April 21, 2026

Oleh Alex Runggeary)

Ada sebuah isu kontroversial yang tengah beredar di kalangan komunitas sastra Indonesia belakangan ini. Beberapa pihak menyatakan ketidaksetujuannya, tentu dengan alasan masing-masing, begitu mendengar pengumuman dari Komite Penghargaan Sastra BRICS yang menetapkan Denny JA sebagai kandidat dari Indonesia untuk penghargaan tersebut, sebagaimana diusulkan oleh Komite Seleksi Lokal.

Begitu pengumuman itu dibacakan, Maman, salah satu anggota komite seleksi, langsung melangkah agresif menuju panggung sambil berteriak keras, “Tidak, tidak… saya tidak setuju!!!” Dan bukan hanya Maman yang tidak setuju, saya menduga banyak anggota serta kelompok dalam komunitas sastra memiliki pendapat serupa dengan alasan masing-masing.

Namun, Sastri Bakri, yang ditunjuk sebagai Perwakilan BRICS Literature Award di Indonesia, menyayangkan tindakan Maman tersebut. “Mengapa persoalan tidak diselesaikan dengan cara yang lebih bijaksana?” ujarnya. Tapi, apa yang terjadi sudah terjadi dan hal itu tidak baik bagi citra Indonesia sebagai tuan rumah acara tersebut. Perbedaan pendapat seharusnya bisa diselesaikan secara elegan di antara sesama insan sastra.

Lalu, mengapa nama Denny JA selalu menimbulkan kontroversi di dunia sastra Indonesia? Secara objektif, ia sebenarnya adalah penulis besar di berbagai bidang, bukan hanya di sastra, tetapi juga dalam kajian sosial dan akademik. Ia banyak menghabiskan waktu meneliti fenomena sosial di negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Denmark, Norwegia, dan Swedia, tentang mengapa masyarakat di sana relatif sedikit yang beragama, namun memiliki tingkat kebahagiaan tinggi. Dari situ, ia menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sebab-akibat langsung antara agama dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Denny melakukan banyak riset data tentang hal ini dan kemudian membawa temuan tersebut ke dunia akademik hingga menjadi bagian dari kurikulum universitas.

Ia juga dikenal luas di dunia sastra Indonesia bahkan Asia Tenggara sebagai pencetus genre Puisi Esai. Genre ini menggabungkan bentuk puisi dengan esai, berbentuk panjang, memiliki bab, dan mengangkat kisah faktual di waktu dan tempat tertentu. Puisi esai juga disertai catatan kaki (footnote) yang berfungsi mengingatkan pembaca tentang manusia dan peristiwa nyata yang menjadi latar kisah tersebut. Salah satu karya terkenalnya dalam genre ini adalah “Demi Cinta”, sebuah karya yang sering disebut-sebut dan berulang kali dibicarakan.

Saya sendiri membaca karya-karyanya karena saya adalah anggota Satupena, organisasi penulis Indonesia yang diketuai oleh Denny JA. Bagi saya, ia adalah penulis besar yang pantas dijadikan rujukan, seseorang yang darinya saya bisa banyak belajar.

Namun, mengapa namanya selalu menimbulkan kontroversi setiap kali muncul dalam konteks penghargaan sastra? Ini bukan kali pertama. Pada tahun 2022, kelompok penulis, khususnya komunitas Puisi Esai, pernah mengumumkan bahwa Denny menjadi calon nomine Nobel Sastra. Isu ini kemudian berkembang liar karena banyak pihak dalam komunitas sastra memiliki pandangan berbeda. Namun, Komite Nobel segera menampik kabar tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak pernah menominasikan nama Denny JA, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kompas.

Kini, pengumuman nominasi BRICS Literature Award kembali menimbulkan pro-kontra serupa. Tentu, setiap orang bebas memiliki pendapat berbeda sejauh itu dapat dijelaskan dengan baik.

Saya pribadi beranggapan bahwa salah satu alasan utama penolakan terhadap Denny JA adalah karena klaimnya sebagai pelopor (pioneer) genre Puisi Esai. Banyak orang tahu bahwa Alexander Pope (1688–1744) dari Inggris-lah yang sebenarnya lebih dahulu menciptakan genre serupa. Jadi, siapakah sebenarnya pelopor sejati genre ini?

Saya berpikir, jika Denny JA bersedia mengakui Alexander Pope sebagai pelopor awal genre tersebut, maka ia telah menyingkirkan satu rintangan besar di jalan yang sedang ia tapaki, daripada mencoba “mengubur Alexander Pope untuk kedua kalinya.”

Seperti yang dikatakan Uni Sastri Bakri dalam pertemuan Zoom semalam:
“Itu seperti ayam goreng, sudah dikenal lama. Tapi hanya Kolonel Sanders yang memberi merek dagang dan menjadikannya terkenal sebagai Kentucky Fried Chicken.”

Apakah Denny JA akan terus melangkah dengan pendekatan seperti itu? Sepenuhnya tergantung padanya. Artinya, ia bisa membiarkan hambatan yang sama berulang kali menciptakan kontroversi yang menutupi langkahnya, atau ia dapat bersikap ksatria dengan mengakui Alexander Pope sebagai sosok pertama yang memperkenalkan Puisi Esai sebagai genre dalam sastra dunia.

Yogyakarta, 31 Oktober 2025

Catatan:
Seperti dikatakan Uni Sastri: “Kekayaan Denny JA jauh melampaui nilai penghargaan BRICS itu sendiri.” Artinya, pengakuan dari komunitas memiliki makna yang jauh lebih besar baginya.

*) Anggota Satupena