Oleh Leni Marlina
–
Ketika dihadapkan pada sebuah judul setegas An Encounter with Death—sebuah pengakuan yang hampir bersifat deklaratif—pembaca mungkin tergoda untuk mengantisipasi dua kemungkinan: melodrama atau kemuraman yang berlarut. Namun, kumpulan puisi tunggal terbaru Dr. Bhawani Shankar Nial justru menghindari kedua kecenderungan tersebut dengan ketenangan yang mengejutkan. Puisi-puisinya tidak mendramatisasi kematian, melainkan memperlakukannya sebagai sosok pendamping—seorang sahabat dialog, bukan lawan. Yang hadir di dalam buku ini bukanlah pertarungan dengan kematian, melainkan serangkaian percakapan panjang, kadang menyimpang, kadang terhenti dalam hening, yang berlangsung di ruang batin yang temaram.
Sensibilitas puitik Nial jelas berakar pada humanisme, meski bukan humanisme heroik ala Pencerahan. Humanismenya lembut, rapuh, dan kontemplatif—sebuah humanisme yang mengakui kerinduan, kebimbangan, doa, dan kegelisahan sebagai bagian sah dari kerja intelektual. Baginya, yang lebih menarik bukanlah kematian itu sendiri, melainkan penataan ulang batin yang harus dilakukan manusia untuk hidup berdampingan dengan kesadaran akan keniscayaannya. Rekalibrasi spiritual, emosional, dan intelektual ini hadir berulang-ulang: kadang sebagai bisikan doa, kadang sebagai teguran halus kepada diri sendiri. Keinginan Nial untuk mengalami methexis—sebuah partisipasi dengan yang abadi—bukan datang sebagai klaim teologis, tetapi sebagai aspirasi personal yang dibisikkan perlahan kepada pembaca yang bersedia mendengar.
Secara estetik, puisi-puisi dalam buku ini bergerak bebas antara sajak bebas dan prosa puitik yang bercahaya, seolah sang penyair enggan memberikan otoritas mutlak kepada ritme atau struktur untuk mengunci makna. Keluwesan ini justru menjadi daya tarik. Setiap bait terasa seperti sedang mencari jalannya sendiri, berjalan setapak demi setapak, menolak penyelesaian cepat, dan mengizinkan kontradiksi untuk tetap berdampingan. Keraguan-keraguan kecil itu bukan kelemahan—melainkan denyut yang menghidupi keseluruhan koleksi ini. Nial tampaknya tidak hanya sedang menulis tentang kematian; ia menulis dalam kehadirannya—dan puisi-puisinya memikul jejak kedekatan yang sunyi namun terasa.
Arus bawah sosial dalam kumpulan ini pun mencolok. Meski sering dianggap sebagai penyair yang berorientasi ke dalam, buku ini justru mengungkap kepekaan mendalam terhadap luka-luka sosial dan sejarah tanah kelahirannya—beban panjang yang ia rasa belum juga terangkat. Puisi-puisi yang menyinggung penderitaan kolektif tidak tampil dengan retorika protes ataupun nostalgia. Sebaliknya, ia bergerak seperti elegi yang direntangkan di atas lanskap sosial—di mana duka personal berpadu halus dengan keresahan komunal. Kesederhanaan nada ini—sendu namun tidak melebih-lebihkan—membiarkan spiritualitas dalam puisi-puisinya tumbuh secara organik, tanpa paksaan.
Benang merah lain yang kerap muncul adalah gagasan tentang kemungkinan keberadaan suatu kehidupan lain—lebih tenang, lebih jernih, lebih adil—yang bernafas di balik kehidupan kini. Kehidupan alternatif itu tidak pernah digambarkan secara dogmatis; Nial terlalu berhati-hati untuk itu. Ia hanya hadir sebagai siluet, cahaya tipis di tepi penglihatan. Dalam bingkai inilah kritiknya terhadap “kejayaan yang sia-sia” menjadi tajam. Ia mengingatkan bahwa ambisi duniawi, bila tidak dipahami dengan jernih, mudah menjadi fatamorgana. Bagi Nial, waktu adalah satu-satunya mata uang sejati—dan ia terkikis tanpa ampun. Keengganannya mempercayai kemenangan duniawi bukanlah sikap moralistis, melainkan pengalaman eksistensial yang diwujudkan dalam citraan pasir yang jatuh, hilang, tak dapat digenggam.
Keunikan lain yang membedakan Nial adalah posisi kulturalnya yang berada di antara dua dunia. Puisinya memadukan tradisi spiritual Timur dan kerangka intelektual Barat tanpa memaksakan keduanya untuk menyatu sepenuhnya. Ia membiarkan keduanya duduk berdampingan—kadang bersilang, kadang sekadar koeksis. Dari ruang pertemuan sunyi inilah muncul kesan universalitas—perasaan bahwa ia sedang menulis dari titik tempat akar budaya yang berbeda saling menyentuh dan berbagi air kehidupan yang sama di kedalaman.
Kekuatan utama buku “An Encounter with Death” terletak pada keluasan kontemplasinya: keberaniannya tinggal di wilayah ambiguitas, ketulusannya untuk tidak menyederhanakan apa yang memang rumit, serta kebijaksanaannya dalam melihat kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai lensa yang membuat bagian-bagian kehidupan memantulkan cahaya baru. Kesenangan membaca buku ini—jika “kesenangan” adalah kata yang tepat—muncul dari pengalaman menemani sebuah pikiran yang berpikir dengan jujur di bawah bayang-bayang keniscayaan, dan menemukan—di tengah bayangan itu—cahaya yang tidak disangka-sangka.
(LM, Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025)
—-

Tentang Penyair: Dr. Bhawani Shankar Nial
Dr. Bhawani Shankar Nial adalah penyair berkelas internasional yang bermukim di Sriradha, Bhawanipatna, India.
Selain buku puisinya Lockdown, karya-karya Dr. Nial telah diterjemahkan ke lebih dari 24 bahasa di berbagai belahan dunia. Atas kontribusinya dalam dunia literasi, ia dianugerahi gelar Global Literary Figure pada perhelatan Kalahandi Utsav Ghumura 2025. Puisi-puisinya menjembatani kebudayaan dan menginspirasi pembaca lintas negara.
—
Tentang Penulis Ulasan: Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen Sastra Inggris di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Sejak 2006, ia mengabdikan diri pada dunia sastra, pedagogi, dan pengembangan imajinasi kritis.
Perjalanan kepenyairannya dimulai pada tahun 2000. Sejak itu ia menghasilkan karya yang menggambarkan pergulatan batin, kontemplasi mendalam, kepekaan ekologis dan sosial, renungan humanistik, serta kerinduan akan kedamaian. Saat menempuh studi Master Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia memelihara kedekatannya yang intens dengan dunia penulisan—menjadikan puisi sebagai ruang hening untuk mempertajam kesadaran dan memurnikan jiwa. Sejak 2024, ia membuka “samudra katanya” kepada pembaca global melalui berbagai platform digital.
Karya terbarunya meliputi The Beloved Teachers (2025), L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025)—karya-karya yang memadukan dedikasi, kepekaan bahasa, etika, dan vitalitas kemanusiaan. Selain puisi, ia menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan buku, serta menerjemahkan karya sastra maupun jurnalistik. Karyanya telah dimuat dalam berbagai antologi dan media literasi digital. Ia juga aktif dalam jaringan literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah komunitas yang merespons dinamika literasi di era digital.
Sebagai pendiri dan ketua berbagai gerakan literasi—antara lain Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C—ia terus menghubungkan berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdialog, dan merenung secara berkelanjutan.
Atas kontribusinya dalam dunia literasi, ia meraih penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat dalam ajang International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Versi bahasa Inggris dari ulasan di atas tersedia di link official berikut: