May 7, 2026

Sastri Bakry dan Edrawati Wakili Indonesia pada Festival Puisi Internasional di Vietnam

Oleh: Edrawati, M.Pd

Hanoi, Vietnam – Suara Anak Negeri News.Com| Dua tokoh literasi asal Indonesia, Sastri Bakry Ketua Umum Satu Pena Indonesia dan Edrawati, M.Pd., guru SMP Negeri 13 Padang yang juga dikenal dengan nama pena Era Nurza, dipercaya mewakili Indonesia dalam Festival Puisi Internasional yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam, pada 4–8 Oktober 2025.

Ajang bergengsi ini mempertemukan para penyair, penulis, dan seniman dari berbagai belahan dunia untuk bertukar gagasan, memperkenalkan karya, serta memperkuat diplomasi budaya melalui bahasa sastra. Tahun ini, festival tersebut diikuti oleh delegasi dari enam negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Jerman, dan Vietnam sebagai tuan rumah. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Kedutaan Besar India, yang turut memperkaya suasana lintas budaya dan persahabatan.

Setibanya di Bandara Internasional Noi Bai, Hanoi, kedua delegasi Indonesia disambut secara istimewa oleh perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vietnam. Petugas KBRI, Handoko, warga Vietnam yang fasih berbahasa Indonesia, telah menunggu di dekat pintu pesawat dengan papan nama bertuliskan “Sastri Bakry dan Edrawati”. Sambutan ramah dan hangat itu menyentuh hati, mencerminkan penghargaan tinggi terhadap peran sastrawan Indonesia dalam mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Sejak hari pertama, suasana festival terasa penuh energi dan semangat persaudaraan. Para peserta dari berbagai negara duduk melingkar di aula utama, saling memperkenalkan diri dan berbagi pandangan tentang perkembangan sastra di era digital. Diskusi panel bertema Poetry and Cultural Diplomacy menjadi pembuka yang menggugah, menyoroti bagaimana kata-kata mampu menembus batas negara dan menyatukan perasaan manusia.

Dalam sesi pembacaan puisi lintas bahasa, Sastri Bakry dan Edrawati tampil dengan membawakan karya bertema persaudaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. Dengan suara lembut dan penuh makna, keduanya membacakan puisi dalam bahasa Indonesia, disertai terjemahan bahasa Inggris di layar. Karya mereka mendapat sambutan meriah dari peserta dan penonton yang hadir, membuktikan bahwa bahasa puisi bersifat universal, ia berbicara langsung kepada hati manusia tanpa perlu penerjemah yang sempurna.

Selain pembacaan puisi, festival ini juga diisi dengan berbagai kegiatan menarik, seperti pameran buku dan karya seni, kunjungan ke rumah-rumah seniman Vietnam, pementasan musik tradisional, serta malam budaya lintas negara. Salah satu momen paling berkesan adalah saat makan malam bersama para penyair di meja panjang yang dihiasi lampion-lampion merah khas Hanoi. Di sana, para peserta berpuisi, menari, bernyanyi, dan tertawa bersama. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan; yang tersisa hanya rasa hangat bahwa sastra telah menjembatani jiwa-jiwa dari berbagai penjuru dunia.

Menurut panitia penyelenggara, tujuan utama festival ini adalah memperkuat diplomasi budaya dan memperluas jaringan kerja sama antarbangsa melalui kekuatan kata. Sastra dianggap sebagai alat lunak yang mampu membangun perdamaian dengan cara yang indah, tanpa perlu kekuasaan atau senjata.

Dalam kesempatan wawancara, Sastri Bakry menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan untuk mewakili Indonesia di ajang internasional ini.
“Sastra adalah dunia tanpa dinding. Ia menembus batas geografis dan menyatukan manusia melalui bahasa kemanusiaan. Alhamdulillah, kami juga mendapat dukungan penuh dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Bapak Denny Abdi, yang menyambut baik misi literasi kami di sini,” tutur Sastri dengan mata berbinar.

Sementara itu, Edrawati (Era Nurza) menambahkan bahwa keikutsertaannya bukan sekadar perjalanan pribadi, tetapi bagian dari pengabdian kecil bagi bangsa.
“Melalui puisi, kita saling memahami dan menyapa. Dari setiap bait, kita belajar arti empati dan kasih sayang. Inilah bentuk sederhana diplomasi sastra—membangun jembatan hati antara bangsa-bangsa,” ujarnya dengan senyum penuh keyakinan.
Kegiatan ini menjadi