Syukur di Balik Musibah
Yusufachmad Bilintention
Apakah seteguk air di padang pasir, nyawa yang terancam di ujung belati, atau gempa dahsyat layak disyukuri? Pertanyaan itu terasa aneh karena naluri manusia menolak penderitaan. Namun bila ditelaah, ada hikmah yang membuat syukur relevan bahkan dalam kesulitan.
Bayangkan orang tersesat di gurun dengan hanya seteguk air. Bagi yang berkecukupan itu kecil, bagi yang kehausan itu penentu hidup. Dari situ kita belajar menghargai nikmat sekecil apa pun dan melihat nilai di balik keterbatasan.
Saat nyawa terancam, rasa takut wajar. Jika terselamatkan, atau ancaman itu memicu tobat, perbaikan diri, atau keberanian, pengalaman itu menyimpan pelajaran. Musibah bisa menjadi panggilan untuk introspeksi, memperbaiki hubungan, dan memperkuat iman.
Bencana alam memang menimbulkan duka, tetapi dari puing sering muncul solidaritas dan gotong royong. Banyak orang menata ulang prioritas, menyadari kefanaan dunia, dan memahami bahwa kebahagiaan sejati bukan pada harta. Dengan demikian, musibah membuka ruang bagi kemanusiaan dan pembelajaran kolektif.
Bersyukur bukan berarti menutup mata pada penderitaan atau pasrah tanpa usaha. Syukur adalah sikap batin yang melihat hikmah, menghargai nikmat kecil, dan menjadikan ujian sebagai jalan menjadi lebih baik. Dalam setiap musibah tersimpan pelajaran; bila direnungkan dan diikuti tindakan, syukur memberi kekuatan untuk bangkit.
Surabaya, Januari 2026
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=enĀ
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly