Siang, Bulan Tidur di Mana
Rizal Tanjung
–
Siang bertanya kepadaku
dengan suara yang tak bersuara:
ke mana bulan pergi
ketika cahaya merasa cukup
menyebut dirinya sendiri?
Aku mencari bulan
di lipatan awan,
di saku langit
yang robek oleh matahari,
namun tak kutemukan ia
selain sebagai rindu
yang menyamar jadi terang.
Barangkali bulan tidak tidur,
ia hanya menutup wajahnya
agar manusia belajar
melihat tanpa bantuan cahaya.
Dalam siang,
bulan berbaring di dada malam
yang belum lahir,
seperti rahasia
yang sengaja disimpan Tuhan
agar iman tidak tumbuh
dari bukti,
melainkan dari percaya.
Wahai Yang Menyembunyikan
untuk Memperlihatkan,
Engkau simpan bulan
di tempat paling jauh—
namun menaruh jejaknya
di air mata kami.
Siang terlalu riuh
untuk mendengar
nafas bulan yang halus.
Ia tenggelam
di dzikir angin,
di detak daun,
di jeda antara dua sujud
yang lupa dihitung.
Aku pun mengerti:
bulan tidur
di dalam kehilangan,
di ruang kosong
tempat aku berhenti bertanya
dan mulai pasrah.
Sebab hanya ketika aku tidak melihat,
cahaya belajar
menjadi makna,
dan hanya ketika aku tiada,
bulan bangun
sebagai Engkau
yang tak pernah pergi.
—–
Sumatera Barat, Indonesia 2025.