“SUARA DUNIA MENOLAK INVASI”: Antologi Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia)
/Prolog/
Napas Kami dan Napas Bumi
Oleh: Leni Marlina
Di ujung senja, bumi berbisik— dalam getar akar,
dalam bisu batu.
Sungai menulis puisi di lipatan tanah purba.
Di sana, manusia dan alam bersatu: menolak diam meski langit digempur asap mesiu,
menolak lupa meski pohon tumbang, akar tercabut, dan ombak memukul kapal-kapal tirani.
Puisi ini bukan sekadar kata; ia adalah denyut bumi yang hidup di dada manusia,
kilat yang membelah langit gelap,
burung yang tetap bernyanyi meski malam menelan cahaya dan api.
Baitnya adalah gerakan: gerakan mempertahankan kehidupan, menyalakan bara kebenaran, menegakkan perdamaian yang lahir dari tanah, air, api, angin, dan cahaya bintang.
Selamat datang, wahai pembaca— di tempat bumi berbicara dengan gunung dan sungai,
di mana kumpulan jiwa bangsa kecil memiliki kekuatan untuk mengguncang langit, mengalir bersama hujan,
menyala bersama matahari, dan bergetar seperti bumi yang
menolak dijajah.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 1/
JIWA YANG TAK BISA KAU TUNDUKKAN
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Wahai penguasa baja,
kau datang dengan wajah berlapis besi,
namun di balik topeng itu hanya ketakutan yang berkarat dalam bayangmu sendiri.
Tanah yang kau injak bukan tanah mati.
Ia bernapas,
ia berdarah,
menyimpan sejarah ribuan tahun,
seperti hutan purba yang menolak digunduli dan sungai yang tetap mengalir meski bendungan dipaksakan.
Kekuasaanmu hanyalah bayangan di dinding gua:
rapuh, semu,
hilang bersama redup api.
Engkau menamai dirimu adidaya,
padahal engkau hanya bayang tersesat,
mengira dunia papan catur dan bangsa kecil sekadar pion.
Ketahuilah: pion yang kau injak dapat menjelma bara,
dan bara kecil mampu membakar singgasana,
seperti percikan api yang menyalakan hutan yang mati.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 2/
SUARA DUNIA MENOLAK INVASI
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah denyut bumi
yang bergetar di bawah tapak besi,
namun tak pernah menyerah pada kebisuan.
Kami adalah napas langit
yang dikepung misil,
namun tetap berhembus,
menggoyang tirai malam dengan doa.
Kami adalah suara laut,
tak mengenal bendera,
tak tunduk pada peta,
sebab gelombang tak bisa dikurung
oleh kawat berduri.
Engkau jatuhkan bom di tubuh kami,
namun suara kami menjelma akar
yang membelah batu mencari cahaya.
Engkau bakar hutan kami,
namun doa kami menjelma hujan,
turun dari rahmat langit,
memadamkan api keserakahanmu.
Rumah yang kau runtuhkan
menjadi menara ingatan.
Anak dan orangtua yang gugur
menjelma matahari kecil
di buku harian bangsa-bangsa tertindas.
Darah mereka mengalir
menjadi bendera misteri
yang tak pernah kau rebut.
Jangan kira kami angka mudah dihapus.
Kami adalah wajah sejarah
yang menolak tunduk,
kami adalah hati yang menolak
ditaklukkan.
Ketahuilah:
imperiummu hanyalah bayangan senja
yang larut dalam malam.
Pasukanmu hanyalah debu
yang menunggu tiupan angin.
Namun martabat manusia—
itulah api yang tak padam,
cahaya yang tak pernah bisa kau kubur.
Dengarlah, wahai bangsa yang merasa adidaya:
dari reruntuhan lahir keberanian,
dari luka lahir perlawanan,
dari air mata lahir samudra kemanusiaan.
Dan samudra itu kini bersuara:
Hentikan invasi!
Hentikan perbudakan!
Hentikan kekerasan atas nama kuasa!
Hentikan segala rupa penjajahan!
Kami ada di air mata
yang jatuh tanpa suara,
namun menjelma sungai besar
menuju samudra keadilan.
Kami ada di bunga kecil
yang mekar di tanah abu,
di bayi
yang lahir meski dunia penuh perang.
Sebab bumi bukan warisan segelintir,
langit bukan panji satu bangsa,
udara bukan harta siapa pun,
laut tak pernah mengenal penjajah.
Kami—suara dunia—
adalah doa yang bangkit dari reruntuhan,
bunga liar yang tumbuh dari abu,
nyala yang menjelma pelita
di jalan gelap kemanusiaan.
Dan kelak, ketika sejarah menoleh,
yang dikenang bukanlah berapa luas tanah jajahan,
melainkan air mata yang menjelma sungai,
darah yang menjelma bendera,
dan suara kemanusiaan
yang mengguncang segala tirani.
Sebab dari segala yang fana,
hanya satu yang tak tergantikan:
Kemanusiaan.
Kemanusiaan yang melahirkan perdamaian,
menebar kebaikan,
meruntuhkan keserakahan,
dan menjadi jembatan persaudaraan dunia.
Dan pada akhirnya,
ketika senjata membisu,
ketika api perang padam,
seluruh bangsa akan tahu:
kita dicipta untuk hidup bersama,
hidup setara,
di bumi yang sama,
dengan langit yang sama,
dalam sejarah yang ingin kita abadikan—
sebagai sejarah kemanusiaan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 3/
DOA UNTUK BUMI YANG TERCABIK
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Wahai Tuhan Maha Mendengar, Pemilik Segala Napas,
Engkau mendengar bumi yang digergaji mesin perang,
anak-anak yang menangis histeris kelaparan,
ibu-ibu yang terisak menimang bayangan karena tubuh anaknya tertelan mortir.
Kami tahu,
Engkau tak menciptakan bumi untuk dipersembahkan kepada satu tangan yang rakus, melainkan untuk dijaga bersama— seperti taman yang hanya mekar jika akar saling berbagi air,
seperti sungai yang hanya jernih jika gunung menahan hujan di perutnya.
Wahai Tuhan Maha Pencipta, Pemilik Segala Cahaya,
jadikanlah doa lirih kami dentum yang meluluhkan panser.
Jadikanlah air mata satu anak banjir yang merobohkan menara angkuh mereka,
seperti hujan yang memecah padang gersang dan menumbuhkan benih-benih kehidupan.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 4/
BANGSA-BANGSA KECIL YANG PUNYA KEKUATAN BESAR
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Wahai Tuhan yang menakar daun jatuh di hutan,
bukankah Engkau juga menakar luka bangsa-bangsa kecil yang diinjak bagai semut?
Kami tak punya kapal induk,
tak punya bom penggetar langit,
tapi kami punya dada yang menyimpan bara kebenaran,
seperti gunung berapi yang tenang namun siap meletus.
Peluru yang menembus tubuh bangsa kami adalah ayat yang menegaskan:
jiwa tak bisa dihancurkan, seperti batu sungai yang terus mengubah arus,
dan akar pohon yang memegang bumi meski badai menghantam.
Bangsa kecil adalah batu kecil di sungai deras,
namun batu itu mengubah arus.
Bangsa kecil adalah akar tersembunyi,
tanpa akar,
pohon besar akan roboh dihantam angin pertama.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 5/
KAMI TIDAK AKAN DIAM
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah sungai yang tak pernah berhenti,
air kami mengalir meski batu menghadang.
Tetesannya adalah doa,
Arusnya adalah perlawanan.
Dari lereng gunung hingga samudera,
kami membawa suara ibu yang diculik dari tanahnya,
kami membawa tangis anak yang direnggut dari tidurnya.
Lihatlah angin—ia tak bisa kau kurung dalam jeruji.
Lihatlah api—ia menyala meski kau hujani darah.
Kami tidak akan diam,
sebab diam adalah kubur massal yang ingin kau gali.
Kami memilih menjadi badai yang tak bisa kau redam,
hingga dunia mengingat: kami ada,
kami melawan,
kami manusia.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 6/
INVASI BUKAN TAKDIR
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Takdir adalah bunga yang tumbuh dari tanah basah,
bukan bayonet yang menusuk dada bayi.
Takdir adalah hujan yang menyuburkan sawah, kebun dan ladang,
bukan bom yang merobek ladang gandum.
Kami tahu: langit selalu menyimpan cahaya,
meski awan hitam menggantung tanpa jeda.
Invasi bukanlah takdir,
ia hanya nafsu yang menyamar sebagai sejarah.
Maka kami menulis takdir kami sendiri di buku bumi yang luas ini:
tentang sungai yang jernih kembali,
tentang laut yang tenang, tentang anak-anak yang menari di halaman rumah tanpa takut sirene perang.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 7/
SUMPAH YANG TIDAK BISA DIMUSNAHKAN
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami bersumpah,
seperti gunung yang diam tapi menyimpan api di perutnya. Kami bersumpah,
seperti laut yang tenang tapi bisa menggulung kapal-kapal perangmu.
Kami bersumpah,
seperti tanah yang menumbuhkan benih sekaligus menelan tirani.
Engkau bisa merampas tubuh kami,
tapi tidak akar yang berpegang pada bumi.
Engkau bisa membakar rumah kami,
tapi tidak suara burung yang kembali setiap fajar untuk bernyanyi.
Sumpah ini ditulis dalam bahasa angin,
dicap dengan darah,
dijaga oleh bulan dan matahari.
Tak satu pun imperium bisa memusnahkannya.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 8/
LUKA NGERI KOLONIALISME
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kolonialisme adalah parut di wajah bumi,
bekas luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia menyalin dirinya di pasir pantai,
di hutan yang digunduli,
di sungai yang berubah menjadi lumpur beracun.
Namun bumi selalu punya ingatan.
Akar-akar pohon menulis di tanah tentang bagaimana engkau menjarahnya.
Batu-batu karang mencatat tentang kapal perangmu yang pernah berlabuh.
Kolonialisme adalah luka ngeri, tetapi luka bukan hanya penderitaan.
Luka juga adalah mata air tempat lahirnya kekuatan.
Dari luka inilah kami menegakkan wajah, dari luka inilah kami bersuara: cukup!
Dunia bukan milik segelintir yang merasa berhak menjadi Tuhan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 9/
SATU SUARA
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah malam yang enggan tunduk pada tirani gelap.
Kami adalah fajar yang selalu datang meski kau tangkap mentari.
Kami adalah hutan yang menumbuhkan ranting baru meski ditebangi.
Perlawanan adalah nama tengah kami,
dari Andes ke Sahara,
dari Gaza ke Papua,
dari hutan Amazon ke padang tundra Siberia.
Kami adalah satu: suara bumi yang dihinakan.
Jangan kira kami hanya rakyat kecil dengan tangan kosong.
Kami adalah samudera— sekali bangkit,
kapal besi pun karam.
Kami adalah badai— sekali menggulung, tiang tirani pun musnah.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Puisi No. 10/
SUARA KEMANUSIAAN DAN PERDAMAIAN
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pada akhirnya,
kami tidak mencari perang.
Kami mencari rumah di bumi di mana semua anak bisa tertawa, para ibu bisa memasak tanpa mendengar deru jet tempur.
Suara kami bukan sekadar teriakan,
ia adalah doa yang menembus kabut mesiu,
cahaya yang menembus awan hitam, getar pohon zaitun yang tetap berbuah meski batangnya dilukai.
Kami adalah padang rumput yang kembali hijau setelah terbakar.
Kami adalah burung migran yang terbang melintasi benua,
menyanyikan lagu yang sama:
damai, damai, damai.
Ketahuilah, wahai bangsa baja: besi akan berkarat,
bendera akan lusuh,
imperium akan runtuh.
Namun suara ini— suara kemanusiaan dan perdamaian— akan tetap berjalan,
mengikuti arus sungai,
menaiki punggung ombak, menyelinap di balik angin,
hingga menjadi gema satu kata yang tak bisa kau padamkan:
Merdeka. Damai. Seperti bumi yang bebas.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/Epilog/
GEMURUH YANG TAK BISA DIBUNGKAM
Oleh: Leni Marlina
Kini gema terakhir puisi telah mereda,
namun bumi tetap bergetar,
dan angin membawa pesan dari akar hingga puncak gunung.
Perlawanan bukan hanya pedang, peluru, atau kapal induk;
perlawanan adalah sungai yang tidak berhenti,
hutan yang tetap menumbuhkan daun baru, badai yang tetap menumpahkan hujan.
Bahkan luka terbesar pun bisa menjadi peta,
parut terdalam menjadi akar kekuatan.
Merdeka bukan kata di langit;
damai bukan hadiah dari awan.
Mereka adalah hak semesta— tertulis di hujan yang membasahi bumi,
di gelombang yang memeluk pantai,
di napas bumi yang menolak dijajah.
Biarkan puisi-puisi ini menjadi pelita,
menembus kabut perang,
mengalir bersama sungai,
terbang bersama burung migran,
hingga dunia mendengar satu kata yang tak bisa dipadamkan:
Merdeka.
Damai.
Selamanya.
Padang, Provinsi Sumatera Barat, NKRI, 2025
————————————–
Tentang Penyair: Leni Marlina


Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi kelahiran Baso, Agam, Sumatera Barat, yang kini menetap di Padang, Indonesia. Ia aktif sebagai anggota SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat sejak 2022. Selain itu, ia juga tercatat sebagai anggota World Poetry Movement (WPM-Indonesia). Kecintaannya pada dunia sastra membawanya menulis buku antologi puisi bilingual “The Beloved Teachers”, “L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity)”, serta 3 seri buku “English Stories for Literacy”. Atas kiprah literernya, ia dianugerahi penghargaan sebagai Penulis Terbaik Tahun 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat. Penghargaan tersebut diberikan dalam Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (IMLF-3).
Sejak tahun 2006, Leni mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Hampir dua dekade ia konsisten mendidik dan menginspirasi generasi muda melalui dunia akademik. Di luar kampus, Leni aktif menulis sebagai jurnalis lepas, editor, redaktur, dan kontributor di media lokal, nasional, maupun internasional. Beberapa puisinya juga dipublikasikan secara digital dan umumnya dapat diakses publik melalui laman https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa. Ia percaya bahwa menulis adalah medium untuk berbagi, menginspirasi, dan memperluas cakrawala kemanusiaan. Karena itu, ia mendirikan serta membina berbagai komunitas sosial, sastra dan literasi berbasis digital. Beberapa di antaranya adalah PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C). Melalui komunitas-komunitas tersebut, Leni berupaya menjembatani semangat sastra dan literasi lintas generasi.