LAKAT REVOLUSI SYAHADAT TAK PERNAH TAMAT
oleh Reiner Emyot Ointoe
–
“Revolusi Iran bukanlah pemberontakan yang tak terhindarkan, melainkan kesalahan perhitungan yang dahsyat—di mana kesombongan membutakan Shah dan khayalan menyesatkan Amerika untuk percaya bahwa rezim yang rapuh dapat menahan badai.” — Scott Anderson(66), King of Kings: The Iranian Revolution: A Story of Hubris, Delusion and Catastrophic Miscalculation(2025).
Sejarah adalah keniscayaan. Ia muncul dari langit perlawanan atas manusia sekaligus alam .
Hit et nunc, percik api revolusi tak pernah sepenuhnya padam.
Revolusi Islam Iran 1979 adalah salah satu percikan itu, yang hingga kini masih terus menyala dalam denyut politik, sosial, dan teologi dunia global.
Ia bukan sekadar pergantian rezim, melainkan sebuah revolusi iman yang menandai pergeseran kosmologi politik global.
Diacu dari Scott Anderson, salah satu jurnalis perang asal Amerika, dalam King of Kings: The Iranian Revolution(2025) menegaskan bahwa revolusi ini lahir dari kesombongan dan salah perhitungan fatal elite Iran dan Washington.
Ketila itu, Shah Mohammad Reza Pahlavi, dengan dukungan Amerika Serikat, berusaha memodernisasi Iran secara cepat, namun gagal membaca dinamika sosial dan religius yang sedang bergolak.
Revolusi pun meledak sebagai koreksi atas modernisasi yang timpang, sekaligus sebagai perlawanan teologis terhadap hegemoni Barat.
Anderson menekankan bahwa revolusi ini bukan sekadar peristiwa domestik, melainkan titik balik geopolitik yang mengubah hubungan Timur Tengah dengan Barat.
Namun, percikan iman yang melahirkan revolusi bukanlah monopoli abad ke-20.
Lima abad sebelumnya, di Jerman, Thomas Müntzer(1490–1525) menyerukan perang atas nama Tuhan melawan penguasa yang bersekutu dengan gereja.
Dalam suratnya kepada jemaat Allstedt, ia menulis: “Maju, maju selagi api masih panas! Jangan biarkan pedangmu dingin… Allah berjalan di depanmu; ikuti Dia, ikuti!”
Seruan ini menyulut pemberontakan petani (Bauerkrieg) dan menjadi bagian dari gelombang Reformasi yang didaulat Martin Luther.
Müntzer, dengan teologi radikalnya, menempatkan iman sebagai senjata melawan ketidakadilan sosial dan politik.
Dari Iran ke Mühlhausen, dari abad ke-16 ke abad ke-20, kita melihat benang merah: revolusi iman selalu lahir dari kegagalan elite membaca realitas rakyat.
Müntzer ditahbiskan oleh Ernst Bloch sebagai bapak revolusi teologi, sementara Revolusi Iran menjadi simbol purifikasi agama dalam konteks modern.
Keduanya menunjukkan bahwa teologi bukan sekadar doktrin, melainkan praksis sejarah yang menggerakkan massa.
Sejarah ini berulang dalam berbagai bentuk: pemberontakan petani Banten 1888 yang ditulis Sartono Kartodirdjo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez di Amerika Latin, hingga refleksi Hamid Dabashi dalam Theology of Discontent(1993).
Semua menegaskan bahwa revolusi iman adalah keniscayaan sejarah, sebuah syahadat tiada akhir.
Maka, revolusi teologi bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan panggilan abadi.
Ia menyeru kaum dhuafa, para teolog, dan saintis “garis lurus” untuk merefleksikan legasi iman dalam menghadapi pseudo-teologi mamonisme yang menyaru dalam kapitalisme global.
Seperti kata Ulrich Duchrow, mamonisme adalah Dämonenverschwörung atau persekutuan iblis melawan Kerajaan Allah.
Walhasil, dari Müntzer hingga Khomeini, dari Bauerkrieg hingga Revolusi Iran, sejarah iman menegaskan satu hal: revolusi syahadat tiada akhir.
Ia adalah perintah sejarah, panggilan kosmik, dan keniscayaan iman yang terus berulang dalam wajah berbeda.
Namun, tentu saja dengan semangat yang sama: melawan kezaliman atas nama Tuhan.
#coversongs:
„Revolution” dirilis The Beatles pada Agustus 1968 sebagai sisi-B dari single “Hey Jude.” Lagu ini ditulis John Lennon sebagai respons terhadap gelombang protes politik dan Perang Vietnam, dengan pesan utama bahwa ia mendukung perubahan sosial tetapi menolak kekerasan sebagai jalan revolusi.
#credit foto diunggah dari kanal Youtube 1979 Iranian Revolution, Explained I Last Persian Shah Timeline – World History Documentaries dan May 27th Thomas Müntzer: Radical Reformer and Revolutionary (500 Years Ago) @TimelinesDeclarations