi kehormatan keluarga!”

Anas menatap tenang, meski dadanya bergetar. “Abi, keturunan bukan jaminan kemuliaan. Aku mungkin bukan habaib, tapi aku berjuang dengan akhlak. Bukankah itu yang lebih utama?”

Anisa menunduk, jari-jarinya meremas ujung jilbab. Ia ingin bersuara, tapi lidahnya kelu. Tatapan matanya bergetar, seakan berkata: Aku ingin memilih sendiri.

Keheningan menekan ruangan. Abi Anisa terperangah, wajahnya memerah menahan amarah. Nabila menahan napas, sementara kipas angin tua berderit di langit-langit, menambah tegang suasana.

Dalam keheningan itu, Anas berkata lirih namun tegas: “Jika cinta dianggap gila, biarlah kegilaan ini menjadi saksi bahwa manusia berhak menentukan jalan hidupnya.”

Kerei kayu tua bergoyang diterpa angin, bayangannya menari di dinding rumah Nyamplungan—menambah sesak suasana.

Abi Anisa menghela napas panjang, lalu berkata dingin: “Surga bukan untuk orang yang menolak garis keluarga.”

Anas menjawab mantap: “Surga bukan diwariskan oleh keturunan. Surga adalah nur bagi mereka yang menjaga akhlak, meski lahir dari garis berbeda.”

Tiba-tiba, calon mantu yang hadir membentak kasar: “Abinya Anisa, ANTUM LEMAH! Kalah dengan ilmu jin dari pria gila ini. Kami keturunan Nabi, lebih mulia dari campuran. KEHORMATAN KAMI tak boleh dicemarkan!”

Suara itu memecah ruangan, menegaskan kesombongan yang menusuk telinga.

Anas hanya tersenyum, lalu menjawab tegas: “Warisan Nabi bukan caci maki. Adab adalah cahaya, sedangkan hinaan hanyalah gelap. Keturunan Nabi seharusnya menjunjung adab, bukan merendahkan.”

Suara Anas menggema, berbalut kebijaksanaan. Hinaan itu justru membuat Abi Anisa tersadar, betapa calonnya jauh dari nilai Islam dan adab Nabi. Rasa malu merayap di hatinya. “Apa yang kalian lakukan adalah penghinaan terhadap keluarga!” teriaknya, namun suaranya tak lagi sekuat sebelumnya.

Anisa akhirnya bersuara, suaranya bergetar namun jelas: “Abi, aku mencintai Anas bukan karena ia Jamaah atau Jawa. Aku mencintainya karena ia berjuang dengan sabar, karena akhlaknya lebih luhur daripada kehormatan yang diwariskan.”

Kata-kata itu mengguncang ruangan. Keluarga Anisa dan calon besan terdiam, sebagian marah, sebagian bingung. Keheningan menekan udara, seolah semua menunggu siapa yang akan bersuara berikutnya. Nabila menambahkan lantang: “Tradisi yang mengekang cinta akan mati bersama waktu. Tapi cinta yang jujur akan hidup selamanya.”“Abi Anisa menatap sekeliling, menyadari kata-kata Anas, Anisa, dan Nabila mengandung kebenaran yang tak bisa ia sangkal.”

Untuk tulisan lain silakan kunjungi:

🌐 Blog: yusufachmad-bilintention.blogspot.com

📖 Kompasiana: kompasiana.com/yusufachmad7283

📸 Instagram: @yusufachmad2018

✍️ Karya lain juga tersedia di Medium, Flipboard, dan Facebook.