Selubung Cahaya dalam Tubuh yang Hening
Antologi Puisi:
Oleh Rizal Tanjung
—
Bab I
Bayangan dalam Kabut Plum
Di pagi yang belum disentuh warna,
kulihat engkau muncul—
bukan dari pintu, bukan dari lorong,
melainkan dari kabut plum yang halus,
menggantung di antara ranting-ranting musim dingin yang telanjang.
Engkau berlutut dalam diam,
seperti bayang-bayang yang gentar,
ragu di antara mimpi dan kenangan.
Rambutmu belum menjadi bulan purnama,
lehermu menyimpan nafas musim semi.
Engkau tak berkata sepatah kata,
namun udara berdiri khidmat,
miringkan telinga untuk mendengarmu.
Wajahmu kabur,
namun hatiku—lebih jernih dari sungai tak berdasar—
mengingatmu seluruhnya.
Ujung jarimu menulis sajak di udara—
puisi yang diam,
memohon fajar agar menunda langkahnya.
Aku melangkah perlahan,
takut bumi retak oleh suara,
takut kabut hancur oleh napasku.
“Siapa kau?”
bisikku.
Hanya daun plum yang gugur menjawab,
menemani bayangmu
yang larut dalam cahaya anyaman pagi.
Saat itu aku tahu—
perasaan ini tak bisa digenggam.
Ia lahir dari yang tak berbentuk,
bernapas dalam senyap,
membawa makna dalam kekosongan.
Engkau bukan kekasih—
engkau adalah waktu.
Aku takkan pernah memelukmu,
namun akan selalu merindu.
Sejak pagi itu,
kutulis satu nama
dengan tinta embun
di atas gulungan sutra yang tak terlihat:
Engkau,
—engkau yang datang dari kabut plum
dan masuk ke dalam hatiku
seperti cahaya embun abadi yang tak pernah padam.
—
Bab II
Sanggul Rambut di Ranting Giok
Di antara pohon-pohon giok purba,
kulihat sanggul rambutmu
yang dilupakan angin musim gugur.
Ia bergoyang perlahan,
seperti benang cahaya yang patah,
melayang di antara musim
yang tak pernah saling menyapa.
Engkau lilitkan waktu
seperti membungkus sutra tipis
pada dahan yang tak pernah tegak.
Cinta kita—
satu simpul,
terikat pada batang
yang tak pernah berbunga.
Langkahmu
bergema melintasi seribu tahun.
Mungkin dahulu kau pernah menapaki halaman istana Chu,
atau menyisir bayangmu di tepi Sungai Yangtze
dengan cermin giok.
Aku bukan siapa-siapa,
hanya penatap diam
yang mencoba memahami
bahasa jari-jarimu di udara.
Kau tak pernah menoleh,
namun aku tahu—
sanggul ini kau tinggalkan
pada belas kasihan angin,
agar ditemukan jiwa yang tenang
dan mengerti.
—
Bab III
Suara Payung di Hujan Paviliun Barat
Senja datang bersama hujan.
Payungmu berubah menjadi gema
yang hanya bisa didengar oleh jiwa-jiwa patah.
Kau berdiri di Paviliun Barat,
tempat bunga plum gugur—
bukan karena angin,
tapi karena hati yang terlalu berat menanggung.
Payungmu tak lindungi hujan—
ia saring kenangan
yang menetes perlahan ke dalam dadaku.
Aku tak melangkah mendekat.
Aku hanya memandang dari kejauhan.
Karena cinta, kadang-kadang, adalah kemampuan—
bukan untuk menyentuh,
tapi untuk tetap setia hadir.
—
Bab IV
Bayang-Bayang di Jembatan Batu
Malam menari di atas jembatan batu tua.
Langkahmu mengukir puisi
yang hanya bisa dibaca kunang-kunang.
Engkau melangkah dalam hidup yang bisu,
namun setiap jejakmu
menggetarkan batu-batu
yang menyimpan riwayat cinta.
Dari seberang,
aku menatapmu dari kegelapan.
Aku tahu
kau tak akan menoleh.
Namun aku juga tahu—
bayangmu, dulu,
pernah bersandar di pundakku
di dunia yang lain.
—
Bab V
Embun di Mata Air Wewangian
Di mata air yang wangi itu,
kucoba membasuh
kenanganku tentangmu.
Namun engkau tetap kembali—
dalam setiap bulir embun
yang tak terpisahkan dari daun.
Cinta adalah napas,
tak bisa ditampung.
Ia mengalir dari kulitmu
ke dalam angin,
dari napasmu
ke langit.
Kuteguk air mata air itu—
rasanya asin.
Mungkin karena
kau membawa air mata
yang tak pernah jatuh.
—
Bab VI
Surat Daun dalam Angin Musim Gugur
Angin musim gugur membawa surat.
Setiap daun gugur
adalah puisi yang kutulis untukmu—
tanpa pena, tanpa tinta,
hanya getar dada.
Daun-daun melayang
menyimpan bait yang tak pernah berani kuucapkan.
Dan tiap bait
berbisik satu nama: engkau.
Tak ada alamat.
Tak ada balasan.
Namun aku tahu
surat-surat itu sampai—
karena jiwaku terasa lebih ringan
saat angin membawanya pergi.
—
Bab VII
Cermin Retak di Danau Barat
Cermin di Danau Barat—
telah retak.
Setiap retakan
memantulkan wajahmu
dalam bentuk yang berbeda.
Kadang engkau bulan,
kadang bayangan burung,
kadang sunyi itu sendiri.
Kukumpulkan pecahan-pecahan itu,
berharap melihatmu utuh.
Namun cinta bukan tentang keutuhan—
melainkan keberanian
mencintai yang takkan pernah menyatu.
—
Bab VIII
Aroma yang Tertinggal di Rambutmu
Dari kejauhan, aku menciummu.
Bukan tubuhmu—
tapi kenanganmu.
Aroma itu
berdiam di rambutmu,
yang tak pernah kusentuh.
Engkau seperti kayu cendana,
membakar waktu.
Napasmu tenggelam ke dalam tulang,
diam di kulit,
berakar di sumsum.
Bahkan malam pun mabuk.
Bahkan langit kehilangan arah.
Aku menulis puisi
tanpa sadar,
tanpa kendali,
tanpa henti…
—
Bab IX
Lonceng di Kuil Sunyi
Lonceng berdentang—
padahal tiada yang memukulnya.
Mungkin itulah rindumu,
terlalu berat
hingga mengguncang logam waktu.
Aku masuk ke dalam kuil
bukan untuk berdoa,
melainkan mendengarkan
jejak kakimu
dalam suara para dewa yang bisu.
Setiap dentang lonceng
adalah engkau yang semakin menjauh.
Namun setiap gema yang tinggal
adalah hadirmu
yang menetap dalam dadaku.
—
Bab X
Selubung Cahaya dalam Tubuh yang Hening
Akhirnya,
aku mengerti:
engkau penenun cahaya
di dalam tubuh yang hening.
Kita tak pernah bersatu dalam wujud—
namun roh kita
terjalin
dalam nyala api yang sama.
Kau menari dalam diam,
dan aku—dengan mata berair—menyaksikan.
Namun bukankah itu cinta sejati?
Tak perlu suara,
tak perlu tubuh—
hanya nyala cahaya
yang menyinari dua kesenyapan
yang saling memahami.
Sumatera Barat, 2025