April 25, 2026

*(Oleh: Paulus Laratmase

Tulisan ini merupakan bagian terakhir  dari lima tulisan yang ditulis oleh Pimpinan Umum Media “suaraanaknegerinews.com” sebagai penghargaan terhadap para tokoh terpilih oleh founders LSM Santa Lusia dalam ajang “Poetry Book Launching And Discussion (Poetry BLaD) L-Beautymanity (Love-Beauty and Humanity) and Delula Jaya (Debu-Lumut dan Larat) di Puncak Himalaya,  International Online Seminar On Poetry (IOSoP), Universitas Negeri Padang-Sumbar, 31 Mei 2025”.

Puisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina merupakan ekspresi estetis yang sarat nilai kemanusiaan universal. Dalam tiap baitnya puisi ini mengandung pesan mendalam tentang penerimaan, empati, dan perjumpaan antarmanusia. Jika dibaca melalui perspektif Martin Buber, khususnya melalui pemikiran dalam I and Thou (Buber, 1970), puisi ini mengafirmasi pentingnya relasi dialogal “Aku-Kau” yang sejati dan menyembuhkan realitas penulis Lina Marlina.

Kajian Literer Essensi Pandangan Martin Buber tentang Relasi I and Thou

Gagasan sentral filsuf Martin Buber, meskipun bukan satu-satunya, adalah tentang “struktur dialogal” dari eksistensi manusia. Pemikiran ini sangat penting dalam memahami karya puisi seperti “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” karya Leni Marlina, yang dalam tulisan saya ditafsirkan melalui lensa relasi “Aku-Kau”. Dalam bukunya I and Thou (1970), Buber membedakan dua bentuk hubungan dasar manusia: relasi “Ich-Es” (Aku-Itu) dan relasi “Ich-Du” (Aku-Kau). Terjemahan istilah ini ke dalam bahasa Inggris menjadi “I-It” dan “I-Thou”, sebagaimana diterjemahkan dan dijelaskan oleh Walter Kaufmann, menggarisbawahi pentingnya spontanitas dan keterbukaan dalam relasi personal manusia.

Dalam relasi “Aku-Itu”, manusia memperlakukan yang lain sebagai objek pengalaman (Erfahrung) atau alat untuk tujuan tertentu. Sebaliknya, dalam relasi “Aku-Kau”, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam Between Man and Man (2002), Buber menekankan bahwa manusia hadir secara utuh dan setara, bukan sebagai objek tetapi sebagai subjek yang dihadapi secara langsung dan otentik. Relasi ini bukan komunikasi biasa, melainkan sebuah perjumpaan (Begegnung) yang eksistensial dan menyeluruh.

Pemikiran ini mendapat penguatan dari Maurice S. Friedman dalam Martin Buber: The Life of Dialogue (2002), yang menyatakan bahwa hubungan “Aku-Kau” adalah cara manusia mengalami kehadiran yang transenden dari yang lain. Sementara Ronald Gregor Smith dalam Martin Buber: A Life of Faith and Dissent (1967) menekankan aspek spiritual dan kepercayaan dalam perjumpaan ini.

Puisi Leni Marlina yang dianalisis dalam tulisan ini,  menunjukkan kehadiran elemen-elemen relasi dialogal ini secara puitik: alam yang menerima tanpa menilai, penderitaan yang membentuk jembatan kasih, serta pengampunan yang mengubah luka menjadi cinta. Dalam kaitannya dengan Existentialism from Dostoevsky to Sartre oleh Kaufmann (1989), struktur dialogal ini juga selaras dengan pandangan eksistensialis tentang kehadiran autentik.

Konsep relasi spiritual dan pengakuan atas alteritas (yang lain) juga diperkuat oleh Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1969), dan Paul Ricoeur dalam Oneself as Another (1992), yang memandang hubungan etis antarpribadi sebagai dasar eksistensi manusia. Charles Taylor dalam The Ethics of Authenticity (1991) juga menekankan pentingnya pengakuan identitas dan keunikan personal dalam relasi yang sejati. Terakhir, Paul Tillich dalam The Courage to Be (1952) menegaskan keberanian eksistensial untuk hadir sebagai diri sendiri di hadapan yang lain, sesuatu yang sangat terwujud dalam relasi “Aku-Kau” menurut Buber.

Dengan demikian, struktur dialogal eksistensi manusia menurut Martin Buber sangat relevan untuk memahami puisi Leni Marlina, di mana kehadiran yang otentik, kasih tanpa syarat, dan pengampunan menjadi inti dari perjumpaan antarmanusia. Setiap bait puisi mencerminkan bahwa manusia menjadi manusia hanya dalam dan melalui relasi yang tulus relasi yang menurut Buber dan para pemikir besar lain, membentuk fondasi spiritual dan etis eksistensi manusia.

Penafsiran Per Bait dan Analisis Filsafati

Bait 1: “Di ujung bumi, / pantai ini tak tahu bendera, / ia hanya tahu kaki-kaki / yang lelah berjalan / mencari arti rumah / tanpa pagar dan senjata.”

Penyair menegaskan bahwa alam, dalam hal ini pantai, tidak mengenal batas-batas politik atau identitas yang memecah manusia. Yang ia kenali adalah perjuangan manusia mencari tempat damai. Dalam Between Man and Man (Buber, 2002), Buber menyatakan bahwa relasi sejati mengabaikan latar belakang dan hanya mengenal kehadiran otentik. Dalam bait ini, pantai menjadi metafora dari “Kau” yang menerima “Aku” dalam totalitas keberadaannya, menggemakan konsep hubungan antarpribadi yang mendalam.

Bait pertama puisi ini membuka lanskap permenungan tentang kemanusiaan yang tercerabut dari sekat-sekat buatan manusia seperti batas geografis, simbol negara, dan atribut identitas. Leni Marlina menegaskan bahwa kebutuhan paling mendasar manusia bukanlah pengakuan atas identitasnya, melainkan penerimaan atas keberadaannya. Ini sejalan dengan pandangan Friedman (2002) bahwa hubungan otentik hanya mungkin dalam konteks kehadiran sejati.

Bait 2: “Langit membentang seperti surat kuno, / yang belum sempat dikirim oleh angin/ isinya tentang perdamaian / yang tumbuh di dada ikan paus biru, / dan dibisikkan ke dalam buih / setiap kali ia menyentuh daratan.”

Kedamaian adalah pesan purba yang terus berusaha disampaikan oleh alam kepada manusia. Buber menyatakan bahwa hanya dalam relasi dialogal yang penuh keheningan, seseorang mampu menerima pesan yang mendalam (Smith, 1967). Hubungan “Aku-Kau” membuka ruang spiritual untuk mendengar bisikan perdamaian yang tidak terucap secara verbal.

Di sini, manusia yang mampu menangkap kedamaian dari buih laut adalah manusia yang hadir tanpa jarak terhadap alam, menyambutnya sebagai “Kau” yang hidup. Dalam Existentialism from Dostoevsky to Sartre (Kaufmann, 1989), disebutkan bahwa pengalaman transenden hanya mungkin dalam keheningan perjumpaan yang otentik.

Bait 3: “Ombak tak pernah bertanya / apakah engkau dari Timur, / atau Barat, / ia hanya tahu caramu menangis / diam-diam / di antara semilir dan kesunyian garam.”

Tidak ada penghakiman dalam rasa, tangisan adalah bahasa universal. Dalam relasi “Aku-Kau” menurut Buber, tidak ada penilaian atau kategorisasi. Seperti dalam The Life of Dialogue (Friedman, 2002), Buber menunjukkan bahwa kehadiran bersama dalam penderitaan adalah bentuk tertinggi dari relasi manusia yang sejati.

Bait ini mencerminkan bahwa hanya melalui relasi otentik seseorang dapat hadir bagi yang lain bukan sebagai objek penderita, tetapi sebagai sesama yang mengafirmasi eksistensinya.

Bait 4: “Pasir menampung jejak / seperti hati seorang ibu / tak pernah memilih, / hanya merawat.”

Simbol kasih ibu sebagai bentuk penerimaan murni. Dalam relasi “Aku-Kau”, merawat adalah bentuk kehadiran yang penuh cinta. Palmer (2003) menjelaskan bahwa tindakan merawat adalah manifestasi dari pengakuan akan martabat pribadi yang lain tanpa syarat.

Dalam konteks ini, pasir melambangkan entitas yang tidak menilai langkah siapa pun. Ia hadir dengan kasih dan ketulusan, sebagaimana dijelaskan dalam Oneself as Another (Ricoeur, 1992), bahwa merawat adalah perwujudan dari pengakuan eksistensial.

Bait 5: “Batu karang / adalah penjaga / yang tidak menuding, / ia hanya diam memeluk / karang lain / yang dihantam badai / dengan kesetiaan mineral.”

Kesetiaan dan solidaritas adalah inti bait ini. Menurut Buber dalam I and Thou (1970), relasi “Aku-Kau” tidak selalu bersuara, tetapi hadir dalam diam dan kesetiaan. Tillich (1952) menyebutnya sebagai “the courage to be present” keberanian untuk tetap hadir bagi yang lain.

Karang menjadi simbol kehadiran yang tidak menilai tetapi menopang. Sebuah bentuk relasi spiritual yang dalam keheningannya menghidupkan eksistensi bersama.

Bait 6: “Sinar mentari yang runtuh ke laut / adalah jabat tangan sejati / antara pagi dan senja, / antara perbedaan dan pengertian.”

Perjumpaan antara dua kutub tidak berarti meniadakan perbedaan, melainkan menyatukan dalam harmoni. Taylor (1991) menyatakan bahwa otentisitas lahir dari penerimaan atas keberagaman. Dalam relasi “Aku-Kau”, pemahaman tidak datang dari argumen tetapi dari kehadiran tulus.

Seperti dalam pertemuan pagi dan senja, relasi yang sejati memberi ruang bagi keberbedaan, sebagaimana yang digambarkan dalam Totality and Infinity (Levinas, 1969), bahwa relasi adalah perjumpaan yang memuliakan alteritas.

Bait 7: “Burung camar / adalah puisi yang terus mekar di angkasa, / menuliskan pesan pada langit: / ‘Tak satu pun anak manusia / harus ditenggelamkan oleh benci.'”

Ini adalah seruan untuk menghapus kebencian. Dalam Between Man and Man (2002), Buber menjelaskan bahwa relasi “Aku-Kau” menghapus dominasi dan membuka ruang kasih sayang. Burung camar di sini adalah simbol dari cinta yang universal dan tanpa syarat.

Relasi yang tidak mempersyaratkan, yang hanya mengenal cinta dan pengakuan adalah bentuk relasi yang mampu menebus dunia dari kebencian yang membelah umat manusia.

Bait 8: “Dan ketika langit menggantungkan pelangi, / itu bukan pamer warna, / tapi pertanda / bahwa luka pun bisa membentuk / keindahan yang menjembatani.”

Pelangi adalah jembatan makna antara penderitaan dan keindahan. Tillich (1952) menyebut pengalaman spiritual ini sebagai “the ground of being”, keberadaan yang disadari dalam luka. Dalam relasi “Aku-Kau”, luka menjadi ruang pemurnian cinta dan penerimaan.

Buber (1970) menyebutkan bahwa hanya dalam kerentanan manusia hadir dengan utuh. Maka, bait ini menjadi pernyataan bahwa dari luka-luka kemanusiaan dapat tumbuh jembatan pemahaman dan kasih yang memulihkan.

Bait 9: “Aku menulis puisi ini / bukan dengan tinta, / melainkan dengan air mata yang dipinjam / dari kisah-kisah / yang nyaris dilupakan dunia”

Menulis dengan air mata adalah tindakan spiritual. Buber (2002) menyatakan bahwa menjadi saksi bagi yang terlupakan adalah bentuk tertinggi dari relasi “Aku-Kau”. Dalam relasi ini, seseorang tidak hanya memahami, tetapi turut serta dalam penderitaan itu sendiri.

Ricoeur (1992) menggarisbawahi bahwa empati adalah bentuk pengenalan akan eksistensi yang lain. Maka, penyair di sini hadir untuk  mengisahkan, tentang apa dan bagaimana menjalin relasi batin dengan mereka yang tak bersuara.

Bait 10: “kisah para anak kecil / yang memeluk sosok yang telah menghilangkan nyawa keluarganya / dan berkata, / ‘Apakah kau juga suka bermain pasir?”

Pengampunan sebagai bentuk tertinggi relasi. Buber (1970) menyatakan bahwa relasi “Aku-Kau” tidak meniadakan masa lalu, tetapi mentransformasikannya. Anak kecil dalam bait ini memutus rantai balas dendam dan membuka ruang relasi baru.

Friedman (2002) menyebut tindakan ini sebagai “dialog of redemption”, dialog yang menyembuhkan dan menciptakan dunia baru yang lebih manusiawi. Ini adalah puncak spiritual relasi dialogal menurut Buber.

Kesimpulan

Puisi ini adalah narasi spiritual yang mengajak pembacanya untuk menyelami makna kehadiran, penerimaan, dan cinta universal. Melalui lensa Martin Buber, kita memahami bahwa dunia membutuhkan lebih banyak relasi “Aku-Kau” perjumpaan sejati yang tidak menghitung identitas, latar belakang, atau luka, melainkan mengafirmasi eksistensi satu sama lain dalam keheningan dan kasih sayang.

Puisi “Ombak Tak Pernah Bertanya Asalmu” merupakan karya yang menggambarkan kedalaman nilai-nilai kemanusiaan secara puitik dan spiritual. Ketika dibaca melalui lensa filsafat Martin Buber, terutama konsep relasi “Ich-Du” (Aku–Kau), puisi ini menjadi cerminan dari relasi dialogal yang sejati.

Ucapan Terima kasih 

Terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan, kontribusi, serta partisipasi dalam terselenggaranya acara “Poetry Book Launching and Discussion (Poetry BLaD): L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity) & DELULA JAYA (Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya)” serta International Online Seminar on Poetry (IOSoP) yang diselenggarakan oleh Media Suara Anak Negeri berkolaborasi dengan Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS UNP, pada hari Sabtu, 31 Mei 2025, bertempat di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Kepada Pimpinan Media Pantners: Hati Pena.Com; Potret.Com dan Orbit.Com atas dukungan moril dalam berbagai pemberitaan kegiatan media Suara Anak Negeri News.Com.

Secara khusus kepada:

Terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan, kontribusi, serta partisipasi dalam terselenggaranya acara “Poetry Book Launching and Discussion (Poetry BLaD): L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity) & DELULA JAYA (Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya)” serta International Online Seminar on Poetry (IOSoP) yang diselenggarakan oleh Media Suara Anak Negeri berkolaborasi dengan Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS UNP, pada hari Sabtu, 31 Mei 2025, bertempat di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Kami mengucapkan terima kasih secara khusus kepada:

1. Gubernur Sumatera Barat – Mahyeldi Ansharullah
2. Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat – Mahyan, S.Pd., M.M.
3. Wali Kota Sumatera Barat – Fadly Amran
4. PLH Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang – Syafriadi, S.E.
5. Bupati Biak Numfor – Markus Mansnembra, S.H., M.M.
6. Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar – dr. Yuliana Ratuanak, M.M.K.
7. Rektor Universitas Negeri Padang – Krismadinata, Ph.D.
8. Wakil Rektor UNP Bidang Akademik dan Kemahasiswaan – Prof. Dr. Refnaldi
9. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNP – Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum.
10. Wakil Dekan FBS Bidang Akademik & Kemahasiswaan: Prof. Indrayuda., S.Pd., M.Pd., Ph.D. Wakil Dekan FBS Bidang Urusan SDM & Keuangan: Prof. Indrayuda., S.Pd., M.Pd., Ph.D.
11. Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Inggris – Dr. Yuli Tiarina, M.Pd.
12. Ketua Program Studi Sastra Inggris – Nur Rosita, S.S., M.A.
13. Para dosen dan tendik Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS UNP Padang
14. Para mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS UNP Padang

15. NGO Santa Lusia – Dr. Bruno Rumyar, M.A.
16. Ketua Panitia Pelaksana – Yusuf Achmad, M.Pd.
17. Sekretaris Umum Panitia – Leni Marlina, S.S., M.A.
18. Para pembedah buku: Anto Narasoma, Eka Budianta, dan Rizal Tanjung
19. Para penyair dan pembaca puisi: Tatang R. Macan, Eka Teresia, Qarisa Afiqa Makmur dan kawan-kawan.
20. Para sastrawan, budayawan, kurator, dan kritikus sastra, Para pembicara, presenter virtual dan pembaca puisi virtual dari dalam dan luar negeri, Seluruh panitia yang telah bekerja keras penuh dedikasi, para mitra kerja (partnership) yang kolaboratif, serta semua pihak yang telah mendukung dan membantu terselenggaranya kegiatan ini—yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, Seluruh perserta yang hadir offline dan online di acara acara “Poetry Book Launching and Discussion (Poetry BLaD): L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity) & DELULA JAYA (Debu, Lumut, Larat: Jejak Kata di Himalaya)” serta International Online Seminar on Poetry (IOSoP).

Semoga Tuhan membalas segala kebaikan dan ketulusan hati Bapak/Ibu/Saudara sekalian.
Dengan penuh hormat dan penghargaan,
Pimpinan Umum Suara Anak Negeri

Referensi

  1. Buber, Martin. I and Thou. Trans. Walter Kaufmann. New York: Scribner, 1970.
  2. Buber, Martin. Between Man and Man. Routledge, 2002.
  3. Smith, Ronald Gregor. Martin Buber: A Life of Faith and Dissent. Collins, 1967.
  4. Friedman, Maurice S. Martin Buber: The Life of Dialogue. University of Chicago Press, 2002.
  5. Kaufmann, Walter. Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Meridian Books, 1989.
  6. Palmer, Michael. Names and Naming: Reflections on Language, Metaphysics and Mystery. Routledge, 2003.
  7. Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Duquesne University Press, 1969.
  8. Ricoeur, Paul. Oneself as Another. University of Chicago Press, 1992.
  9. Taylor, Charles. The Ethics of Authenticity. Harvard University Press, 1991.
  10. Tillich, Paul. The Courage to Be. Yale University Press, 1952.

Biak, 23 Juni 2025

*(Paulus Laratmae adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia/ Pempinan Umum Media Suara Anak Negeri News.Com.