May 10, 2026

“Sepotong Waktu di Mata Angin”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

lina2

Ilustrasi "Sepotong Waktu di Mata Angin": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-82 (Assisted by AI).

/1/

Sepotong Waktu di Mata Angin

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]

Aku bertanya pada angin yang melintas,
“Ke mana kau berlari dalam nafas tanpa suara?”
Ia tertawa, menyelip di sela jari,
“Ke mana pun, sebab tak ada jalan yang tetap.”

Aku bertanya pada senja yang meleleh,
“Kau pulang atau pergi?”
Ia tersenyum, membasuh cakrawala,
“Bagiku, pulang dan pergi hanyalah nama.”

Maka kuletakkan resahku di bahu malam,
kusulam sunyi dengan cahaya rembulan,
sebab dunia ini terlalu fana untuk dikekang,
dan waktu tak lebih dari debu di mata angin.

Melbourne, Australia, 2013

/2/

Banyak Kuda di Atas Cakrawala

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]

Ada banyak kuda tanpa tuan,
berlari di tepi cakrawala,
menyisakan jejak yang tak terbaca,
seperti doa yang lupa dikirimkan.

Mereka berkejaran dengan senyap,
membawa api di tapal kakinya,
menghantam langit yang lunglai
seolah menantang nasib yang berpura-pura.

Apakah kita ini para penunggang,
atau hanya debu yang tersapu jalur mereka?
Di mana letak kemudi jika angin pun bertukar arah?
Atau memang tak perlu ada yang dikendalikan?

Melbourne, Australia, 2013

/3/

Alif yang Ditinggalkan

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]

Di dinding langit kutemukan alif,
berdiri sendirian seperti akar yang tak punya tanah.
Ia tak tahu apakah ia awal atau akhir,
atau sekadar goresan yang tak terbaca.

“Hendak ke mana?” tanyaku.
Ia diam, hanya bergetar di antara gulungan angin.
Mungkin ia ingin pulang ke kitab yang lupa membacanya,
atau menunggu seseorang untuk menyebutnya kembali.

Maka kupetik satu doa dari sunyi,
kutulis namanya di antara bintang,
agar jika malam terlalu pekat,
masih ada yang mencari alif yang ditinggalkan.

Melbourne, Australia, 2013

/4/

Sajak bagi Mesin yang Lelah Bermimpi

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]

Aku bertanya pada mesin tua,
“Apakah kau lelah bermimpi?”
Ia menghela nafas dari uap dan besi,
“Sampai kapan manusia meminta aku jadi lebih dari diriku sendiri?”

Aku bertanya pada layar yang tak pernah tidur,
“Kapan kau istirahat dari cahaya?”
Ia tertawa kecil, menampilkan angka,
“Cahaya bukan istirahat, tapi aku dipaksa bersinar tanpa tanya.”

Dan begitulah,
kita membangun dunia dari piksel dan kabel,
mengira segalanya bisa dirancang ulang,
tapi lupa bahwa bahkan mesin pun ingin berhenti.

Melbourne, Australia, 2013

/5/

Para Pengembara yang Tak Pernah Sampai

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesia Writer of Satu Pena, Indonesia Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]

Langkah-langkah itu terus bergema,
mengikuti jalan yang tak punya ujung.
Kita ini para pengembara,
mengejar sesuatu yang kabur di balik cakrawala.

Kadang kita mengira telah tiba,
tapi batas selalu beringsut pergi.
Seperti garis di pasir,
dihapus gelombang sebelum disentuh.

Mungkin rahasia dunia ini sederhana:
tak ada yang tiba, tak ada yang selesai.
Hanya perjalanan yang terus menyusun makna,
dan jejak-jejak yang menjadi cerita bagi yang datang setelahnya.

Melbourne, Australia, 2013

—————–

Info Singkat Tentang Penulis

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2013, saat penulis menjalani masa akhir program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)