May 23, 2026

TULISAN TANGAN TUHAN DI BALIK IJAZAH BERMASALAH?

WhatsApp Image 2026-05-16 at 06.35.36

oleh Reiner Emyot Ointoe

„Dia menuliskannya sedemikian rupa sehingga akan mampu mencapai generasi paling akhir dan tak mengalami perubahan akibat pengaruh kebetulan. Tak seorang pun tahu di mana atau dalam huruf apa kalimat tersebut dituliskan, namun yang pasti adalah bahwa tulisán itu ada, tersembunyi, dan hanya orang-orang terpilih yang akan membacanya.“ — Jorge Luis Borges(1899-1986), Tulisan Tangan Tuhan dalam Labirin Impian(LKiS 1999).

Kontroversi ijazah Presiden Joko Widodo yang memasuki tahun kedua menjadi panggung bagi Dr. Tifa, atau Tifauzia Tyassuma, untuk menegaskan argumen akademisnya dengan gaya yang keras dan konsisten.

Dalam kanal YouTube @TifauziaTvassumaOfficial, ia menyatakan bahwa benang merah kebenaran mulai terkuak melalui strategi hukum yang di sebut “3C”: Clear Document, Correct Procedure, dan Credible Witness.

Esai reflektif singkat ini menghadirkan sebuah jalinan narasi yang unik antara kontroversi politik kontemporer dan refleksi sastra klasik.

Dr. Tifa, atau Tifauzia Tyassuma, tampil sebagai figur akademis yang menolak kompromi dalam kasus ijazah Presiden Joko Widodo.

Ia menegaskan bahwa benang merah kebenaran hanya dapat terkuak melalui strategi kaidah hukum „3C“ bak jalan samurai akademik.

Baginya, kasus ini bukan sekadar polemik politik, melainkan ujian integritas akademik dan kebenaran publik.

Dengan menyiapkan ratusan dokumen, puluhan saksi, serta pendekatan forensik yang menyentuh aspek pemilik ijazah, ia berusaha menunjukkan bahwa persoalan ijazah tidak berhenti pada kertas dan tanda tangan, melainkan menyangkut legitimasi ilmiah seseorang.

Dalam narasinya, Dr. Tifa menolak gagasan restorative justice karena menganggap tuduhannya bukan opini, melainkan hasil penelitian ilmiah yang telah melalui peer review.

Ia menekankan bahwa sejak awal prosedur hukum banyak dilanggar, dan fakta-fakta yang tertutup hanya bisa dibuka melalui transparansi dokumen dan saksi.

Dengan safari hukumnya, ia menempatkan dirinya bukan sekadar pengkritik, melainkan akademisi yang ingin menegakkan standar ilmiah dalam ruang publik.

Ia menolak mundur, menegaskan bahwa kebenaran hanya bisa dicapai melalui penelitian yang jernih dan proses hukum yang terbuka.

Kelak esai ini mengaitkan kontroversi ini dengan kisah “Tulisan Tangan Tuhan”(God,s Script) dari Jorge Luis Borges.

Dalam cerita itu, Tzinacán, imam Maya yang ditawan conquistador Spanyol, menemukan rahasia ilahi berupa formula empat belas kata yang memberi kuasa mutlak.

Namun, setelah menyaksikan luasnya semesta, ia memilih diam, menolak menggunakan pengetahuan itu untuk membalas dendam atau menghidupkan kembali kejayaan bangsanya.

Borges menekankan bahwa pengetahuan tertinggi bukanlah alat untuk berkuasa, melainkan kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan semesta.

Perbandingan ini menghadirkan ironi sekaligus refleksi.

Jika Tzinacán memilih diam setelah menemukan rahasia kosmik, Dr. Tifa justru memilih bersuara lantang setelah menemukan benang merah kebenaran dalam kasus ijazah bermasalah.

Borges menempatkan pengetahuan sebagai jalan menuju kesadaran akan keterbatasan, sementara Dr. Tifa menempatkan penelitian sebagai jalan menuju transparansi dan legitimasi publik.

Keduanya sama-sama berhadapan dengan labirin: Tzinacán dengan labirin kosmik, Dr. Tifa dengan labirin politik dan hukum.

Dengan demikian, hal ini memperlihatkan bahwa di balik kontroversi ijazah, terdapat dimensi yang lebih luas: pertarungan antara politik, hukum, dan akademik, serta refleksi tentang makna pengetahuan itu sendiri.

Dalam dunia Borges, rahasia terbesar adalah menerima bahwa semesta terlalu luas untuk dikuasai.

Dalam dunia Dr. Tifa, rahasia terbesar adalah menegakkan kebenaran melalui penelitian dan transparansi, meski harus berhadapan dengan tekanan politik dan kriminalisasi.

Dengan demikian, Tulisan Tangan Tuhan Borges menjadi sebuah metafora tentang bagaimana manusia menafsirkan pengetahuan?

Apakah sebagai jalan menuju kekuasaan, atau sebagai jalan menuju kesadaran dan kebenaran?

Konsekuensinya, kecuali mati, tak ada yang bisa baca Tulisan Tangan Tuhan di seluruh tubuh manusia dan alam semesta.

#coverlagu:
Lagu Mahajana(Sanskerta: Penguasa) dicipta mendiang Bagoes A. Ariyato menang ajang Lomba Cipta Lagu Remaja(LCLR) Prambors Rasisonia pada tahun 1979 dan dirilis Yuni Shara(53) pada album Isi Hati(2002), Mans Entertainment.

#credit foto @TifauziaTvassumaOfficial TAHUN KE-2 KONTROVERSI IJAZAH JOKOWI,
BENANG MERAH KEBENARAN MULAI TERKUAK.