April 21, 2026

“Sungai yang Sedang Sekarat”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni sungai mengalir

Illustration for Water and a River on the Brink of Death": Selected Poems Collection (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, AI Era Creators, FSM, ACC SHILA). Source of Image: Rastono's Picture Collection (Assisted by AI)."

/1/

Sungai yang Sedang Sekarat

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku dulu adalah pengantar cerita,
membawa lagu dari pegunungan ke laut.
Di tubuhku, ikan-ikan menari,
dan perahu-perahu kecil melukis jejak tenang.

Kini, aku menjadi kelabu,
permukaanku ternoda oleh luka-luka kecil
yang perlahan menjadi dalam.
Aku menyimpan plastik,
logam, dan air mata alam
yang tak mampu lagi kujaga.

Aku mengalir dengan hati yang berat,
menemui laut yang kini tak lagi tersenyum.
Namun, dalam sunyiku,
aku masih berharap.
Semoga suatu hari,
aku kembali menjadi cermin langit
yang memantulkan keindahan dunia.

Jakarta, 2013

/2/

Air

Puisi Rastono Sumardi

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sulawesi Tengah, Kreator Era AI]

Aku adalah air,
cahaya yang mengalir dari tangan Sang Kekasih.
Aku turun dari langit dengan rindu,
mencari bumi untuk bercinta dalam rahmat-Nya.

Setetesku menumbuhkan seribu taman,
membasuh luka yang kau sendiri buat.
Aku hadir untuk hidup,
namun kau lempar racun ke dalam dadaku.

Wahai manusia,
aku tak butuh sembah, hanya kasih.
Aku berlari di sungai, menangis dalam hujan,
namun kau menebang pepohonan,
mengeringkan nafasku tanpa penyesalan.

Aku adalah rahasia yang kau abaikan,
tanpa aku, jiwamu akan mengerang dahaga.
Tanpa aku, bumi hanyalah batu yang membakar,
tanpa aku, bahkan doa tak bisa kau ucapkan.

Wahai manusia,
jangan kau bunuh sumber hidupmu sendiri!
Jangan kau anggap aku lemah,
karena ketika aku pergi,
kau akan menangis, namun tak ada yang mendengar.

Cintai aku seperti kau mencintai dirimu sendiri,
dan aku akan tetap mengalir dalam nadimu,
menjadi embun di jiwamu,
menjadi hujan yang membawa keberkahan.

Luwuk – Sulawesi Tengah, 2025
———————

Rastono Sumardi, Lahir di Banyumas, 10 Maret 1974, menetap di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Menempuh Pendidikan S1 Jurusan Matematika di Universitas Negeri Gorontalo dan S2 Ilmu Ekonomi Pembangunan di Universitas Sam Ratulangi Manado. Sehari-hari sebagai ASN pada Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai, aktif dalam kegiatan literasi seperti menulis artikel, cerpen dan puisi, selain itu juga aktif sebagai Kreator AI dan App Developer. Ia juga sebagai Koordinator Satupena Provinsi Sulawesi Tengah, Koordiantor Kreator Era AI Provinsi Sulawesi Tengah, Ketua KIM Bonua Sastra Kabupaten Banggai.

/3/

Laut, Ruang yang Tak Pernah Tidur

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Dari kedalaman laut yang tiada batas,
ombak memahat pasir dengan rahasia purba.
Perahu-perahu kecil melintasi
gemuruh tanpa ujung,
membawa doa yang terjalin
dari benang-benang sunyi.
Langit bukan atap,
ia adalah mata abadi
yang mengawasi mimpi-mimpi
di atas permukaan.

Laut, ruang yang tak pernah tidur,
menyambut kapal-kapal raksasa
dan menghibur biduk kecil yang karam.
Ia adalah perawi cerita,
penyimpan gemuruh ribuan tahun,
dengan kisah yang tak pernah selesai.

Namun, manusia yang dulunya mendengar laut sebagai pantulan,
kini mencobanya sebagai mangsa.
Dasarnya diukur,
rahasianya direnggut.
Ia dipaksa terjaga,
oleh deru kapal,
oleh bor minyak yang menusuk tubuhnya.
Laut kini menampung lebih dari sungai,
ia menjadi saksi
bagi mata-mata yang lapar,
bagi keserakahan yang tak mengenal batas.

Warnambool, Australia, 2012

/4/

Pagar Keserakahan di Laut

Puisi Arsiya Oganara

[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia, Penulis Asal Lampung]

Pagar keserakahan di laut merayap,
Tiga puluh kilometer pantai terbentang,
Mengoyak nafas nelayan yang terkapar,
Sembilu mengiris, sembilan miliar terhempas bersama angin laut.

Ekosistem meraung,
Maritim Nusantara di ujung jurang,
Tanah menganga, laut merintih,
Kepongahan mencabik langit dan bumi.

Darat tak cukup, laut dijajah,
Udara menanti giliran untuk dikendalikan,
Tanah bungkuk, tanah terbungkam,
Tikus-tikus berdarah melahapnya tanpa ampun.

Lampung, 2025

——–
Arsiya Heni Puspita – Arsiya Oganara adalah nama penanya. Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dengan hobi membaca dan travelling. Hobi ini pula yang mengantarkannya menjadi professional Journalist yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan dinyatakan Kompeten serta Professional Tourist Guide dan Professional Tour Leader, Licensed and Certified dari Disparekraf DKI Jakarta dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Saat ini mulai merambah ke dunia sastra dan kegemarannya menulis tersalurkan dengan menulis cerpen, puisi, puisi esai, dan lainnya.

Arsiya Oganara sangat senang bertemu dengan orang baru, persahabatan bisa dilakukan melalui medsosnya. FB; Arsiya Heny Puspita. IG: arsiyahenyhdl. Email: hennyarsiya@gmail.com.

/5/

Laut yang Berbicara kepada Bintang

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku adalah laut,
tempat bintang-bintang bercermin di malam hari.
Aku menyimpan rahasia dunia,
menggendong kapal-kapal besar
dan melindungi kehidupan kecil
yang tak terlihat mata.

Namun kini, aku berbisik pada bintang:
apa yang harus kulakukan dengan sampah ini?
Ia datang tanpa aku memintanya,
mengotori tubuhku yang dulu bening.
Aku mencoba menerima,
tapi hatiku mulai lelah.

Manusia, aku hanya ingin berkata,
kembalikan aku pada biruku.
Jangan biarkan aku menjadi kuburan bagi kehidupan.
Aku adalah laut,
dan aku ingin tetap hidup
untuk menjaga duniamu.

Jakarta, 2013

/6/

Laut yang Menanti Kedamaian

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku adalah laut,
pengasuh kehidupan yang tak terhitung.
Dari kedalamanku,
lahir doa-doa kecil
yang dibisikkan oleh ikan-ikan dan angin.

Namun, tubuhku kini penuh luka,
minyak yang menghitamkan permukaanku,
plastik yang menyakitiku perlahan.
Aku tetap mencoba memberi,
mengangkat gelombang agar mereka tahu,
bahwa aku masih hidup.

Aku tak ingin menjadi amarah,
tapi ada batas kesabaranku.
Kepada manusia,
aku berbisik dengan lembut:
rawat aku seperti aku merawatmu,
karena tanpaku,
bumi tak lagi seimbang.

Jakarta, 2013

————
Kumpulan puisi No. 1, 3, 5, 6, 7 di atas awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2013 dalam bentuk bilingual (Inggris dan Indonesia). Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina merupakan anggota penulis SATU PENA Sumbar, Kreator Sumbar Era AI, Forum Siti Manggopoh. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)