March 11, 2026

(Sebuah Puisi Epik tentang Rakyat dan Kekuasaan)
Oleh: Rizal Tanjung

I
Negeri ini lahir dari teriakan,
dari bambu runcing yang berdarah,
dari doa ibu-ibu di surau senyap,
dari peluh petani yang menanam padi
di tanah yang belum sempat disebut merdeka.
Namun kini—
setelah hampir satu abad matahari berkibar di tiang bendera,
kita masih merasa terjajah juga,
oleh wajah-wajah yang seharusnya memimpin,
namun lebih suka dilayani,
oleh orang-orang hidup yang mirip mayat,
yang minta dihidupi oleh negara
seperti jenazah minta napas dari tanah.

II
Wahai kursi empuk di gedung megah,
kau bukan takhta abadi,
kau hanyalah kayu dan busa
yang disulap menjadi singgasana oleh suara rakyat.
Namun, siapa yang duduk di atasmu
cepat lupa dari mana ia datang,
cepat lupa bahwa ia hanyalah penyambung lidah,
bukan penguasa atas lidah rakyat.
Mereka duduk di punggung kita,
menyebut kita tolol, bodoh, rendah,
padahal tanpa kita
kursi itu hanya debu,
dan gedung parlemen hanya rumah kosong
yang dipenuhi gema kebohongan.

III
Rakyat berteriak: “Bubarkan DPR!”
Itu bukan kebodohan,
itu adalah alarm—
lonceng yang dibunyikan ketika kapal hampir karam,
teriakan dari lambung negeri yang ditinggal nakhoda mabuk.
Namun betapa cepat mereka menutup telinga,
betapa mudah mereka menertawakan tangis rakyat
sambil menari di ruang sidang,
bersorak gembira mendengar gaji naik,
sementara di luar gedung
harga beras terbang seperti layang-layang tanpa tali,
dan anak-anak kurus mengeja lapar di warung-warung.

IV
Wahai wakil rakyat,
kau seharusnya mendengar jerit kami,
namun yang kau dengar hanyalah musik partai,
yang kau ikuti hanyalah palu recall ketua umum.
Kau lebih takut kehilangan kursi
daripada kehilangan rakyat.
Maka kau menjadi wakil partai,
bukan wakil kami.
Kau hanya juru bicara kepentingan,
bukan juru selamat penderitaan.

V
Orang dungu juga tahu:
“Legitimasi bukan milik jabatan,
bukan milik lembaga,
tapi hanya sah sejauh ia berakar pada rakyat.”
Namun siapa yang membaca bisikan itu?
Tidak ada—
mereka sibuk menuliskan pasal baru
untuk memperpanjang nafas sendiri,
sibuk merangkai janji
seperti benang kusut yang tak pernah menjahit luka rakyat.

VI
Lihatlah paradoks negeri ini:
ketika rakyat lapar, pemimpin berpesta;
ketika rakyat protes, pemimpin mencaci;
ketika rakyat menyerahkan mandat,
pemimpin mengubahnya menjadi mahkota
dan berkata:
“Ini milikku!”
Padahal mandat hanyalah titipan,
dan titipan bisa diambil kembali.

VII
Sejarah sudah berkali-kali bersuara:
Reformasi 1998,
people power di negeri-negeri jauh,
angin bisa menjelma badai,
api kecil bisa melalap istana.
Rakyat adalah air,
ia bisa mengalir tenang,
tapi bila bendungan kebohongan pecah,
air akan menghempas,
menghanyutkan kursi-kursi empuk
dan menenggelamkan siapa pun
yang lupa pada asal kekuasaan.

VIII
Maka jangan remehkan kami,
suara kami mungkin parau,
kata-kata kami mungkin kasar,
namun itu bukan tanda bodoh.
Itu tanda cinta yang kecewa,
itu tanda hati yang letih,
itu tanda rakyat masih peduli
bahwa negeri ini seharusnya taman, bukan kuburan.

IX
Ah, negeri yang kaya raya—
lautmu biru, gunungmu hijau,
perutmu penuh emas,
tanganmu penuh rempah.
Namun mengapa kau tetap miskin?
Karena kau salah urus.
Karena yang duduk di kursi
hanyalah orang-orang yang mati rasa,
yang hidup hanya untuk dirinya,
yang menjadikan rakyat
sekadar batu pijakan.

X
Wahai pemimpin,
ingatlah selalu:
rakyatlah pemilik tunggal republik ini.
Demokrasi bukan milikmu,
bukan milik partai,
bukan milik istana.
Demokrasi adalah suara kami,
napas kami,
darah kami.
Dan bila kau masih mengolok-olok kami,
maka ingatlah—
rakyatlah yang kelak akan membalikkan meja,
meruntuhkan singgasana,
dan menguburmu dengan kesombonganmu sendiri.

XI
Karena yang sejatinya tolol,
bukanlah rakyat yang bersuara,
tetapi pemimpin yang lupa
siapa pemilik sejati negeri ini.

Sumatera Barat, Indonesia, 2025.