SULTAN MACHMUD BADARUDDIN
Anto Narasoma
–
di atas kijing rumah limas, keris dihunus ke depan
belanda dan keparat yang menginjak-injak harga diri, menyusun strategi
dalam gemuruh ombak kali musi
gelegak dendam dan darah yang tercecer di kain songket pun
merebak ke ubun-ubun
hingga kebencian menjadi api
dalam perjalanan panjang ;
iring-iringan kapal belanda berlayar dari neraka
moncong meriam dan selongsong peluru pun
bertebaran ke kajang angkap
“najamudin, najamudin !
kau hianati kamar tidur, ruang kelahiran kita” lalu teriakan itu menusuk pilu
lalu, di atas perapian
Sultan Machmud Badaruddin
menitikkan kemarahan dalam cairan darah di jantungnya
pistol dan kelewang pun
kocar-kacir dalam kepungan yang lengkap
tak hanya darah
siasat kekejian pun mengalir di atas penghianatan
maka sejarah pun menghilang tanpa jejak
*Machmud Badaruddin!”
teriakan itu berlayar ke laut lepas
rantai panjang dan belenggu membelit di sekujur perlawanan yang lelah tanpa air mata
tak ada lagi garis komando
tak ada lagi pekik perlawanan
laut hanya lorong sepi
yang membawa kepedihan sepanjang sejarah gelap di ternate
Machmud Badaruddin
bawalah Plembang ke perlawanan yang jauh dan jauh
sebab, di ujung kemudi kapal, itulah apimu membara, meranggas dendam
Palembang
September 1985
————-
Anto Narasoma
SULTAN MACHMUD BADARUDDIN
en el techo de la casa
piramidal la daga seadelanta
holandes y hijo de puta
guien pisotea orgullo
elaborar estrategias
en el rugido delas olas del monzon
burnujeando con venganza y sangre
que estaba esparcido sabrela tela songket
extenderse hasta la corona
hasta que el odio se lan vierta
en un largo viaje
convoy de barcos holandes
navegando desde el infierno
y casquilos de bala tambien
esparcidos en el techo de la casa
“Najamudin, Najamudin,
tracionaste el dormitorio
nuestra sala de partos
entonces el grito fue”,
desgarra doromente triaste
entonces
enlima de la chimenea
sultan machmud badaruddin
derramar ira
en el luquido sanguineo del corazon
almas y kelewang tambien al reves completo asedio
no solo sangre
la traicion y la crueldad se suman a la tracion
entonces la historia desaparecio sen dejar rastro
“machmud badaruddin !”
el grito navego macia mar abierto
largas cardenas y grilettes enre dados
no mas linea demando
no hubo mas gritos de resistencia
el mar solo un corredor tranquilo
que trae dolor a lo largo de la. oscura historia de ternate
machmud badaruddin
l levar plembang a un partido lejano
porcue, al timon del barco, arde tu fuego, ardiendo de venganza