May 2, 2026
rizal tidur

Cerpen: Rizal Tanjung

Di kota kecil yang tertutup kabut kesedihan, hiduplah seorang perempuan bernama Ezra. Ia bukan seorang pujangga, bukan seorang filsuf, tetapi di kepalanya berputar kata-kata yang tak henti-henti berbicara kepadanya. Kata-kata itu datang saat malam semakin pekat, saat ia berbaring di ranjang kayunya yang berderit seperti tulang manusia tua.

Ia ingin tidur. Oh, betapa ia ingin tidur.

Tetapi, seperti yang dikatakan Tolstoy dalam Perang dan Perdamaian, pikiran tergelap mengepungnya setiap kali ia mencoba memejamkan mata.

I

Suatu malam, saat bulan tampak seperti mata orang tua yang murung, Ezra berdiri di depan cermin. Ia menatap wajahnya yang bergetar, lalu berbicara kepada bayangannya sendiri.

Ezra: “Mengapa aku tak bisa tidur? Mengapa pikiranku seperti jalan-jalan sempit di kota yang tak pernah benar-benar sepi?”

Dari sudut cerminnya, suara lain muncul, suara samar yang terdengar seperti dirinya sendiri, tetapi lebih tua, lebih lelah.

Bayangan Ezra: “Karena kau masih hidup, Ezra. Orang yang hidup terlalu banyak berpikir. Kau berharap tidur bisa menjadi dermaga, tempat perahu hatimu berlabuh. Tapi bagaimana mungkin jika ombak kesedihan masih mengamuk?”

Ezra menundukkan kepalanya. Ia ingat kata-kata Dostoevsky, tentang bagaimana seseorang yang menderita hanya ingin tidur.

Ezra: “Jika tidur adalah kapal, mengapa aku tidak bisa berlayar ke sana? Apakah aku telah kehilangan tiketnya?”

Bayangan Ezra: “Mungkin. Atau mungkin kau masih berdiri di dermaga, ragu apakah kau ingin berangkat atau tetap di sini, di dunia yang kau benci tetapi terlalu takut untuk meninggalkannya.”

Ezra mendesah. Ia memejamkan matanya, berharap malam membawanya ke dalam mimpi. Tapi tidak. Tidak ada yang datang.

II

Malam berikutnya, ia berjalan ke rumah seorang perempuan tua bernama Mandeh, seorang wanita yang konon bisa membaca mimpi dan memahami kesedihan manusia.

Mandeh menatap Ezra dengan mata yang seolah tahu segalanya.

Mandeh: “Kau datang kepadaku karena kau tak bisa tidur?”

Ezra: “Ya. Aku ingin tidur. Aku ingin menemukan keheningan yang utuh.”

Mandeh menuangkan teh dari cangkir porselennya, lalu berkata pelan, seperti seseorang yang sedang mengajarkan anak-anak cara membaca dunia.

Mandeh: “Tidur bukan hanya tentang memejamkan mata, Ezra. Tidur adalah perjanjian. Kau harus berdamai dengan kehidupan sebelum bisa menyerah pada kegelapan yang lembut.”

Ezra: “Tapi bagaimana jika hidup adalah sebuah luka? Bagaimana bisa seseorang tidur nyenyak jika hatinya adalah rumah bagi kenangan yang berdarah?”

Mandeh tersenyum.

Mandeh: “Itulah sebabnya nenek Anton Chekhov selalu berkata: ‘Jangan pernah tidur dengan perasaan tertekan, bahkan jika hidup sengsara.’ Tidur bukan hanya tentang menutup mata, tetapi juga tentang membiarkan dunia melepaskan cengkeramannya darimu.”

Ezra menatap cangkir tehnya. Uapnya naik ke udara, seakan membawa segala pertanyaannya ke langit.

Ezra: “Jadi, kau ingin aku berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?”

Mandeh menggeleng.

Mandeh: “Tidak, Ezra. Aku ingin kau menyadari bahwa hidup memang tidak selalu baik-baik saja, tetapi tidur bukanlah sebuah penolakan. Ia adalah ruang di mana kau bisa menata kembali luka-lukamu, seperti seorang pelukis yang mengatur warna di atas kanvas.”

Ezra terdiam. Malam itu, ia kembali ke rumahnya dengan hati yang masih penuh pertanyaan.

III

Hari-hari berlalu, dan Ezra mulai memahami sesuatu. Ia mulai berbicara kepada kesedihannya, bukan untuk melawannya, tetapi untuk memeluknya.

Suatu malam, ia kembali berdiri di depan cermin. Ia menatap lesu, di luar terdengar suara angin yang berbisik di antara dedaunan.

Ezra: “Aku tidak tahu apakah tidur akan membawaku kembali ke kehidupan atau justru mendekatkanku pada kematian. Tetapi mungkin, seperti yang dikatakan Thomas de Quincey, tidur adalah ruang rahasia di mana jiwa perlahan-lahan menyebarkan sayapnya.”

Ia merebahkan tubuhnya, menutup matanya. Kali ini, tidak ada ketakutan. Tidak ada perlawanan.

Dan akhirnya, tidur pun datang.

Padang, 11 Februari 2025.
[20.30, 14/2/2025] laratmasepaulus: Bang, Keren. Abang memang sastrawan yang saya kagumi. Besok saya upload. Minimal