April 16, 2026
rizal5

(Zikir Sunyi di Taman Hati)

Puisi Sufi: Rizal Tanjung

Suka tak suka—
aku hanyalah musafir
yang tersandung di antara kehendak-Mu
dan nafsu yang menyamar sebagai doa.
Di setiap langkah,
aku belajar bahwa rasa
bukanlah hakim,
melainkan debu
di telapak kaki takdir.

Tinggalkan ragu,
bisik-Mu datang seperti angin
yang memadamkan pelita akal
agar cahaya iman bernyala.
Sebab ragu adalah hijab paling halus,
ia tak melarangku sujud,
namun menghalangiku
untuk benar-benar sampai.

Memaksa hati—
betapa sering aku lakukan
atas nama kesalehan.
Aku menjerat jiwa
dengan tali kehendakku sendiri,
lalu menuduh-Mu
ketika sesak itu bernama luka.
Padahal cinta-Mu
tak pernah dipaksa,
ia mengalir
seperti sungai yang tahu
ke mana laut memanggil.

Tak rela direla,
itulah jerit nafs
yang ingin terlihat pasrah.
Bibirku mengucap “ridha”,
namun dadaku menyimpan gugatan.
Wahai Yang Maha Mengetahui,
ajarkan aku
makna rela
yang tak bersuara,
yang tak meminta saksi,
yang cukup Engkau ketahui.

Amalan sesat
bukan hanya langkah yang menyimpang,
tetapi niat
yang ingin dipuji
lebih dari ingin Engkau ridhai.
Berapa banyak sujud
yang jatuh ke tanah,
namun tak pernah bangkit ke langit?
Berapa banyak doa
yang berputar-putar
di sumur ego?

Berkah juga tidak
turun pada hati
yang penuh perhitungan.
Sebab berkah adalah rahasia-Mu,
ia singgah
pada dada yang kosong
dari klaim dan kepemilikan.
Ia datang ketika aku lupa
bahwa aku siapa-siapa.

Namun bila sepenuh cinta—
cinta yang Engkau titipkan
lalu Engkau minta kembali,
aku belajar melepaskan
tanpa merasa kehilangan.
Sebab mencintai-Mu
adalah kehilangan
segala selain Engkau.

Bila seikhlas hati—
aku biarkan kehendakku
luluh di hadapan-Mu,
seperti garam
yang lenyap di samudra,
namun justru memberi rasa.
Di situlah aku mengerti:
ikhlas bukan mengosongkan diri,
melainkan dipenuhi oleh-Mu.

Maka bahagia
tak lagi kucari di luar,
ia bersemayam
dalam sujud yang hening,
dalam air mata
yang tak ingin diseka dunia.
Bahagia adalah saat
aku tak lagi bertanya
“mengapa”,
melainkan berserah
pada “begitulah Engkau menghendaki”.

Damailah selalu—
bukan dengan dunia,
tetapi dengan keputusan-Mu.
Sebab damai sejati
lahir ketika aku berhenti
menawar takdir,
dan mulai memeluknya
sebagai jalan pulang.

Wahai Kekasih Jiwa,
jika masih ada aku
dalam cintaku kepada-Mu,
hapuskanlah.
Jadikan aku jalan
bagi kehendak-Mu berjalan,
hening
bagi nama-Mu bergetar.

Dan di ujung fana,
ketika kata-kata runtuh
dan makna larut,
aku hanya ingin satu:
damai
sebagai seorang hamba
yang akhirnya tahu,
bahwa pulang
adalah lenyap
dalam Cahaya-Mu.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2025