May 10, 2026
tes tas

CERPEN
Karya: Ilhamdi Sulaiman

Adrian adalah seorang anak pintar yang lulus SLTA dengan peringkat tertinggi di
sekolahnya. Ia tidak berniat masuk perguruan tinggi karena sangat sadar bahwa
orang tuanya hanyalah pekerja transportasi online dengan penghasilan yang tidak
menentu. Meskipun sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kotanya
mengundangnya untuk masuk dengan beasiswa, ia sama sekali tidak tergiur
menjadi mahasiswa undangan, apalagi jika harus kuliah di luar kota. Ia hanya ingin
bekerja dan membahagiakan orang tuanya yang telah bersusah payah membiayai
hidupnya sejak kecil. Niat tersebut selalu ada dipikirannya saat ini.
Dengan ijazah SLTA, Adrian membuat beberapa surat lamaran yang akan dikirimkan
ke berbagai perusahaan. Pagi hari, setelah salat Subuh dan membantu ibunya
membuka warung makanan di depan rumah, barulah ia pergi tanpa tujuan tertentu
untuk mencari pekerjaan, sambil menunggu panggilan dari perusahaan yang akan
mempekerjakannya.
Cukup lama Adrian menunggu panggilan kerja dari perusahaan yang dilamarnya.
Hampir lima bulan lamanya. Adrian hampir setengah putus asa. Namun, ketika ia
sudah tidak lagi mengharapkan panggilan kerja, pada suatu siang seorang
bapak-bapak datang ke warung ibunya. Bapak itu bertanya tentang sebuah alamat
kepada ibunya sambil menyodorkan amplop bertuliskan alamat tujuan surat
tersebut.
“Maaf, Pak, saya nggak bisa baca, nggak pernah sekolah, maklum dari dulu jadi
orang susah,” ujar ibunya sambil tersenyum menolak membaca amplop itu.
“O, ya, saya bacakan. Adrian, dengan alamat Kampung Sawah Dalam RT 03 RW
04, Srengseng Sawah, Jakarta Barat. Itu alamat tujuan suratnya, Bu,” kata bapak
tua kurir pengantar surat.
“Adrian! Itu mah nama anak saya. Emang surat apaan itu?” tanya ibunya.
“Surat dari perusahaan, panggilan lamaran untuk Adrian menjalani tes hari Rabu
depan, Bu,” jawab bapak kurir tersebut.
Dari pintu warung, ibunya berteriak-teriak memanggil nama anaknya. Adrian yang
sedang di kamarnya membaca surat kabar bekas yang selalu dibawa ibunya dari
warung menjadi santapan matanya setiap hari.
Adrian menoleh ke arah suara, lalu bergegas menemui ibunya yang terus
memanggilnya.
“Ada apa, Bu?” tanya Adrian.
“Ini ada orang mengantar surat, katanya untukmu. Dari anak perusahaan Pertamina.
Apa namanya tadi, Pak?” tanya ibunya kepada pengantar surat itu.
“Pitra Oil, Bu,” jawab bapak kurir dengan fasih.
“O, ya, Pak, saya Adrian. Surat apa, ya, Pak?” tanya Adrian.
“Surat panggilan untuk ikut tes tertulis dan wawancara sehubungan dengan lamaran
yang Anda kirim beberapa bulan yang lalu ke perusahaan,” jawab kurir itu.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak kurir, Adrian membuka dan
membaca surat dalam amplop coklat itu dengan suara agak dikeraskan agar ibunya
pun mendengar isinya.
“Alhamdulillah,” ucap ibunya bersyukur.
“Baru panggilan tes, Bu. Belum tentu juga diterima,” sahut Adrian.
Hari Rabu, Adrian memenuhi panggilan untuk tes dan wawancara. Pagi-pagi sekali,
ia sudah sampai di perusahaan sebelum para karyawan lainnya bekerja. Di sebuah
ruangan, Adrian mengisi jawaban lembaran tertulis dengan sangat hati-hati. Setelah
menyerahkan lembar jawaban, Adrian menghadap seorang pewawancara untuk tes
berikutnya. Ada tujuh pertanyaan yang diajukan pewawancara, dan Adrian
menjawab dengan tenang. Setelah menunggu hasil tes wawancara selama dua jam,
Adrian diminta menghadap ke ruangan HRD perusahaan.
Ibu Melani namanya. Cantik dan masih muda. Kulitnya putih bersih dan senyumnya
ramah kepada Adrian. Wanita cantik itulah kepala HRD yang akan dihadapinya.
“Silakan duduk,” ujar Bu Melani.
“Baik, Bu. Terima kasih,” balas Adrian.
Setelah menanyakan beberapa hal basa-basi agar suasana tidak kaku, Bu Melani
mulai berbicara serius.
“Nilai Anda yang diserahkan penguji tadi cukup memuaskan. Namun, karena ada
ratusan pelamar yang bersaing bersama Anda, tentu kami harus menyeleksi yang
terbaik. Itu yang akan saya lakukan sebagai kepala HRD di perusahaan ini. Mohon
Anda mengerti maksud saya,” jelas Bu Melani sambil memainkan tombol pulpennya,
sehingga percakapan itu terdengar seperti diiringi ilustrasi musik tak tik tak tik.
Adrian hanya mengangguk-angguk, tetapi sebenarnya ia sangat paham makna dari
pembicaraan itu. Diksi yang barusan ia dengar dari Bu Melani adalah diksi yang
sudah sangat umum dalam transaksi terselubung agar tidak tampak ada unsur
pesan di dalamnya.
Lalu Adrian pun berkata, “Baiklah, akan saya usahakan.”
Lanjut Ibu Mila lagi menambah penjelasannya pada Ardian “Saya tidak bisa
mengatakan jumlahnya di sini, sebab Anda tahu, Tim Penguji saja ada tiga orang,
ditambah saya dan sekretaris saya. Anda perkirakan saja,” balas Bu Melani.
“Baiklah. Ada lagi, Bu, yang perlu saya ketahui?”
“Pembicaraan ini hanya antara kita berdua, ya. Tidak perlu banyak yang tahu.”
“Baik, Bu. Permisi. Selamat siang.”
Adrian Tidak gembira bisa diterima bekerja. Namun. Ia malah bingung bagaimana
menjelaskan kepada orang tuanya bahwa ia diterima dengan persyaratan yang
rasanya mustahil ia penuhi dari ayahnya.
Ibu Adrian menunggu anaknya di depan warung. Ia pun gelisah ingin segera
mendengar hasil tes dari Adrian. Sebentar-sebentar ia melihat ke ujung gang
rumahnya.
“Assalamu’alaikum,” sapa Adrian kepada ibunya.
Ibunya tidak membalas salam, langsung menanyakan hasil tes.
“Bagaimana, Nak? Kamu diterima? Kapan mulai bekerja?”
“Belum pasti, Bu, karena ada satu syarat lagi yang harus saya penuhi kalau ingin
diterima,” jawab Adrian lesu.
“Apa lagi sih?” tanya ibunya antusias.
“Ibu masak apa hari ini? Aku lapar. Ada nasi, kan?” Adrian mengalihkan
pembicaraan.
Malam harinya, setelah ayahnya pulang mengojek, mereka bertiga duduk bersama.
Adrian menjelaskan tentang apa yang dikatakan Bu Melani di ruangannya. Wajah
ibunya langsung berubah sedih, sementara ayahnya tertunduk diam menatap lantai
yang sudah retak tak beraturan.
“Ayah akan coba pinjam melalui online. Banyak yang menawarkan pinjaman dengan
bunga lumayan besar, tapi syaratnya tidak berbelit. Sangat mudah,” ujar ayah Adrian
tanpa menatap anak dan istrinya.
“ Ardian tidak mau lagi membebankan Ayah dan Ibu. Tidak usah yah pinjam uang
untuk hal seperti itu. Pinjol itu selain bunganya besar belum tentu ia resmi diakui
pemerintah dan terdaftar pada OJK Sanggah Ardian untuk maksud ayahnya itu.
Seminggu berlalu, uang untuk HRD telah berada di tangan ayahnya Karena tanpa
persetujuan Ardian ayahnya tetap meminjam uang pada pinjaman online yang
ayahnya ajukan. Berat hati Ardian menerima uang tersebut,namun berat hati juga
menolak uang pinjaman itu karena ardian tahu jika menolak uang dari ayahnya
ayahnya akan lebih kecewa lagi.
Pagi sekali, Adrian bergegas mengejar bus kota. Sesampainya di kantor pertamini
ia tidak langsung menemui HRD. Namun Ardian mencari Mushola yang ada di
sekitar kantor untuk melakukan Sholat Dhuha yang memang setiap hari ia lakukan.
Adrian melangkah keluar Mushola dengan lesu. Di pinggir jalan,sambil menunggu
bus untuk kembali pulang Ardian berteriak “BANGSAT AKU TIDAK SUDI
BEKERJA DENGAN CARA SEPERTI ITU” Pandangannya mengarah ke belakang
menghadap kantor yang megah itu.
Sampai dirumah kembali Ardian menghadap ke Ibu Bapaknya. Dengan berani saat
ini ia berkata “ Ini uang dari bapak kemarin Ardian tak ingin menggunakan uang
bapak untuk menyogok Ibu Mila Itu. Biarlah kita hidup sederhana seperti ini. Ardian
tidak mau menjadi calon koruptor nantinya.
Ayah Ibunya tak berkata sepatah pun saat ini.Dimeja makan terletak sebuah koran
Nasional. Dihalaman pertama tertulis Judul berita utamanya yang terbaca oleh
ardian.
SEORANG PEGAWAI PERTAMINI DIDUGA MELAKUKAN KORUPSI TRILIUNAN
RUPIAH.
Masyaallah.
18 Ramadhan 1446