Antara Kekuatan dan Kelembutan: Menyikapi Konflik di Era Modern
Yusufachmad Bilintention
Refleksi di Tengah Konflik
Konflik adalah bagian dari denyut kehidupan manusia. Ia lahir dari perbedaan kepentingan, nilai, dan pandangan. Meski sering menimbulkan ketegangan, konflik juga membuka ruang pembelajaran. Pertanyaannya: bagaimana kita memilih cara untuk menyikapinya?
Kekuatan: Ketegasan yang Mendominasi
Pendekatan berbasis kekuatan biasanya muncul dengan nada tinggi, ancaman, atau sikap mendominasi. Ego menjadi pusat, sementara perasaan pihak lain terpinggirkan.
- Ancaman sebagai alat tekan: Seorang tamu yang gagal bertemu pimpinan lembaga melontarkan ancaman hukum lewat telepon. Sang pimpinan, meski tersinggung, tetap memberi waktu dengan tenang.
- Nada keras yang menguasai ruang: Dalam sebuah pertemuan, seorang suami berbadan kekar bersuara lantang. Penjelasan tenang pimpinan kalah oleh dominasi nada tinggi.
Kelembutan: Empati yang Meredakan
Sebaliknya, pendekatan kelembutan menempatkan empati dan dialog sebagai poros utama. Ia berusaha meredakan ketegangan tanpa merugikan siapa pun.
- Kesabaran yang menyejukkan: Pimpinan lembaga menerima tamu yang sebelumnya mengancam. Dengan senyum dan tutur santun, ia menjelaskan posisi lembaga, meski sempat menerima ucapan kurang menyenangkan.
- Senyum yang melunakkan: Dalam pertemuan, seorang suami sempat emosi. Namun sikap tenang pimpinan perlahan mencairkan suasana hingga berujung pada permintaan maaf.
Belajar dari Nilai Universal
Sejarah dan tradisi, termasuk ajaran agama, menekankan pentingnya damai sebagai tujuan utama. Dalam perspektif Islam, misalnya, Surat al-Hujurat ayat 9 menegaskan pentingnya mendamaikan pihak yang berselisih dengan adil. Pesan ini sejatinya universal: keadilan adalah fondasi perdamaian.
Kelembutan bukan berarti lemah, dan kekuatan bukan selalu benar. Yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan untuk menempatkan diri. Hubungan harmonis—dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan diri sendiri—menjadi kunci menciptakan damai di tengah konflik.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly