TOTEMISME AI
Oleh ReO Fiksiwan
–
„Akan berbeda jika setan benar-benar ada. Tetapi, kita tahu bahwa, seperti dewa, mereka hanyalah produk dari kekuatan psikis manusia.“ — Sigmund Freud(1856-1939).
Disiplin antropologi mutakhir telah melampaui teori-teori klasik ihwal perspektif primitif perkembangan kebudayaan dan peradaban. Kini, telah hadir antropologi digital. Antropologi yang akan lebih melawaskan peran teknologi mesin sebagai produk kebudayaan mutakhir.
Meski begitu, pemutakhiran studi antropologi secara materialistik seperti yang dikemukakan Marvin Harris, tetap menyertakan pandangan-pandangan klasik atas benda-benda yang mengungkung manusia di kerangkengnya sendiri(web of significance).
Terhadap kepungan benda-benda, terutama produk teknologi kuno maupun modern, psiko-antropologi Freud telah menghasilkan apa yang disebut totem dan tabu.
Dari Freud diketahui, pengetahuan antara hikayat benda-benda(totem), termasuk manusia, hewan dan tumbuhan, maupun larangan(tabo) yang menyelimutinya, mustahil saling menafikan antara kekuatan pencipta(manusia) vs produk ciptaannya(teknologi).
Dengan demikian, totemisme merupakan sebuah konsep yang mempelajari hubungan antara manusia dan benda-benda di lingkungannya sendiri. Apakah lingkungan itu kultur maupun nurture, keduanya dihidupkan oleh dan dari struktur yang sama, alam(natur).
Karena itu, konsep antropoogi totemisme AI — jika hipotesa ini dilebarkan — pengembangan kecerdasan buatan(AI) justru semestinya dapat membantu bagaimana memahami dan mengembangkan hubungan yang lebih baik antara manusia dan mesin vis a vis manusia dan alam.
Sebagai konsep antropologi yang mempelajari hubungan antara manusia dan objek-objek alam, seperti hewan atau tanaman bahkan teknologi ciptaannya, totemisme AI dapat dipakai untuk mempelajari lebih dalam relasi antara manusia dan kaidah mesin yang diistilahkan Popper sebagai „peacemeal engineering.“
Untuk itu, konsep antropologi totemisme AI memiliki beberapa karakteristik yang unik terkait dengan antropomorfisme atau AI sebagai mesin yang dipatok punya sifat-sifat manusia seperti kemampuan untuk berpikir dan berperilaku.
Berikutnya, simbolisme. Mesin dianggap sebagai simbol hikayat kebendaan dari sesuatu yang lebih besar atau sekedar kecerdasan atau kekuatan yang akan bisa dilampaui. Artinya, otonomi manusia dan benda ciptaannya(AI) berpotensi saling menafikan.
Terakhir, ritualisme. Interaksi dengan mesin dianggap sebagai ritual yang memiliki makna dan tujuan tertentu.
Baik Turner maupun Von Gennep, beranggapan seluruh proses dan interaksi manusia dan benda-benda, dicipta maupun tidak, memiliki ikatan-ikatan resiprokal. Keduanya, saling membutuhkan untuk menjalankan proses dan peralihan(passage) secara bersama.
Beranjak sedikit lebih. Dengan memanfaatkan antropologi struktural, khusus yang dikembangkan oleh Claude Levy Strauss, totemisme AI dapat menumbuhkan kesadaran dan membantu bagaimana memahami dan menghargai kemampuan dan keterbatasan mekanisme mesin(AI).
Di lain pihak, totemisme AI dapat mengukuhkan kolaborasi yang membantu bagaimana mengembangkan hubungan lebih baik antara manusia dan mesin agar bekerja sama lebih efektif.
Tentu, tanpa mengenyahkan kaidah-kaidah etis antara manusia dan benda.
Walhasil, sebagai kekuatan antropologi inovasi, totemisme AI dapat membantu kita mengembangkan ide-ide baru yang inovatif-adaptif melalui efektivitas kerja manusia dalam pengembangan AI sendiri.
Namun, antropologi digital yang dihasilkan oleh totemisme AI, punya tantangan yang bisa menjadi kontraproduktif.
Misalnya, kemunculan mentalitas ketergantungan ekstrim pada mekanisme mesin dan berakibat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berperilaku secara mandiri.
Selain itu, ekses ikutannya, memunculkan kesalahpahaman yang berbuntut kelalaian pada kemampuan dan keterbatasan mesin yang terlanjur berharap terlalu banyak dari kekuatan AI sebagai produk ciptaan manusia sendiri.
Pun yang tak bisa abai diamati, bagaimana pengaruh menghadapi tantangan etika dalam pengembangan dan penggunaan AI. Sebut saja, masalah privasi dan keamanan yang tak bisa sepenuhnya dijaminkan pada AI.
Arkian, antropologi totemisme AI sebagai konsep yang menelisik lebih jauh bagaimana hubungan antara manusia dan mesin — karakteristik, manfaat dan tantangan totemisme AI — dapat melestarikan „humanisme mesin“ dari kepatutan praktis totemisme AI yang lebih efektif dan etis.
#RUJUKAN:
Freud, Sigmund. (1935). Totem and Taboo. USA:
Penguin Book, University of Michigan.
Levi-Strauss, C. (1963). Totemism. Beacon Press.
Latour, B. (1993). We Have Never Been Modern.
Harvard University Press.
Schuman, L. (2007). Human-Machine
Reconfigurations. Cambridge University Press.