April 21, 2026

Secercah Cahaya Iman di Tengah Kesibukan Dunia

🏝Butir Butir Pasir Di Laut🏖🏝
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

Sore hari kini langit kota Padang berwarna keemasan.
Mentari mulai condong ke Barat, membiaskan cahaya lembut di halaman Masjid Al Hakim, tempat yang menjadi saksi bisu bagi setiap hati insan yang mendambakan ketenangan.

Angin sepoi sepoi berhembus perlahan, membawa aroma mewangi bunga Kenanga yang tumbuh di tepi pagar Masjid.
Suara adzan Maghrib pun sebentar lagi akan berkumandang, tapi para jamaah sudah mulai berdatangan dengan langkah tenang.

Di antara mereka tampak tiga orang sejoli: Saleha, Emma Mahdinir, dan Ermadeli.
Ketiganya dikenal sebagai Wanita Srikandi yang rajin hadir di setiap kegiatan pengajian di Masjid Al Hakim.

Sore ini mereka datang lebih awal, membantu menyiapkan acara pengajian bulanan kaum ibu.
“Masya’ Allah, indah nian sore ini,”ucap Saleha, sambil menata sajadah.
Emma Mahdinir tersenyum dan berkata, “Semoga hati kita pun seindah langit sore ini.”
Ermadeli menimpali lembut, “Dan semoga setiap langkah kita menuju Masjid dicatat sebagai amal yang diridhai Allah.”

Tak lama kemudian, suara adzan pun berkumandang.
Gema takbir Allahu Akbar menggetarkan dada. Semua jama’ah menundukkan kepala, meresapi panggilan Sang Ilahi.

Setelah shalat Maghrib berjama’ah, acara Majelis Ta’lim pun dimulai.
Thema yang di usung sederhana namun mendalam: “Menjaga Cahaya Iman di Tengah Kesibukan Dunia.”

Ustadzah yang menjadi penceramah berbicara dengan suara tenang dan penuh hikmah.
Ia mengingatkan bahwa, hati manusia mudah gelap oleh kesibukan duniawi.
Dan hanya dengan dzikir serta keikhlasan, cahaya iman akan tetap menyala.

Saleha menunduk, matanya berkaca-kaca. Emma Mahdinir mencatat pesan-pesan yang didengar, sementara Ermadeli memejamkan mata, dalam hatinya berzikir pelan.

Dalam keheningan Masjid, seolah ada cahaya lembut yang turun, bukan dari lampu, tapi dari rasa tenteram yang mengalir di setiap relung jiwa.

Usai pengajian, mereka bertiga duduk di serambi Masjid.
Hujan rintik mulai turun, membasahi halaman.
“Kadang kita tak perlu menunggu bahagia,” kata Saleha pelan.
“Cukup datang ke masjid dan rasakan damainya hati.”
Emma mengangguk. “Benar. Cahaya itu tidak jauh, ia tinggal di dalam diri kita, asal hati tidak berpaling dari Allah.”

Ermadeli tersenyum, “Dan Masjid ini, tempat kita bersujud bersama, adalah saksi bahwa iman masih hidup di antara kita, manusia.”

Malam pun datang perlahan. Lampu-lampu di Masjid Al Hakim menyala, memantulkan cahaya lembut ke permukaan air hujan.
Tiga sejoli itu melangkah pulang dalam diam, tapi hati mereka terang, diterangi oleh cahaya yang tidak padam, cahaya yang lahir dari keikhlasan, dzikir, dan kasih sayang di jalan Allah.