April 20, 2026

Surat kepada Laut tentang Warna yang Kehilangan Cahaya

rizal1

Oleh: Rizal Tanjung

Wahai laut
aku menulis surat ini dari jendela senja
tempat langit runtuh perlahan
seperti doa yang patah di dada burung camar.
Aku bertanya padamu,
apa warnamu sekarang?
Masihkah biru seperti janji pertama kita,
atau telah berubah kelabu
seperti hatiku yang disiram hujan perpisahan?

Aku mengingatmu sebagai cermin langit,
tempat awan mencuci wajahnya,
tempat matahari menanam emas
di ladang gelombang yang tak pernah panen.
Dulu kau adalah kitab terbuka
yang kubaca dengan jantung berdebar,
setiap ombak adalah kalimat cinta
yang mengeja namanya di pasir.

Namun kini, lautku,
angin menghapus jejak-jejak itu
seperti waktu menghapus bahagia
dari kalender hidupku.
Aku berdiri di tepi dirimu
dengan saku penuh kenangan
dan tangan kosong dari masa depan.

Katakan padaku,
apakah kau masih memeluk bulan
seperti kekasih yang setia,
atau telah kau biarkan ia tenggelam
dalam cemburu awan-awan hitam?
Apakah kau masih menyimpan cahaya,
atau hatimu—seperti hatiku—
telah pecah menjadi serpihan malam?

Aku menulis namanya di udara,
huruf-hurufnya jatuh menjadi burung mati.
Aku memanggilnya pada ombak,
suaraku kembali sebagai gema luka.
Cinta ternyata bukan pelabuhan,
ia hanyalah kapal kertas
yang dibangun oleh harapan
dan ditenggelamkan oleh kenyataan.

Laut,
kau saksi saat kami bersumpah
di bawah matahari yang tersenyum polos,
bahwa cinta akan abadi
seperti pasang dan surutmu.
Tetapi aku lupa satu hal:
bahkan ombak pun lelah memeluk pantai
jika terus dilukai karang.

Kini aku bertanya lagi—
apa warnamu sekarang?
Apakah kau berdarah merah senja,
seperti dadaku yang bocor oleh rindu?
Ataukah kau hitam seperti malam
yang menutup semua pintu pulang?

Hatiku adalah perahu pecah,
terombang-ambing di samudra kenangan.
Setiap ingatan adalah badai kecil
yang merobek layar harapanku.
Aku mengapung di antara “pernah” dan “tidak lagi”,
dua pulau sunyi yang tak mau bersatu.

Aku pernah percaya
bahwa cinta adalah matahari,
tetapi kini aku tahu—
ia lebih mirip gerhana:
indah, singkat, dan meninggalkan dingin
yang panjang dalam jiwa.

Lautku,
jika kau masih biru,
pinjamkanlah sedikit warnamu
untuk menyembuhkan dadaku yang kelabu.
Jika kau telah gelap,
biarlah kita saling mengerti:
kesedihan pun punya samudranya sendiri.

Aku melihat camar terbang rendah,
sayapnya seperti surat tak terkirim.
Mungkin mereka membawa pesan darinya—
atau hanya membawa kabar
bahwa semua yang dicintai
pasti belajar pergi.

Setiap ombak memecah di kakiku
seperti hatiku yang retak berkali-kali.
Aku menghitung detik dalam buih,
mencari wajahnya di setiap kilau air,
tetapi yang kutemukan hanya pantulan diriku:
seorang pecinta yang kehilangan arah.

Laut,
aku lelah menyimpan rindu
seperti mutiara yang tak pernah dipakai.
Ia indah, tetapi menusuk daging.
Aku ingin melemparkannya ke dasar gelapmu
agar kesedihan ini tenggelam
dan tak kembali sebagai air mata.

Namun aku takut—
bahkan laut pun tak sanggup
menenggelamkan cinta yang tak selesai.

Katakan padaku, wahai laut,
apakah kau juga pernah ditinggalkan sungai
yang dulu mengalirkan hidup ke tubuhmu?
Apakah muaramu pernah sepi
seperti kamarku setiap malam?

Jika iya,
ajarkan aku caramu bertahan:
tetap luas meski kehilangan,
tetap memeluk meski dilukai,
tetap bernyanyi meski badai merobek suara.

Aku menutup surat ini dengan tangan gemetar,
tinta bercampur air mata
menjadi hujan kecil di kertas sunyi.
Pertanyaanku tetap sama—
dan mungkin takkan pernah terjawab:

Laut, apa warnamu sekarang?
Apakah sama dengan hatiku yang sedih—
kelabu, retak, dan tenggelam
dalam cinta yang tak pulang?

Jika suatu hari kau berubah biru kembali,
ingatkan aku bahwa luka bisa sembuh.
Jika kau tetap gelap,
biarlah kita menjadi saudara:
dua kesedihan yang luas,
dua kehilangan yang dalam,
dua jiwa yang belajar mencintai
meski akhirnya karam.

Dan jika ombak membacakan surat ini
kepada angin, kepada bulan, kepada takdir—
katakan padanya:
aku pernah mencintai dengan seluruh samudra,
tetapi ditinggalkan dengan setetes harapan.

Aku pamit, laut,
dengan dada sepi dan mata basah.
Aku tak lagi menunggu jawaban,
sebab mungkin cinta—
seperti warna air—
selalu berubah
ketika cahaya pergi.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.