SIMPOSIUM PARA KELEDAI
Cerpen: Rizal Tanjung
–
Di sebuah alam yang entah nyata entah fiksi, para filsuf terbesar dunia dikumpulkan oleh takdir ke sebuah forum abadi. Plato menamainya Simposium Para Keledai — tempat di mana perdebatan bukan lagi soal mencari kebenaran, tetapi tentang siapa yang paling keras memekikkan kekosongannya.
Pagi itu, Socrates duduk bersila di tengah forum, mengenakan jubah sederhana. Di sekelilingnya, para filsuf lain berdiri berkelompok: Nietzsche dengan sorot mata membara, Kierkegaard dengan tatapan cemas, Al-Ghazali dengan tangan terlipat, Thomas Aquinas yang sibuk mengoreksi catatannya sendiri, bahkan Buddha tampak duduk damai di sudut, seolah bosan dengan semuanya.
Seorang pria baru — wajahnya kasar, suaranya keras — naik ke podium kayu. Ia menunjuk Socrates dengan jari gemetar.
“Kau!” teriaknya. “Kau hanyalah orang tua bodoh yang menghindar dari kebenaran! Semua pertanyaanmu itu omong kosong belaka!”
Socrates hanya tersenyum tipis, bahkan tidak menoleh.
Nietzsche menyeringai dan membisik kepada Kierkegaard, “Lihatlah, bahkan di dunia pasca-kematian, kehendak untuk berkuasa masih menggelikan.”
Kierkegaard mendesah berat, “Atau mungkin kita semua hanyalah badut dalam sirkus ilahi.”
Pria itu — yang ternyata adalah seorang filsuf amatiran dari zaman baru, bernama Egomanias — melangkah maju, menuntut jawaban.
“Jawab aku, Socrates! Atau akui bahwa kau pengecut!”
Al-Ghazali membisik ke Aquinas, “Beginikah bentuk argumentasi modern? Tidak ada logika, hanya teriakan?”
Aquinas mengangguk pelan, “Seperti mencoba membuktikan keberadaan Tuhan dengan memukul-mukul meja.”
Tiba-tiba, Egomanias menghentak podium, membuat suara keras menggema. Ia mendekat ke Socrates, hampir menantangnya bertarung.
Socrates perlahan bangkit. Semua terdiam.
Dengan suara selembut air mengalir, ia berkata:
“Jika seekor keledai menendang saya, haruskah saya menyeretnya ke pengadilan?”
Hening. Sesaat.
Kemudian Nietzsche meledak tertawa.
“Brilian!” katanya sambil bertepuk tangan. “Seorang manusia yang benar-benar tahu nilai harga dirinya!”
Buddha tersenyum samar, “Sungguh, dia telah melampaui dualitas menang dan kalah.”
Egomanias, merah padam mukanya, hendak membalas, tapi Augustine dari Hippo maju, tangannya terangkat:
“Teman, tidak setiap suara keras adalah suara kebenaran. Bahkan badai hanya menggoyahkan daun-daun, bukan akar pohon.”
Egomanias berteriak, “Tapi aku BENAR! Aku harus MENANG!”
Aristoteles, yang selama ini mengamati diam-diam, akhirnya angkat bicara.
“Seorang pencari kebenaran tidak bertanya: ‘Bagaimana aku bisa menang?’ tetapi: ‘Bagaimana aku bisa memahami?'”
Di sudut forum, Karl Marx menggelengkan kepala sambil menulis sesuatu di catatannya:
“Ego adalah alat penindasan baru.”
Socrates menghela nafas panjang. Ia menatap para filsuf yang mulai berbisik-bisik.
“Kalian tahu,” katanya pelan, “menjadi elegan bukan tentang gaun atau kata-kata berbunga. Elegansi sejati adalah mengetahui kapan harus berbicara, dan kapan harus diam lalu pergi dengan anggun.”
Egomanias akhirnya meledak marah, menendang bangku dan pergi, mengumpat tak tentu arah.
Setelah ia pergi, Plato berdiri dan mengumumkan:
“Dan itulah, rekan-rekan, mengapa kita menamai tempat ini Simposium Para Keledai. Bukan karena keledai bersalah, melainkan karena mereka yang memilih menjadi keledai dalam pikirannya.”
Tawa rendah bergema di seluruh forum.
Beberapa jam kemudian, ketika senja abadi mulai merayap di langit forum, Socrates duduk lagi, dikelilingi murid-murid yang datang dari berbagai zaman: Ibn Sina, Descartes, bahkan Sartre. Seorang murid muda bertanya:
“Guru, apakah artinya menjadi bijak adalah tidak pernah marah?”
Socrates tersenyum lembut.
“Tidak,” jawabnya, “artinya adalah memilih medan pertempuranmu. Tidak semua ring layak kau injak. Tidak semua hinaan layak dijawab. Tidak semua suara keras harus didengar.”
Dan di kejauhan, suara keledai meringkik.
Para filsuf tertawa lagi — bukan karena ejekan, tapi karena memahami:
bahwa dalam dunia penuh ego dan keributan,
diam sering kali adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi.
Bagian 2:
Perang Lidah di Balairung Akal
Malam itu, forum semakin ramai.
Dari celah awan, datanglah tokoh-tokoh baru: Machiavelli dengan senyum licik, Rumi dengan langkah menari, Confucius yang berjalan tenang, dan Heidegger yang menatap ke tanah seakan berbicara dengan bebatuan.
Machiavelli yang pertama membuka suara, suaranya licin seperti minyak:
“Saudara-saudara,” katanya sambil menyeringai, “mengapa kita repot-repot mempertahankan kebenaran? Bukankah yang terpenting hanyalah kemenangan? Seperti dalam politik — bukan kebenaran yang membentuk kerajaan, melainkan kekuasaan.”
Nietzsche mendekat, matanya menyipit.
“Kemenangan tanpa kebenaran hanyalah ilusi bocah,” geramnya. “Yang sejati adalah kehendak untuk mencipta nilai baru, bukan sekadar memenangi adu mulut.”
Machiavelli terkekeh pelan.
“Nilai baru? Ah, Nietzsche, bahkan nilaimu pun harus lewat pintu kekuasaan untuk lahir. Dunia ini bukanlah taman kanak-kanak kebenaran — ini adalah gelanggang pertarungan.”
Dari pojok ruangan, Jalaluddin Rumi menari perlahan, kainnya berputar seperti pusaran angin. Ia berkata dengan nada tenang:
“Siapa yang mencari kemenangan, kehilangan diri. Siapa yang mencari diri, menemukan seluruh dunia.”
Confucius mengangguk setuju, berkata dengan suara bijak:
“Jika lidah digunakan hanya untuk memenangkan debat, bukan untuk membangun harmoni, maka ia lebih rendah dari cangkul yang membajak tanah.”
Sartre — yang sejak tadi hanya menghisap pipa dan memandang kosong — akhirnya ikut berbicara:
“Kebenaran? Harmoni? Kekuasaan? Semua itu omong kosong jika tak ada makna. Dunia ini absurd. Kita sendiri yang harus menciptakan maknanya.”
Buddha hanya tersenyum samar.
“Atau,” katanya pelan, “kita melepaskan makna dan absurditas bersama-sama, menemukan sunyata.”
Heidegger menoleh, suaranya berat seperti batu gunung:
“Manusia adalah makhluk yang dilempar ke dunia, terlempar dalam ketidakpastian. Tidak heran mereka berteriak. Mereka takut.”
Semua terdiam sejenak.
Tiba-tiba dari pintu gerbang, masuk seorang tokoh aneh: seorang “influencer filsuf” zaman modern, lengkap dengan jas mahal, mikrofon kecil, dan kamera mengikuti di belakangnya.
Ia langsung berteriak:
“Selamat datang di channel saya! Hari ini kita akan BONGKAR semua teori busuk ini! Socrates itu kuno! Nietzsche? Emangnya siapa dia? Ayo klik like dan subscribe untuk kebenaran!”
Seluruh forum memandangnya dengan tatapan heran, seolah melihat makhluk asing.
Thomas Aquinas menoleh ke Al-Ghazali dan bergumam, “Apakah ini bentuk baru kekafiran?”
Al-Ghazali menghela nafas berat, “Atau ini manifestasi dari jiwa yang kosong, mengisi dirinya dengan suara agar tak mendengar kehampaan hatinya.”
Socrates, tanpa mengubah ekspresinya, berkata pelan:
“Berbicaralah lebih banyak, anak muda, agar kami bisa semakin mengerti kebodohanmu.”
Nietzsche tertawa keras. “Inilah Homo Clamor! Manusia teriak! Evolusi terakhir dari spesies yang sudah lupa berpikir!”
Rumi berputar, lalu berkata:
“Orang yang sibuk menyoroti dirinya sendiri tidak sempat menerangi dunia.”
Machiavelli mencibir, “Ah, tapi mereka berkuasa sekarang. Dunia menyukai topeng lebih dari wajah asli.”
Melihat itu, Buddha hanya menepuk pundak Socrates dan berbisik, “Biarkan mereka berlalu. Seperti badai pasir — bising, tapi berlalu tanpa membawa makna.”
Sementara itu, Plato — yang bertugas mencatat semuanya di gulungan besar bertuliskan “Rekaman Dunia Kedua” — menggeleng.
Ia menulis dengan pena emas:
> “Manusia hari ini tak lagi berdiskusi demi mencari kebenaran; mereka berdiskusi seperti ayam aduan, hanya untuk dipertontonkan, untuk memuaskan pemilik pasar.”
Lalu Plato menoleh ke Socrates dan berkata:
“Guru, apakah kita seharusnya tetap bertahan di forum ini, atau meninggalkannya?”
Socrates tersenyum samar.
“Kita bertahan,” katanya. “Karena dalam satu seribu, akan lahir jiwa yang mendengar — bukan suara kita, tapi gema keheningan kita.”
Malam itu, saat para filsuf lain masih berdebat apakah realitas itu ide atau materi, Socrates berdiri, berjalan ke luar forum, ditemani senyap bintang-bintang.
Di belakangnya, hanya keledai tua yang setia mengikuti, mengeluarkan suara lembut seolah ikut merenung.
Dan mungkin, hanya mungkin, keledai itu lebih bijak daripada semua yang tinggal di forum itu.
Bagian 3:
Ketika Dunia Membunuh Logika
Beberapa abad waktu abadi berlalu dalam forum itu.
Angin berbisik aneh. Udara terasa berat, seperti dunia sedang berubah — atau lebih tepatnya: membusuk.
Di luar forum, sebuah kota baru bermunculan: Kota Opinia — negeri megah, dibangun bukan atas kebenaran atau keadilan, tapi atas opini, popularitas, dan perasaan sesaat.
Semboyan kota itu: “Perasaanku adalah Fakta.”
Kota itu penuh dengan spanduk bergambar wajah-wajah penuh keyakinan, dengan kata-kata kosong seperti “Saya Merasa, Maka Saya Benar.”
Di tengah kota berdiri patung besar berbentuk mulut terbuka lebar, bertuliskan: “Volume Lebih Penting Dari Isi.”
Plato memandang ngeri dari kejauhan.
“Ini… ini lebih buruk daripada dunia gua yang pernah aku bayangkan,” katanya dengan wajah pucat.
Nietzsche menggertakkan gigi. “Ini adalah kehancuran semua nilai! Ini nihilisme dalam bentuk festival!”
Rumi berdiri di antara mereka, berputar perlahan dan berkata:
“Ketika manusia tak lagi menari dengan kebenaran, mereka menari dalam bayangan diri mereka sendiri.”
Malam itu, mereka mengadakan sidang darurat di Balairung Akal.
Hadir: Socrates, Plato, Nietzsche, Kierkegaard, Rumi, Confucius, Al-Ghazali, Aquinas, Sartre, Buddha, dan Heidegger.
Serta tamu undangan khusus: Voltaire — membawa segelas anggur dan senyum sinis.
Voltaire langsung membuka sidang:
“Saudara-saudaraku yang mulia dan naif, izinkan aku bertanya: mengapa kita harus menyelamatkan dunia yang memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri?”
Aquinas membalas dingin:
“Karena kebenaran bukan milik mayoritas. Ia tetap ada, bahkan ketika tak seorang pun membelanya.”
Nietzsche mengetuk meja.
“Atau,” katanya tajam, “karena kita belum selesai menciptakan manusia yang baru!”
Sartre hanya mendengus.
“Atau mungkin,” katanya dengan getir, “karena kita tak tahan melihat dunia ini absurd tanpa kita di dalamnya.”
Al-Ghazali menunduk.
“Jika kita diam, kejahilan akan menyebar seperti wabah. Tapi jika kita bicara, siapkah kita untuk dibakar oleh kebodohan massa?”
Heidegger menggumam pelan:
“Apakah manusia memang pantas diselamatkan, ataukah mereka hanya serigala dalam kulit domba, haus akan kehancuran yang mereka ciptakan sendiri?”
Di tengah perdebatan itu, seorang utusan dari Kota Opinia tiba.
Ia berbaju gemerlap, penuh logo, membawa mikrofon emas.
“Atas nama Dewan Perasaaan Global,” katanya dengan suara mendayu-dayu, “kami mengundang kalian semua untuk mendaftar ke Festival Kebebasan Ekspresi. Di sana, semua orang berhak berbicara apapun — tanpa logika, tanpa konsistensi! Yang penting feel!”
Socrates menatapnya tajam.
“Apa gunanya berbicara tanpa logika, jika makna itu sendiri tercerai-berai?”
Utusan itu tersenyum sombong.
“Makna? Itu kuno. Di dunia baru kami, emosi adalah satu-satunya kredibilitas.”
Plato berbisik ke Kierkegaard:
“Ini lebih buruk dari kematian ide. Ini kematian struktur berpikir itu sendiri.”
Kierkegaard hanya menghela napas panjang, “Ketika rasa takut menjadi agama, kebodohan menjadi liturginya.”
Rumi berjalan ke arah utusan itu, memandangnya dengan mata yang dalam.
“Apa gunanya bebas berbicara,” kata Rumi pelan, “jika semua suara hanya menjadi gema kesombonganmu sendiri?”
Utusan itu mengangkat bahu.
“Karena itulah dunia mau menonton kami. Penonton tidak suka berpikir. Mereka suka merasa menang, merasa benar, merasa penting.”
Nietzsche berdiri, mendekat, menatap tajam ke wajah sang utusan.
“Pergilah,” katanya dingin, “kau bukan utusan perasaan. Kau adalah nabi kehampaan.”
Utusan itu tertawa keras, lalu meninggalkan forum, berjalan kembali ke Kota Opinia, diiringi dentuman musik dangdut-filsafat.
Malam itu, Socrates berkata kepada rekan-rekannya:
“Kita memiliki dua pilihan.”
Semua diam, mendengarkan.
Socrates melanjutkan:
“Pertama: Kita ikut bermain dalam festival itu. Menyesuaikan diri. Mengalah pada kegilaan, berharap menyisipkan kebenaran di antara teriakan.”
“Atau kedua,” kata Plato, meneruskan, “kita membangun benteng. Sebuah tempat suci di mana logika, kebenaran, dan jiwa manusia masih dihormati.”
Confucius mengangguk.
“Tidak semua tanah layak ditanami. Tapi kita tetap menanam, karena kelak akan ada benih yang tumbuh.”
Rumi menari pelan, suaranya bergema:
“Jadilah taman rahasia di tengah padang pasir kebisingan.”
Dan malam itu, mereka sepakat.
Mereka tidak akan ikut berteriak.
Mereka tidak akan menjadi bagian dari pasar omong kosong.
Mereka akan membangun Akademia Baru,
sebuah tempat tersembunyi,
di mana satu manusia sungguh-sungguh mencari,
lebih berarti daripada seribu manusia berteriak.
Dan ketika bulan pucat bersinar di atas forum kosong,
Socrates menulis di dinding gerbang Akademia Baru:
> “Tidak semua suara pantas didengar. Tidak semua perasaan pantas diikuti. Tidak semua pertanyaan perlu dijawab. Tetapi semua kebenaran, sekecil apapun, pantas diperjuangkan — bahkan hingga sunyi.”
Bagian 4:
Perang Akhir – Ketika Keledai Menyerbu Surga
Akademia Baru berdiri megah dalam sunyi.
Socrates, Plato, Nietzsche, Rumi, Buddha, Kierkegaard, Al-Ghazali, Thomas Aquinas, Confucius, Sartre, Heidegger, dan Voltaire — mereka semua membangun tempat itu bukan dengan batu, tapi dengan gagasan, dengan kata-kata, dan dengan kesunyian.
Mereka melatih murid-murid yang datang — jarang, sedikit, bahkan kadang hanya satu dalam seabad.
Tetapi satu jiwa sejati, kata Socrates, lebih berharga daripada seluruh pasar Opinia.
Namun dunia di luar berubah semakin ganas.
Opinia semakin membesar:
Festival teriak-teriakan diadakan setiap malam, penghinaan menjadi mata uang baru, dan influencer diangkat menjadi nabi.
Suatu hari, langit Akademia menggelap.
Dari kejauhan, ribuan “pasukan influencer” menyerbu, menunggangi keledai-keledai gemuk, memakai armor dari komentar-komentar kosong dan membawa bendera bertuliskan:
“Perasaanku Adalah Senjataku.”
Di antara mereka ada para “motivator filsafat”, “coach spiritual instan”, “pemimpin cult digital”, dan “pengusaha kebodohan.”
Mereka berteriak:
“Kami datang untuk membebaskan dunia dari logika! Turunkan Akademia! Bakar semua pertanyaan! Gantikan dengan FEEL GOOD!”
Plato menghela napas berat.
“Ini… klimaks tragedi manusia,” katanya getir.
Nietzsche mencabut pedang gagasan dari sarungnya. “Kalau begitu,” katanya, “kita sambut kehancuran ini dengan tawa.”
Buddha duduk tenang di gerbang.
“Biarkan mereka datang,” katanya pelan. “Angin tak bisa menghancurkan gunung.”
Rumi berputar perlahan di tengah halaman, berbisik:
“Jika mereka membakar rumah kita, kita menari dalam api. Jika mereka menghancurkan kata-kata kita, kita mengukir makna di bintang-bintang.”
Dan peperangan absurd pun dimulai.
Pasukan influencer menyerbu, berteriak kata-kata kosong:
> “Saya merasa… jadi saya BENAR!”
> “Saya marah… berarti Anda SALAH!”
> “Saya tersinggung… artinya Anda KEJAM!”
Para filsuf membalas bukan dengan teriakan,
tetapi dengan keheningan, dengan argumen, dengan pertanyaan.
Socrates melangkah maju, bertanya kepada seorang influencer:
> “Mengapa perasaanmu lebih valid daripada kenyataan?”
Influencer itu gagap, lalu berteriak, “Saya merasa terintimidasi! Saya merasa diserang! Ini pelecehan intelektual!”
Di satu sudut, Thomas Aquinas mengangkat perisai logika.
> “Premis tanpa bukti adalah jeritan kosong. Argumen tanpa akal adalah nyanyian burung mabuk!”
Sartre berdiri di atas meja, meneriakkan keputusasaan:
> “Jika dunia ini absurd, mari kita tegaskan absurditas kita dengan sadar, bukan dengan menjadi boneka emosi!”
Tapi jumlah pasukan terlalu banyak.
Mereka bukan mencari kebenaran, mereka mencari sensasi.
Bagi mereka, kekalahan dalam berpikir tidak berarti — asal bisa membuat video viral.
Saat malam jatuh, Akademia mulai runtuh.
Satu per satu pilar-pilar pertanyaan dihancurkan.
Plato merobek buku Republik-nya, melemparkannya ke udara.
Nietzsche tertawa keras di tengah kobaran api.
“Ini dia! Ini dia kematian Tuhan yang kubicarakan!”
Al-Ghazali bersujud, berdoa dalam keheningan.
Buddha hanya tersenyum, melihat semuanya berlalu seperti awan musim panas.
Di saat terakhir, Socrates berdiri di tengah api.
Murid-muridnya — yang masih sedikit, namun ada — berkumpul di sekelilingnya.
Socrates berkata:
> “Ingatlah, anak-anakku. Dunia ini bisa membakar rumahmu. Bisa menginjak semua bukumu. Bisa membunuhmu dengan ejekan. Tapi satu hal yang tidak pernah bisa mereka rebut… adalah caramu memilih berpikir.”
Ia mengangkat matanya ke langit yang merah membara.
> “Diamlah dalam badai. Bertanyalah dalam kegelapan. Tetaplah mencari bahkan ketika dunia memilih buta.”
Dan dengan itu, Akademia tenggelam dalam kobaran api.
Bertahun-tahun kemudian, di reruntuhan Akademia, seorang anak kecil menemukan sebuah batu yang hangus.
Di atasnya tertulis kata-kata sederhana:
> “Tidak semua suara pantas didengar. Tidak semua perasaan pantas diikuti. Tetapi kebenaran, sekecil apapun, pantas diperjuangkan — bahkan hingga sunyi.”
Anak itu mengambil batu itu, menyelipkannya ke dalam saku,
dan berjalan ke dunia yang bising,
dengan sepotong kecil cahaya yang masih hidup.
Sumatera Barat, 2025.