“TAMAN RAHASIA KEMANUSIAAN DI HATIMU”: Antologi Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia)
/1/
TAMAN RAHASIA KEMANUSIAAN DI HATIMU
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hatimu, sahabatku,
seperti taman yang tak pernah menutup pintunya.
Setiap pagi, matahari datang mengetuk,
menyusup di celah daun kasih
yang bergetar seperti doa.
Bumi pun mengirimkan aromanya—
rempah, tanah basah, hujan yang berlama dalam ingatan—
semua mengalir ke akar pengharapanmu.
Aku melihat bunga lahir
dari luka yang pernah mencabikmu;
dari air matamu,
mengalir sungai asin yang memberi minum
padang tandus di dada orang lain.
Hatimu bukan milikmu seorang—
ia adalah roti beruap hangat di tangan lapar,
nasi putih yang menyatukan keluarga tercerai,
sagu yang menjaga ingatan leluhur,
air jernih yang menyeberangi tenggorokan haus
dan menyatukan manusia di meja dunia.
Hatimu, sahabat,
adalah pelukan yang membuat musuh
menjatuhkan senjatanya,
dan tiba-tiba mengenali wajah
kemanusiaannya sendiri.
Jangan biarkan taman ini tandus.
Rawatlah bunga cintanya
seperti engkau menjaga anakmu:
dengan sabar sepanjang malam,
dengan air mata asin yang menyuburkan,
dengan harapan tak pernah habis,
seperti bintang yang terus berkedip
meski langit digerus gelap.
Karena suatu hari—
ketika dunia terbakar oleh kebencian,
ketika kota-kota runtuh oleh keserakahan,
ketika manusia menelan bayangannya sendiri—
taman cintamu akan tetap hijau.
Di sana, burung-burung kembali bernyanyi,
anak-anak menemukan tawanya lagi,
air mata menjelma embun pagi,
dan manusia, dengan gentar dan syukur,
akan kembali mengenal
wajahnya sendiri.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/2/
SUNYI YANG MENGGEMA DALAM DIRIMU
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau, sahabatku,
pernahkah kau dengar
suara yang tidak datang dari luar,
tetapi dari dalam dadamu sendiri?
Suara itu bukan sekadar bisikan,
ia adalah palu yang mengetuk dinding hati,
mengguncang tiang rapuh yang kau bangun
dari kesenangan sesaat,
dari bayangan yang kau kira pelangi,
padahal hanya serpihan kaca yang melukai tanganmu.
Engkau berlari—
namun jejakmu hanya lingkaran,
berputar kembali ke tempat yang sama,
menyisakan luka yang lebih dalam
dan gelap yang lebih pekat.
Aku melihat,
dirimu seperti lilin yang terbakar dari dua sisi:
cahaya seolah terang,
tapi minyak jiwamu cepat habis,
hingga yang tertinggal hanyalah asap
dan sisa wangi yang getir.
Sahabatku,
bukankah sudah saatnya engkau berhenti
mencintai racun dengan nama manis?
Bukankah sudah waktunya
kau rebahkan dirimu pada tanah sujud,
membiarkan air mata jadi saksi
bahwa engkau ingin kembali?
Ingatlah,
Tuhan tidak menolak pintu yang diketuk,
sekalipun tanganmu kotor,
sekalipun bajumu penuh debu.
Engkau masih bisa pulang,
sebelum malam menutup pintu,
dan bintang-bintang menjadi hakim
yang tak lagi memberi kesempatan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/3/
DI TENGAH LUKA
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku tahu—
angin bisa saja merobek segala layar,
namun perahu tetap mencari dermaga.
Di matamu, kutemukan bayang api:
kadang menyala, kadang redup,
namun tak pernah padam.
Kita berjalan—
di antara batu yang menyesakkan langkah,
tetapi bumi masih mau menampung
jejak yang kita titipkan.
Kalau luka ini harus kita simpan,
biarlah ia menjadi kitab rahasia:
ditulis dengan darah sunyi,
dibaca hanya oleh jiwa-jiwa yang mengerti.
Dan bila maut menutup pintu,
bukankah kita hanya kembali
ke pangkuan yang semula?
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/4/
KEPADA TUBUHMU YANG RETAK
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku lihat engkau, kawan,
bukan lagi batu—
tapi serpih yang masih menyala.
Retakmu
adalah peta luka,
dan dari sana darahmu menulis arah.
Kau berjalan di jalan yang bengkok,
namun langkahmu tak berhenti.
Kau terjatuh—
tapi suaramu belum mati.
Jangan takut pada malam,
karena malam hanya tirai
bagi mata yang ingin terang.
Engkau, kawan,
adalah sumbu lilin yang terus keras kepala,
meski angin berkali-kali
mencoba membunuh nyala.
Aku tahu,
suatu hari retakmu akan jadi rumah—
rumah yang menampung ribuan jerit,
tapi juga ribuan harapan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/5/
SUNYI YANG MENGGEMA DALAM DIRIMU
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau, sahabatku,
pernahkah kau dengar
suara yang tidak datang dari luar,
tetapi dari dalam dadamu sendiri?
Suara itu bukan sekadar bisikan,
ia adalah palu yang mengetuk dinding hati,
mengguncang tiang rapuh yang kau bangun
dari kesenangan sesaat,
dari bayangan yang kau kira pelangi,
padahal hanya serpihan kaca yang melukai tanganmu.
Engkau berlari—
namun jejakmu hanya lingkaran,
berputar kembali ke tempat yang sama,
menyisakan luka yang lebih dalam
dan gelap yang lebih pekat.
Aku melihat,
dirimu seperti lilin yang terbakar dari dua sisi:
cahaya seolah terang,
tapi minyak jiwamu cepat habis,
hingga yang tertinggal hanyalah asap
dan sisa wangi yang getir.
Sahabatku,
bukankah sudah saatnya engkau berhenti
mencintai racun dengan nama manis?
Bukankah sudah waktunya
kau rebahkan dirimu pada tanah sujud,
membiarkan air mata jadi saksi
bahwa engkau ingin kembali?
Ingatlah,
Tuhan tidak menolak pintu yang diketuk,
sekalipun tanganmu kotor,
sekalipun bajumu penuh debu.
Engkau masih bisa pulang,
sebelum malam menutup pintu,
dan bintang-bintang menjadi hakim
yang tak lagi memberi kesempatan.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/6/
KAWAN DAN TANAH AIR
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kau… kawanku…
Langkahmu terbenam dalam gelap,
Gelap yang menekuk langit menjadi rahang malam,
Badai memuntahkan amarahnya ke udara,
Tapi dada ini—oh dada ini—menjadi benteng magma rindu,
mengalir, menekan, menahan.
Tanah meneguk darah kita,
Akar merayap seperti ular purba,
Sungai menelan serpihan waktu,
Menyusup ke sumur janji,
Angin menari di rambut kita,
Membawa nama-nama pahlawan yang hilang,
Api di dada bukan membakar, tapi membelai keberanian,
Meremukkan kesedihan, menyalakan lava merah keberanian.
Kita satu denyut,
Denyut tanah, denyut sungai, denyut darah, denyut rindu,
Tangan bertaut, hati menyatu,
Tidak runtuh, tidak tergoyahkan,
Meski malam menelan dunia,
Meski waktu menelan langkah kita tanpa ampun.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/7/
SETIA DI ANTARA GELAP
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Gelap menelan,
aku menahan,
Angin menampar seperti cambuk laut yang dingin,
Kau tersesat,
aku ikut tersesat,
Seperti bayangan terbelah di permukaan air bergerak.
Api di dada menyala—bukan membakar,
tapi menembus tulang,
Menyalakan rindu pekat, mengalir di pembuluh darah seperti lava purba,
Bumi bergetar,
pohon menunduk,
ombak menepuk kaki kita,
Rindu menjadi perisai, kesetiaan menjadi tombak yang menusuk gelap.
Kau, kawanku, jangan takut,
Aku berdiri di sampingmu, di tengah gelombang,
Menjadi nafas yang menghidupkan dunia,
Menjadi cinta yang mempertahankan bangsa.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/8/
KITA DAN TANAH AIR
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku di sini, kau di sini,
Dua energi menahan gelombang, menahan badai,
Menahan darah yang berdesir di perut bumi.
Rapuh tapi berani, kita menjadi benteng,
Bagi jiwa tersesat, bagi bangsa yang retak,
Tanah menahan langkah kita,
Langit menabuh cahaya di mata,
Sungai membawa janji, angin berbisik:
“Kesetiaanmu bukan sia-sia.”
Kita—denyut kawan dan bangsa—menyatu,
Di akar, di batu, di sungai,
Rindu dan keberanian berpadu,
Tidak tergoyahkan, tidak pernah pergi,
Menjadi saksi nadi yang hidup dan abadi,
Seperti gunung menahan hujan dan badai ribuan tahun.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/9/
DENYUT KAWAN, DENYUT BANGSA
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Denyutmu, denyutku, denyut bangsa,
Terpukul gelombang, diterpa badai,
Tetap menyatu, tetap berdetak.
Tangan bertaut, hati menyatu,
Api, air, angin, tanah,
Semua ikut menahan, menjadi saksi kesetiaan yang hidup,
Rindu membara, kekuatan sejati,
Seperti batu yang menahan arus sungai purba.
Tidak terhapus, tidak putus,
Tidak seorang pun bisa memisahkan kita,
Dari tanah air, dari kawan, dari ikrar janji mencintai bangsa.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/10/
TAKKAN MENINGGALKANMU, TANAH AIRKU
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku di sini, kau di sini,
Dua energi menolak runtuh,
Menangkap serpihan hati, menyalakan nyali,
Menjadi benteng untuk kawan, dan untuk bangsa.
Kau takut? Kita harus maju,
Bangsa rapuh? Kita harus bertahan,
Gelombang energi kita menyatu,
Rindu menjadi perisai, kesetiaan menjadi tombak,
Tangan bertaut, darah berdesir, hati menyala,
Kau, kawanku, tanah airku,
Selamanya kita setia,
tidak pergi, tidak runtuh,
Tidak pernah lelah menahan dunia,
menahan rindu,
menahan waktu,
Seperti ombak menghantam batu tanpa henti, tetap memuja pantai.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/11/
JEJAK YANG KITA JAGA
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita pernah berjalan bersama:
melewati lorong lapar,
di mana malam kelam terluka
dan tulang-tulang berbisik
bahwa esok hanyalah ujian
bagi yang berani bertahan.
Di matamu kulihat janji:
sebutir bara kecil
yang menolak padam,
meski dikepung angin sejarah.
Bara itu kita rawat—
bukan untuk kita saja,
tetapi untuk generasi
yang menunggu cahaya dari reruntuhan.
Jika langkahmu berbelok,
aku tidak marah, tidak menuding.
Aku hanya menunjuk bumi:
ia tetap melingkupi
yang kalah dan yang menang,
yang miskin dan yang berkuasa,
dengan pelukan yang sama.
Ingatlah, sahabat:
matahari tetap satu.
Ia tidak tunduk pada bendera,
tidak memilih nama atau warna kulit,
ia hanya tahu setia
memberi terang bagi siapa pun
yang berani menengadah.
Dan rinduku—
bukan sekadar getar pribadi,
tetapi kerinduan umat manusia:
rindu pada dunia yang adil,
pada meja tanpa kursi kosong,
pada tawa yang tidak dibungkam senjata.
Jejak ini kita jaga,
seperti doa yang menolak punah.
Hidup memang rapuh,
namun justru di situlah kekuatannya:
ia menuntut kita memperjuangkannya
dengan cinta,
dengan keberanian,
dengan kemanusiaan
yang tak mengenal batas waktu.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/12/
SUNGAI YANG INGIN KEMBALI JERNIH
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kawan,
kita adalah sungai yang pernah jernih—
namun kini tubuh kita keruh,
penuh lumut luka.
Arus menyeret batu janji
yang retak di dada kita sendiri.
Kita berlayar dengan perahu robek,
layar dijahit oleh doa,
namun setiap hembus angin
menjadi pisau yang menusuk lagi.
Kita menancapkan bendera di tanah tandus,
berharap tumbuh pohon teduh,
tetapi akar kita justru menggali
kubur bagi diri sendiri.
Kita menyalakan obor di malam tergelap,
namun tangan gemetar,
api menjilat mata,
membakar wajah—
hingga kita tak saling mengenali.
Kita bukan lagi rumah,
hanya pintu-pintu terbuka
menunggu diterjang badai.
Namun di celah retakan itu,
ada cahaya kecil,
berkedip—menolak padam.
Kawan,
mungkin,
di tengah runtuh dan hancurnya kita,
masih ada sungai
yang ingin kembali jernih,
masih ada kita
yang belum sepenuhnya hilang.
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/13/
LUBANG YANG DALAM DI MATAMU
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Matamu—
lubang tak bertepi,
jurang cahaya yang sudah patah.
Doa jatuh ke sana,
retak,
tak pernah kembali.
Suaramu: serpih burung,
sayapnya patah di udara hampa.
Nyanyianmu pecah
jadi pasir—
ditelan tenggorokmu sendiri.
Langkahmu menghantam tanah,
tanah menolak,
tanah batu,
tanah yang tak lagi ingat
namamu.
Di dadamu: api kecil—
menggigil,
ditindih angin hitam.
Nyala berdesis,
seperti huruf terakhir
yang tak sempat diucap.
Sahabat,
lepaskan jerat itu.
Hidup bukan tali yang kau peluk
sampai lehermu sendiri tercekik.
Jangan biarkan tubuhmu
jadi patung asing,
dipahat oleh tangan
yang tak mengenal getar cintamu.
Aku tidak membawa surga,
tidak pula menakutimu dengan neraka.
Aku hanya mengetuk:
di tubuhmu ada ruang,
altar sunyi,
urat darah yang menunggu
kau pulang.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/14/
TAKKAN RELA MENYERAH
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kau berteriak,
meski malam membungkam,
meski mulutmu dikunci sepi,
kau tetap menghantam dinding bisu
dengan suaramu yang berdarah.
Tak ada doa yang sempurna
selain keberanian melawan lumpur
yang hendak menelan tubuhmu.
Kau bukan batu yang pasrah di lumpang,
kau adalah belati
yang menolak karat,
meski tiap tetes hujan
mencoba melumpuhkannya.
Jalan ini panjang—
kau tahu.
Namun kau tidak akan berhenti.
Jika harus pecah di tikungan,
biarlah pecah,
asal ada jejak yang tertinggal,
bahwa kau pernah menolak
mati dengan diam.
Kita semua lahir dengan luka,
dan kau memilih menggoresnya lagi,
agar kau ingat:
darahmu masih panas,
hidupmu masih bergolak,
dan di nadimu
masih ada api yang melawan.
Api itu bukan hanya milikmu,
ia adalah bara kita bersama—
kau, aku, kita:
takkan biarkan mereka
menjajah pikiran kita,
takkan relakan mereka
mengoyak martabat bangsa,
takkan menyerahkan tanah air ini
kepada tangan-tangan congkak
yang hanya tahu merampas,
dan melupakan wajah
kemanusiaan.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/15/
AKU LIHAT TUBUHMU DAN TUBUH BANGSA INI
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku lihat tubuhmu, kawan—
bukan hanya dirimu,
tapi tubuh bangsa, tubuh dunia,
retak seperti kaca purba
yang menyimpan bayangan jutaan tahun derita.
Retaknya bukan sekadar retak,
ia adalah peta yang tergores di tubuh kita:
jalan yang dibakar perang,
janji yang diruntuhkan kuasa,
sejarah yang ditulis dengan darah dan dilupakan hujan.
Suaramu bergetar,
seperti doa yang terjepit di tenggorok langit,
seperti nyanyian yang dipatahkan waktu,
namun angin tirani tak pernah berhenti
menghempasinya jadi abu.
Engkau berjalan dengan mata tertunduk,
seakan tanah merah yang kau injak
menyembunyikan rahasia terlalu pahit
untuk diteriakkan,
terlalu perih untuk didiamkan.
Aku ingin meraihmu,
menegakkan bahu-bahu yang patah—
bahu petani yang direnggut musim,
bahu buruh yang diremukkan mesin,
bahu ibu yang menanggung lapar,
bahu anak kecil yang dipaksa cepat dewasa.
Namun siapa bisa menahan banjir sejarah
jika bendungan nurani telah hancur,
jika dinding moral telah rubuh
dan air hitam mengalir tak terbendung?
Kawan, jangan biarkan retakmu jadi runtuh.
Sebab di tiap celah kaca itu,
ada cahaya kecil yang menyusup—
cahaya yang tak bisa diinjak,
cahaya yang menolak dimatikan malam.
Aku percaya,
suatu hari engkau—kita—akan bangkit kembali,
bukan sebagai serpihan kaca,
melainkan sebagai cermin utuh
yang memantulkan wajah kemanusiaan
tanpa topeng, tanpa dusta—
dengan segala luka yang jujur,
dengan segala cahaya yang menerangi nurani.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/16/
DI DALAM DIRIMU MASIH ADA TAMAN
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau, sahabatku, aku melihat matamu seperti cermin pecah— serpihan yang memantulkan wajahmu tanpa bisa kau satukan kembali.
Engkau berjalan di jalan yang bercabang, namun selalu memilih lorong sempit berlampu kelam. Suara hatimu kau bungkam, diganti bisikan semu yang menyanjung nafsu, tapi menjerat jiwamu.
Tubuhmu bagai rumah terbakar, penuh asap, penuh jeritan, dan di setiap jendelanya aku melihat bayanganmu memanggil: “Tolong… bawa aku keluar.”
Kamu, sahabatku, bukankah engkau pernah berkata bahwa hidup ini suci, dan jiwa adalah titipan-Nya? Mengapa kini engkau menyerahkannya pada tangan yang hanya tahu cara merusak?
Aku tahu— di dalam dirimu masih ada taman, masih ada benih doa yang belum mati, masih ada air mata yang menunggu untuk jadi hujan penyejuk.
Kembalilah, sahabatku. Biarkan dirimu dipeluk cahaya. Biarkan sujudmu menjemput kembali sisa-sisa dirimu yang tercerai.
Engkau bukan sekadar luka, engkau bukan sekadar sesal. Engkau adalah jiwa yang haus pulang. Dan Tuhan, selalu membuka pintu bagi yang mengetuk-Nya.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/17/
AKU DAN KAU, TAMAN DAN BANGSA
Puisi: Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku adalah tanah yang bergetar,
kau adalah akar yang menembus luka.
Dari kita tumbuh taman—
bunga-bunga merahnya basah oleh darah,
daun-daunnya diguyur air mata sejarah.
Sahabatku,
bangsa ini adalah tubuh kita yang lebih besar:
urat-uratnya sungai,
tulang-tulangnya gunung,
napasnya hembus angin laut,
dan jantungnya—
berdenyut di dada kita sendiri.
Engkau adalah taman yang tak henti melahirkan,
meski musim membakar ladang,
meski hujan membawa banjir kematian.
Dari tanahmu yang retak
tumbuh kembali cinta:
gandum untuk lapar,
air untuk haus,
dan mawar—untuk luka yang terus menganga.
Aku mendengar langkahmu di lorong gelap,
membawa obor kecil,
menyalakan cahaya bagi bangsa yang hampir buta.
Aku melihat suaramu
memecah kabut di atas kota-kota runtuh,
seperti lonceng yang tak henti berdering,
memanggil manusia pulang ke wajahnya sendiri.
Sahabatku,
jangan biarkan taman di hatimu padam.
Rawatlah bangsa ini
seperti engkau merawat cintamu:
dengan pelukan yang membuat musuh luluh,
dengan sabar yang panjang seperti sungai,
dengan gairah yang membakar malam
hingga bintang pun gemetar.
Karena suatu hari—
ketika dunia terbakar oleh kebencian,
ketika kota-kota tinggal abu,
ketika manusia hampir melupakan dirinya—
taman cinta kita akan tetap hijau.
Dan dari sana,
bangsa ini akan kembali berdiri,
seperti pohon raksasa
yang akarnya dalam ke bumi,
yang dahannya menembus langit,
dan buahnya—
adalah kemanusiaan itu sendiri.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
———————–
Tentang Penulis: Leni Marlina
Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan akademisi kelahiran Baso, Agam – Sumbar dan berdomisili di Padang.
Sejak tahun 2022, Leni Marlina merupakan anggita aktif SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat dan anggota aktif World Poetry Movement (WPM-Indonesia)
Leni Marlina, sang penulis buku antologi puisi bilingual (Indonesia-Inggris) “The Beloved Teachers”, “L-BEAUMANITY (Love, Beauty and Humanity)” & “English Stories for Literacy” dianugerahi penghargaan sebagai Penulis Terbaik Tahun 2025 oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (IMLF-3).
Sejak 2006, hampir dua dekade, Leni Marlina mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, redaktur dan kontributor digital di sejumlah media lokal, nasional dan internasional. Sejumlah karya puisi Leni yang ia sumbangkan untuk pembaca di tanah air dan di perantauan luar negeri dapat dibaca di: https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa
Leni telah mendirikan, memimpin dan mendampingi sejumlah komunitas literasi, sastra, sosial berbasis digital, antara lain:
1. PPIPM- Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat)
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. Literature Talk Community (Littalk-C)