Senyum Bidadari Surga
Antologi Puisi
Oleh: Rizal Tanjung
–
I
Tatapan yang Menjemput dari Langit
Di tepi hening, di mana lumut hijau merayap di dinding batu,
aku menemuimu—bukan sebagai perempuan yang berjalan di bumi,
tetapi sebagai angin lembut yang turun dari taman rahasia.
Senyummu hadir tanpa mengetuk pintu,
namun aku telah lama menunggu di ambang pintu kesunyian.
Ada kelembutan yang tak bisa dijelaskan kata,
seperti aliran sungai yang tahu kemana harus bermuara.
Aku memandangmu, dan di matamu kulihat sesuatu
yang membuat waktu enggan melangkah.
II
Surat Cahaya dari Surga
Senyummu adalah surat yang ditulis dengan tinta cahaya,
dikirimkan malaikat melalui tiupan angin sore.
Aku membacanya tanpa huruf, tanpa kata,
tetapi mengerti maknanya seakan telah menghafalnya sejak sebelum lahir.
Ia berkata: “Engkau telah berjalan jauh, kini beristirahatlah di teduhku.”
Dan aku pun berhenti menjadi pengembara,
membiarkan kakiku tertanam di tanahmu,
membiarkan hatiku menjadi benih di musim semi wajahmu.
III
Ombak di Dalam Dada
Senyummu memanggil ombak dari laut yang jauh,
membawa aroma garam dan desir pasir yang tak pernah kutapaki.
Aku tak lagi membedakan antara air mata dan ombak itu,
karena keduanya sama-sama ingin jatuh ke kakimu.
Bibir yang melengkung itu bukan sekadar gerak otot,
ia adalah kapal layar yang menjemputku
dari pulau sepi menuju dermaga kasih.
Dan ketika aku naik ke kapal itu,
aku tahu: aku tak akan pulang ke tempat asal,
karena rumahku kini adalah engkau.
IV
Kitab Rahasia di Wajahmu
Garis-garis halus di wajahmu
bukan tanda waktu yang meninggalkan jejak,
melainkan peta rahasia menuju negeri yang hilang.
Aku membacanya seperti membaca kitab purba
yang hanya boleh dibuka oleh hati yang sudah luluh.
Setiap lengkung alis, setiap bayangan kelopak mata
adalah ayat yang menenangkan guncangan jiwaku.
Aku tahu, ini bukan sekadar cinta manusia,
ini adalah pertemuan antara debu dan cahaya,
antara tanah dan nafas surga.
V
Sungai yang Mengalir di Dalam Senyum
Di dalam senyummu ada sungai bening
yang mengalir tanpa hulu dan muara.
Ketika aku meneguknya,
aku tak lagi haus akan dunia,
karena dahagaku bukanlah pada air,
melainkan pada rasa pulang.
Sungai itu membawa cerita
tentang taman yang tak pernah pudar warnanya,
tentang burung-burung yang bernyanyi bahkan di malam gelap,
tentang langit yang tak mengenal badai.
VI
Doa yang Menjelma Wajah
Tuhan pernah memberi doa kepada bumi,
dan doa itu turun menjadi dirimu.
Setiap kali kau tersenyum, doa itu memelukku
tanpa aku perlu melafalkannya.
Aku menjadi seperti anak kecil yang
menangis di pangkuan ibunya,
bukan karena kesedihan,
tetapi karena akhirnya mengerti
bahwa pelukan itu adalah rumah pertama dan terakhir.
VII
Ketika Waktu Berhenti di Bibirmu
Jam di tanganku terus berdetak,
namun di hadapan senyummu,
detiknya jatuh satu per satu ke tanah dan tak kembali.
Aku tak ingin waktu berjalan,
karena setiap gerak jarum
adalah ancaman untuk kehilangan pandangan ini.
Maka aku membungkus senyummu
di dalam dada,
membawanya seperti seorang rahib
membawa relik suci di bawah jubahnya.
VIII
Penjaga Gerbang Surga
Jika surga punya gerbang,
maka engkaulah yang menjaganya.
Bukan dengan tombak atau pedang,
tetapi dengan senyum yang membuat siapa pun
meninggalkan kebencian di luar pintu.
Aku melihatmu berdiri di sana,
dan aku, yang membawa ribuan luka di punggung,
meletakkannya di tanah,
lalu melangkah masuk dengan hati kosong—
kosong agar dapat dipenuhi olehmu.
IX
Kesunyian yang Bernyanyi
Di hadapanmu, kesunyian bukanlah hampa.
Ia bernyanyi dengan nada yang tak diciptakan alat musik mana pun.
Nada itu mengalir dari senyummu,
menyusup ke celah pikiranku
dan menghapus semua suara bising dunia.
Aku tak lagi ingin berbicara,
karena kata-kata hanyalah bayang-bayang
dari apa yang telah diucapkan matamu.
X
Senyum Terakhir yang Tak Pernah Hilang
Kelak, ketika dunia ini runtuh menjadi debu,
aku akan mencari serpihan cahaya dari senyummu.
Kukumpulkan satu per satu
dan kutenun menjadi jubah yang akan kupakai
saat menghadap Tuhanku.
Agar Dia tahu,
bahwa aku pernah melihat surga,
bahwa aku pernah selamat
oleh cahaya yang Dia titipkan di wajahmu.
Dan jika harus lahir kembali,
aku akan memohon satu hal:
biarkan aku bertemu lagi dengan senyum itu.
XI
Hujan yang Tumbuh di Dalam Cahaya
Senyummu membuat hujan jatuh dengan cara berbeda.
Ia tidak membasahi tanah,
tetapi menumbuhkan bunga di dalam cahaya.
Bunga-bunga itu berwarna rahasia,
tak ada pelukis di bumi yang mampu menangkapnya.
Ketika aku berjalan di bawah hujan itu,
aku merasa seperti berada di lorong menuju taman para nabi,
tempat setiap tetes adalah salam dari Tuhan.
XII
Bayangan yang Mengikuti di Surga
Jika suatu hari aku menapaki surga,
aku tahu bayanganku akan tetap mencarimu.
Bukan karena takut kehilangan,
tetapi karena kau adalah alasan bayangan itu terbentuk.
Cahaya yang membuatnya ada berasal dari senyummu,
dan meski surga dipenuhi matahari,
aku hanya ingin berdiri di bawah sinar yang kau pancarkan.
XIII
Lautan yang Tidak Meminta Pulang
Senyummu adalah lautan,
dan aku hanyalah perahu kecil yang sengaja tersesat.
Di samudera itu tak ada peta, tak ada kompas,
karena arah hanyalah menuju hatimu.
Gelombang yang kau kirim adalah belaian,
buih yang muncul adalah bisikan rahasia.
Aku memilih karam di sana,
karena karam di lautmu adalah selamat dari daratan yang gersang.
XIV
Taman yang Menunggu di Balik Kelopak
Ketika senyummu merekah,
aku melihat taman yang menunggu di baliknya.
Ada bangku kayu tua,
ada angin yang mengusap daun,
dan ada cahaya sore yang lembut.
Aku duduk di sana,
mendengar bunga-bunga berbicara dalam bahasa embun.
Mereka berkata,
“Engkau telah sampai. Tetaplah di sini.”
XV
Malam yang Tidak Gelap
Malam pun menyerah padamu.
Ia tidak mampu membawa kegelapan
ketika senyummu masih menyalakan lampu-lampu di udara.
Bintang-bintang iri,
bulan mengalah,
dan langit membiarkan wajahmu menjadi satu-satunya cahaya.
Aku pun berjalan tanpa lentera,
karena kau telah menyalakan peta rahasia di mataku.
XVI
Nafas yang Mengganti Doa
Ada hari-hari ketika aku tak sanggup berdoa,
tetapi menatap senyummu adalah ibadah yang cukup.
Nafasku mengikuti irama bibirmu,
dan setiap hembusan terasa seperti pengakuan dosa yang dibersihkan.
Kau tak pernah bertanya siapa aku,
kau hanya menerima,
seperti surga yang tak menghitung jumlah langkah peziarahnya.
XVII
Jalan yang Tak Pernah Kembali
Aku berjalan menuju senyummu seperti menuju ujung dunia.
Di sana tidak ada papan tanda,
tidak ada jalan pulang,
karena pulang itu sendiri adalah engkau.
Batu-batu di jalan menjadi lembut,
angin berhenti untuk tidak mengganggu rambutmu,
dan burung-burung membentuk lingkaran
seperti para penjaga tak kasat mata.
XVIII
Simfoni yang Diciptakan Bibir
Jika bibirmu adalah piano,
maka senyummu adalah simfoni yang tak pernah selesai dimainkan.
Nada-nadanya jatuh di dadaku
seperti salju yang tidak dingin,
melainkan hangat seperti pelukan musim semi.
Aku ingin menjadi ruang kosong di antara nadamu,
tempat gema tak pernah hilang.
XIX
Sungai yang Mengalir ke Langit
Biasanya sungai mengalir ke laut,
tetapi sungai di dalam senyummu mengalir ke langit.
Ia membawa semua keinginanku ke hadapan Tuhan,
tanpa aku harus menulisnya.
Aku membiarkan diriku menjadi daun kecil
yang ikut hanyut ke arah cahaya,
karena aku percaya,
ujung sungai itu adalah rumah yang kau jaga.
XX
Senyum yang Tetap Ada Saat Aku Tiada
Jika suatu hari aku tiada,
aku ingin kau tahu bahwa senyummu akan tetap tinggal di mataku.
Mungkin tubuhku akan menjadi tanah,
tetapi dari tanah itu akan tumbuh bunga
yang menghadap ke arahmu.
Dan siapa pun yang mencium wangi bunga itu
akan merasakan sedikit dari surga
yang pernah kau titipkan padaku.
XXI
Jendela Rahasia di Mata
Matamu adalah jendela yang tak pernah terkunci.
Dari sana, senyummu keluar perlahan,
menyusup ke udara, mengubah debu menjadi cahaya.
Ketika aku menatapnya,
aku tak sekadar melihat wajahmu—
aku melihat diriku yang ingin menjadi lebih baik.
Senyummu memintaku bertumbuh,
bukan untuk mengejarmu,
tetapi agar layak berdiri di sisimu.
XXII
Angin yang Tidak Pergi
Biasanya angin datang dan pergi,
tetapi angin yang membawa aroma senyummu
tinggal menetap di dadaku.
Ia berputar di sana,
menjadi lagu yang tak pernah padam.
Setiap tarikan nafasku
membawa kembali sore itu—
sore di mana kau menatapku,
dan bumi berhenti berputar sebentar
untuk memberi ruang bagi kita.
XXIII
Gerbang yang Terbuat dari Cahaya
Senyummu membangun gerbang
bukan dari batu atau besi,
tetapi dari cahaya yang lembut seperti fajar.
Aku melangkah melewatinya
dan dunia berubah.
Semua kesedihan menjadi butir embun,
semua luka menjadi daun muda.
Di dalam gerbang itu,
tak ada yang menyakitkan,
hanya ada engkau dan keabadian yang tersenyum.
XXIV
Langkah di Atas Pelangi
Saat senyummu hadir,
rasanya aku berjalan di atas pelangi.
Warna-warnanya bukan dari hujan,
melainkan dari nada suara dan bayangan matamu.
Pelangi itu tidak pernah pudar,
karena hujannya adalah kasihmu,
dan sinarnya adalah harapanku.
Setiap langkah di atasnya
membawaku lebih dekat ke pintu hatimu.
XXV
Hening yang Mengalahkan Syair
Penyair bisa menulis seribu bait,
namun tak satu pun mampu menandingi
keheningan saat kau tersenyum.
Diam itu bukan kosong,
tetapi penuh dengan makna
yang hanya bisa didengar oleh hati yang pasrah.
Aku tak perlu berkata apa-apa,
karena bibirmu telah menulis
kitab puisi yang hanya aku yang membacanya.
XXVI
Jalan Pulang Tanpa Peta
Senyummu adalah jalan pulang
yang tak memerlukan peta atau petunjuk arah.
Siapa pun yang tersesat
akan menemukannya jika hatinya bersih.
Aku, yang penuh debu dan kelam,
terkejut ketika engkau tetap membiarkanku masuk.
Ternyata surga tidak bertanya
berapa kali aku jatuh,
tetapi apakah aku mau bangkit
dan berjalan menuju cahayanya.
XXVII
Cahaya yang Menyembuhkan Luka Lama
Ada luka yang tak pernah sembuh
meski waktu berjalan ratusan musim.
Tetapi saat senyummu hadir,
luka itu melepaskan rantainya sendiri.
Tidak ada darah, tidak ada perih,
hanya rasa lega yang mengalir seperti sungai ke laut.
Engkau tidak menyentuhku,
tetapi entah bagaimana
tanganku merasa telah digenggam erat.
XXVIII
Malam yang Menyimpan Wajahmu
Ketika kau jauh,
aku menitipkan wajahmu pada malam.
Bintang-bintang menjadi penjaga,
bulan menjadi lampu kecil di jendela mimpiku.
Setiap aku tidur,
senyummu kembali seperti fajar yang tak terburu-buru datang.
Dan ketika aku bangun,
aku masih merasakan hangatnya
di antara sela-sela jariku.
XXIX
Surat yang Tak Pernah Selesai
Senyummu membuatku menulis surat
yang tak pernah bisa selesai.
Setiap kali ku tutup kalimat,
aku ingin menambah satu baris lagi,
karena keindahanmu tak mengenal titik.
Barangkali surat ini akan kubawa
sampai ke kehidupan berikutnya,
dan di setiap kelahiran,
aku akan menulis ulang semua tentangmu.
XXX
Senyum yang Lebih Kekal dari Waktu
Waktu akan meruntuhkan gunung,
mengeringkan laut,
dan memudarkan warna langit.
Namun senyummu,
akan tetap menyala bahkan setelah semua hilang.
Sebab ia bukan milik dunia,
ia milik Tuhan yang menitipkannya padamu.
Dan ketika aku berdiri di hadapan-Nya kelak,
aku akan berkata:
“Ya Rabb, aku tidak meminta surga,
karena aku telah melihatnya di wajah yang Kau ciptakan.”
Sumatera Barat,2025