Obituari Imanuel Boby Rian Soediarto, AMK
Almarhum Imanuel Boby (No Urut 2 dari Kanan) Mengantar Persembahan Diri Seutuhnya Pada Penyelenggaraan Ilahi di Gereja Santa Maria Biak, Minggi, 14 Desember 2025. (Dok foto: Silverius Sanam)
–00–
Ada keheningan yang terasa lebih berat dari kata-kata ketika seorang pribadi yang begitu hidup, ramah, dan penuh pengabdian harus berpulang. Minggu sore, 14 Desember 2025, pukul 17.00 WIT di RSUD Biak, Imanuel Boby Rian Soediarto, AMK, yang akrab disapa Boby, menghembuskan napas terakhirnya karena sakit. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan kerja, umat gereja, dan masyarakat Biak yang selama ini disentuh oleh pelayanannya.
Boby lahir di Bogor pada 28 Maret 1972 dari pasangan Bapak Johanes Marsudi dan Ibu Magdalena Nunuk Warsani. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Sejak masa kecil hingga remaja, perjalanan pendidikannya membawanya ke Biak: TK Sukaria (1980), SD Santo Yoseph Biak (1986), SMP Negeri 2 Biak (1989), dan SMA Negeri 1 Biak (1992). Panggilan untuk melayani sesama kemudian diteguhkan melalui pendidikan tinggi di Akademi Perawat Kementerian Kesehatan Sorong, yang ia tamatkan pada tahun 1997.
Pengabdian Boby sebagai tenaga kesehatan dimulai secara resmi ketika ia diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1998 berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi Irian Jaya, dengan Golongan/Ruang II/b sebagai Perawat Pratama Madya. Dengan kerja keras, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi, ia menapaki tugas hingga mencapai Golongan III/d dalam jabatan Perawat Penyelia. Sebagian besar hidup pengabdiannya ia curahkan di Puskesmas Biak Kota, tempat di mana senyum dan keramahan Boby menjadi obat pertama bagi setiap pasien yang datang berobat.
Bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki di Puskesmas Biak Kota, sosok Boby hampir pasti dikenang. Ia menyambut siapa pun tanpa memandang latar belakang, melayani sejauh yang ia bisa dengan sepenuh hati, dan memikul setiap tanggung jawab tanpa keluh. Rekan kerja: dokter, paramedis, hingga petugas administrasi, kehilangan seorang pribadi yang ceria, setia pada tugas, dan selalu siap membantu. Rasa kehilangan itu juga dirasakan di RSUD Biak dan di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, tempat di mana kehadiran Boby dikenal sebagai sumber kehangatan dan persaudaraan.
Dalam kehidupan keluarga, Boby adalah suami dan ayah yang penuh kasih. Ia menikah dengan Melania Ariningsih pada 10 Mei 2000 di Gereja Imanuel Sangeng, Manokwari. Dari pernikahan ini, Tuhan menganugerahkan seorang putri tercinta, Carolin Dini Ariana. Bersama istri dan anaknya, Boby membangun keluarga yang bukan hanya harmonis, tetapi juga berakar kuat dalam iman dan pelayanan.
Gereja Paroki Santa Maria Biak menjadi rumah rohani bagi Boby dan keluarganya. Di sana, keterlibatan mereka menjadi penyerahan diri yang total. Boby pernah mengemban berbagai tanggung jawab: Ketua Kring Benteng Daud, Ketua Wilayah Katarina, dan hingga akhir hayatnya menjabat sebagai Ketua Kombas Klara. Ia adalah pribadi yang merasa ada yang kurang bila tidak terlibat dalam kegiatan gereja. Bersama sang istri, ia turut mendorong kehidupan liturgi paroki dengan menghadirkan nuansa lagu-lagu baru sebuah kontribusi yang hidup dan membangkitkan semangat umat.
Hari terakhir hidupnya menjadi kesaksian iman yang menggetarkan. Minggu pagi, 14 Desember 2025, Boby dan istrinya bergegas mengikuti Misa Pagi pukul 08.00 WIT di Paroki Santa Maria Biak, sebuah misa tunggal yang dihadiri seluruh umat karena akan dilaksanakan pemilihan Ketua Dewan Paroki. Sebagai Ketua Kombas Klara, Boby mengoordinir tata laksana perayaan liturgi. Ia mengantar persembahan bersama rekan-rekan wilayah rohaninya, sebuah simbol penyerahan diri yang utuh. Pakaian yang dikenakannya saat menjalankan tugas mulia itu diabadikan oleh fotografer Silverius Sanam, menjadi kenangan terakhir pelayanan Boby di hadapan altar Tuhan.
Usai penghitungan suara pemilihan Ketua Dewan Paroki, Boby dan istrinya berjalan bersama menuju SD Santo Yoseph, lalu mengendarai sepeda motor pulang ke rumah. Di sanalah kehendak Tuhan dinyatakan. Sore harinya, Boby dipanggil pulang ke rumah Penciptanya.
Dalam Misa Requiem pada Rabu, 17 Desember 2025, Pastor Paroki Santa Maria Biak menyampaikan duka mendalam atas kepergian almarhum. Umat merasakan kehilangan seorang pelayan yang setia hingga akhir, seorang pribadi yang hidupnya adalah doa dan karya.
Di tengah duka, keluarga yang ditinggalkan diteguhkan oleh Sabda Tuhan: “Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan… karena segala jerih payah mereka menyertai mereka” (Wahyu 14:13). Ayat ini menjadi penghiburan bahwa hidup Boby dalam pelayanan kesehatan, dalam gereja, dan dalam keluarga—tidak sia-sia. Semua jerih payahnya menyertai dia kembali kepada Sang Pencipta.
Kepergian Boby meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Namun, warisan imannya, senyumnya, dan pengabdiannya tetap hidup dalam kenangan dan teladan. Dalam penyerahan diri yang total kepada Tuhan melalui pelayanan di gereja dan karya kasih kepada sesama, keluarga Boby bersama seluruh umat—menyerahkan jiwa almarhum ke dalam tangan Allah yang Maharahim, sambil melanjutkan api pelayanan yang telah ia nyalakan sepanjang hidupnya.
—
Ditulis oleh Paulus Laratmase